MRT Jakarta Dorong Model Bisnis TOD Adaptif dan Berorientasi Pelayanan

Farchad menjelaskan, salah satu pendekatan diterapkan pihanya adalah dengan memberikan ruang usaha yang terjangkau bagi pelaku UMKM.

Diperbarui 07 Agustus 2025, 20:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT MRT Jakarta (Perseroda) terus mengembangkan pendekatan bisnis berbasis kawasan Transit Oriented Development atau TOD. Menurut Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Mahfud, TOD dikembangkan tidak hanya berfokus pada tempat pertemuan antar moda transportasi, tetapi juga menciptakan ruang publik yang hidup dan multifungsi.

"Pengembangan usaha di area TOD kini telah meluas dari sekadar ruang ritel di stasiun, menjadi ekosistem bisnis yang terintegrasi," kata Farchad kepada awak media di Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Farchad mengakui, awalnya TOD memang terbatas hanya pada untuk area komersial saja di stasiun MRT. Namun seiring pengembangan bisnis, pihaknya juga hingga di luar stasiun, seperti di Gedung Transporthub yang berada di Dukuh Atas. 

"Ini merupakan bagian dari strategi kami membentuk kawasan TOD yang lebih berdaya guna,” jelas Farchad.

Farchad menjelaskan, salah satu pendekatan diterapkan pihanya adalah dengan memberikan ruang usaha yang terjangkau bagi pelaku UMKM. Dia memastikan, MRT Jakarta tidak membedakan mereka berdasarkan kedikenalan brand untuk mengisi ruang usaha di kawasan TOD.

"Selama bisa memenuhi standar kurasi yang ditetapkan oleh MRT Jakarta misal untuk makanan, kami pastikan rasanya enak, sehat, dan tidak monoton. Tidak bisa satu stasiun isinya jualan lemper semua. Harus ada variasi, ini penting untuk kenyamanan pelanggan,” contoh Farchad.

 

Tujuan Mengkurasi Tenan di TOD

Farchad mengungkap, tujuan dilakukannya kurasi adalah demi menciptakan tenancy mix yang ideal dan tidak membosankan. Karenanya, harus ada pembedaan model bisnis antar kawasan TOD. 

"Tidak semua TOD diisi oleh bisnis yang itu-itu saja. Harus ada keseimbangan antara layanan kebutuhan harian, hiburan, dan fungsi sosial lainnya agar TOD benar-benar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat urban yang beragam," ungkapnya.

Farchad menegaskan, MRT Jakarta harus cermat dalam mengelola percampuran bisnis pengisi TOD. Dia membayangkan, dalam satu stasiun bisa ada apotek, salon, barbershop, hingga toko penjual kebutuhan sehari-hari. 

"Ini semua dirancang agar pengguna MRT, bisa memenuhi kebutuhan pria maupun wanita. Mereka bisa menemukan apa yang dibutuhkan tanpa harus keluar jauh dari jalur perjalanan mereka,” harap dia.

 

Kosep Adaptif dalam Membangunan TOD

Farchad optimis, model bisnis TOD yang dibangun MRT Jakarta akan diarahkan pada strategi jangka panjang yang adaptif dan kontekstual. Karena itu, saat ini pihaknya masih terus berproses dalam menyempurnakan dan mengembangkan di beberapa area.

Meski pun demikian, Farchad menegaskan arah kebijakan TOD sudah jelas yaitu mengedepankan pelayanan publik yang praktis dan humanis. Dia mencontohkan, salah satu visi besar MRT Jakarta ke depan adalah menghadirkan layanan seperti daycare di area stasiun. Hal ini dinilai krusial bagi para ibu pekerja yang setiap pagi harus membawa anak, namun membutuhkan tempat yang aman dan nyaman selama mereka bekerja.

“Bayangkan kalau seorang ibu bisa menaruh anaknya di tempat penitipan yang ada di stasiun sebelum berangkat kerja. Ini bagian dari visi MRT Jakarta, yaitu improving life quality atau memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui transportasi yang terintegrasi dan mendukung kehidupan harian,” dia memungkasi.

Sebagai informasi, dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, keberagaman layanan, dan kurasi bisnis yang ketat, MRT Jakarta berharap TOD tidak hanya menjadi pusat perpindahan orang, tapi juga pusat pertumbuhan ekonomi dan pelayanan urban yang ramah bagi semua kalangan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6