Tawuran di Jakarta Marak, Ini Analisis Psikolog Klinis

Psikolog klinis Rini Hapsari Santosa ikut memberikan pandangannya terkait kasus tawuran yang belakangan marak di Jakarta.

Diterbitkan 14 Mei 2025, 23:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Psikolog klinis Rini Hapsari Santosa ikut memberikan pandangannya terkait kasus tawuran yang belakangan marak di Jakarta.

Menurut dia, tawuran terjadi bukan hanya bentuk pelampiasan emosi remaja.

Di banyak kasus, motivasi dibalik perilaku itu jauh lebih kompleks seperti jalan pintas remaja untuk pencarian identitas dan mendapatkan pengakuan di lingkungannya.

"Saat remaja, anak mulai fokus pada penerimaan lingkungan terutama yang umurnya sebaya (teman). Kalau seseorang tumbuh di lingkungan atau sekolah yang sering tawuran ada kemungkinan ia terdorong untuk konform dengan lingkungannya," ujar dia saat dihubungi, Rabu (14/5/2025).

Dalam banyak kasus, kelompok menjadi sandaran identitas. Ketika kekerasan menjadi bahasa yang digunakan untuk menunjukkan loyalitas dan eksistensi, maka keterlibatan dalam tawuran terlebih di Jakarta bisa menjadi semacam tiket masuknya.

"Biasa dalam tawuran ada kelompok-kelompok. Terbangun sense of belonging di dalamnya atas nama sekolah /geng, dan sebagainya. Di momen itu penting bagi remaja untuk merasa diterima/menjadi bagian dalam kelompok tempat ia berada," ujar dia.

 

Ketidakhadiran Bimbingan Orang Dewasa

Pada titik ini, dia menjelaskan ketidakhadiran bimbingan orang dewasa menjadi celah yang berbahaya.

Bukan tanpa alasan, pengaruh kelompok sebaya sangat besar dalam membentuk persepsi remaja terhadap kekerasan. Saat kekerasan menjadi bahasa sehari-hari dalam lingkungan sosial, maka itulah yang dianggap sebagai normal.

"Besar sekali (peran teman sebaya), karena remaja fokusnya di teman sebaya. Kalau lingkungan sekitar penuh kekerasan maka terbentuk realitas bahwa begitulah hidup yang normal/keren/eksis, dan sebagainya," ujar dia.

Selain itu, kemajuan teknologi digital juga ikut berperan memperluas ruang ekspresi remaja, termasuk dalam menyebarluaskan kekerasan. Aksi tawuran tak lagi berlangsung diam-diam, tetapi direkam, dibagikan, bahkan dipamerkan di media sosial.

"Pada dasarnya dunia maya memperluas realitas tempat kita hidup. Jadi sarana mendokumentasikan, menyebarkan, dan sekaligus mendapat pengakuan. Di sisi lain konten kekerasan yang viral juga sering kali menarik perhatian berbagai pihak sehingga banyak juga yang mengkritik. Konten dapat dijadikan bukti tindak kekerasan," ujar dia.

 

Pentingnya Pedekatan Preventif

Rini menggarisbawahi pentingnya pendekatan preventif. Remaja, kata dia, adalah kelompok usia dengan energi sangat besar.

Jika tidak diberi ruang yang positif dan bermakna, energi itu bisa tumpah dalam bentuk negatif.

"Misalnya ada kegiatan sekolah, lalu olahraga, kumpul bermain musik, organisasi, dan sebagainya. Kegiatan itu yang memberi tujuan sekaligus makna dalam keseharian mereka," ujar dia.

Dia mengatakan, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi krusial dalam membentuk ruang aman tempat remaja tumbuh. Jika mereka punya terlalu banyak waktu luang, akses informasi yang tak terbatas, dan minim bimbingan, maka risiko mereka terpapar kekerasan akan meningkat.

"Usia remaja masih membutuhkan bimbingan orang dewasa karena otaknya belum sepenuhnya matang untuk menilai dan memilah situasi. Dalam hal ini kegiatan juga bisa dilakukan secara kolektif di sekolah / lingkungan sebagai komunitas," tandas dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6