Liputan6.com, Jakarta- Sebanyak 59 orang masih terjebak di balik puing-puing bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Bangunan itu ambruk pada Senin (29/9/2025) ketika salat Ashar.
Tim SAR gabungan terus bergerak untuk menyelamatkan korban. Fokus utama saat ini adalah memanfaatkan golden time atau waktu krusial setelah kejadian untuk menyelamatkan korban yang masih dalam kondisi hidup.
Pakar Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama menegaskan bahwa 72 jam pertama usai bencana merupakan golden time atau waktu emas dalam upaya penyelamatan korban tertimpa reruntuhan. Dalam periode ini, setiap detik sangat menentukan antara hidup dan kematian.
Advertisement
“24 Jam pertama adalah yang paling krusial. Di fase ini, korban umumnya masih bisa bertahan karena pasokan oksigen masih mencukupi,” ujar dr. Ngabila kepada Liputan6.com, Kamis (2/10/2025).
Memasuki hari kedua dan ketiga, peluang masih terbuka, terutama bagi korban yang terperangkap di ruang sempit namun aman, atau memiliki akses terhadap air.
Namun, begitu melewati hari ketiga, kondisi mulai kritis. “Setelah 72 jam, risiko kematian meningkat tajam akibat kehabisan oksigen, dehidrasi, infeksi, atau luka serius yang tak tertangani,” jelasnya.
Meski begitu, dia menyebut masih ada kemungkinan korban selamat meski sudah lebih dari lima hingga tujuh hari. “Itu sangat bergantung pada faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, ketersediaan ruang udara, dan sedikit air,” ujarnya.
Faktor Medis Penentu Korban Bisa Bertahan
Ngabila mengungkap sejumlah faktor medis yang bisa menentukan berapa lama korban mampu bertahan hidup di bawah reruntuhan bangunan.
Pertama, ruang udara atau air pocket. Korban yang terperangkap di celah sempit seperti bawah meja, sudut tembok, atau di antara kayu masih bisa mendapat suplai oksigen.
“Tanpa oksigen, korban hanya bisa bertahan dalam hitungan menit hingga jam,” ujarnya
Kedua, kecukupan cairan. Tubuh manusia dapat bertahan tanpa makanan selama beberapa hari, tetapi tanpa air, peluang hidup menurun drastis.
Ketiga, cedera fisik. Semakin ringan cedera, semakin besar peluang bertahan. Namun korban dengan luka parah atau trauma berat sangat bergantung pada kecepatan evakuasi.
“Crush injury juga berbahaya. Korban bisa tampak stabil, tapi setelah dievakuasi justru bisa meninggal karena sindrom keracunan otot,” jelasnya.
Keempat, anak dan kondisi kesehatan. Anak-anak dan lansia cenderung lebih rentan. Sebaliknya, orang dewasa sehat lebih kuat bertahan, terutama jika tidak memiliki penyakit bawaan seperti jantung atau diabetes.
Kelima, suhu lingkungan. Suhu sejuk bisa memperlambat metabolisme dan menjaga cairan tubuh, sementara suhu panas mempercepat dehidrasi dan memperpendek waktu bertahan.
Terakhir, mental dan psikologis. Ngabila mengatakan, kondisi mental sangat menentukan apakah korban bisa bertahan hidup lebih lama atau sebaliknya.
"Korban yang panik menghabiskan oksigen lebih cepat, sedangkan yang tenang dan hemat energi punya peluang lebih besar bertahan hidup,” tambah Ngabila.
Advertisement
Proses Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Kepala Basarnas Mohammad Syafii meminta masyarakat dan pihak-pihak di luar tim SAR gabungan untuk mengosongkan area reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, guna menjaga konsentrasi dan efektivitas operasi penyelamatan.
“Bukan berarti kami tidak ingin masyarakat atau media melihat langsung, tetapi karena kami sedang menggunakan teknologi pendeteksi korban hidup, maka area harus clear agar alat dapat bekerja optimal,” katanya.
Syafii menjelaskan bahwa penanganan operasi SAR dilakukan dengan metode khusus, karena struktur bangunan runtuh berbentuk “pancake collapse”, yakni tumpukan material beton yang saling menindih.
Basarnas selaku kepala operasi mengerahkan 379 personel dari 65 instansi yang tergabung dalam operasi SAR gabungan.
Untuk mendeteksi korban, Basarnas menggunakan peralatan modern, seperti drone thermal, detektor suhu tubuh, dan sistem pencarian berbasis teknologi.
Namun, dia mengakui kondisi lapangan sangat menantang. Struktur bangunan yang rapuh, getaran kecil, dan galian sempit selebar 60 sentimeter menjadi kendala utama. Selain itu, reruntuhan berasal dari fondasi lama yang berpotensi longsor saat digali.
“Lalu, kalau terlalu banyak orang di lokasi, alat-alat ini tidak bisa bekerja dengan baik,” ujarnya.
Syafii menegaskan operasi pencarian dan penyelamatan masih berfokus pada mengejar golden time 72 jam, periode krusial untuk menyelamatkan korban dalam kondisi hidup.
Pada saat berita ini dinaikkan, sudah 70 jam para korban tertimbun reruntuhan. Sejauh ini, sebanyak 59 orang belum berhasil diselamatkan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5366847/original/046657100_1759291762-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)