Mimpi Jakarta Bebas Tawuran, Faktor Ekonomi Jadi Akar Masalah

Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Rissalwan Habdy Lubis menegaskan, tawuran adalah fenomena sosial yang tidak akan pernah hilang di muka bumi. Bagaimana strategi menanganinya?

Diterbitkan 13 Mei 2025, 21:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rizal, pria paruh baya yang tinggal di Jakarta Utara. Tepatnya di Warakas, sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tanjung Priok, mengaku sudah tidak asing dengan tawuran.  Tawuran dinilai sebagai pemandangan lumrah di tempat tinggalnya. Umumnya dalam waktu satu tahun pasti insiden tersebut muncul, bisa 2 hingga 3 kali.

Rizal paling ingat, kala itu tahun 2023, dirinya sedang begadang untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun suara teriakan dari luar memecah keheningan malam. Saat dia mengintip dari balik jendela,  tampak dua kelompok sedang tawuran.

"Jadi ceritanya tuh 2023, gue ngelihat langsung. Jadi emang remaja kampung sekitar gitu, kampung gue di kelurahan Warakas itu. Kemungkinan sih asumsinya remaja kampung tetangga, karena emang sebelahan gitu batas kampungnya. Nah itu kejadian tuh malem lewat jam 12. Hampir jam 2 jam atau 3 pagi gue lupa persisnya, Jadi itu kan gue lihat karena rumah gue bukan yang di komplek gitu, masih rumah dari jaman baheula wilayah suburban lah," kata Rizal saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (13/5/2025).

Rizal mengaku ngeri, karena apa yang biasa muncul di konten sosial media ada di depan matanya. Hal dikhawatirkan, adalah jika rumahnya menjadi sasaran tawuran. Walau tertutup pagar, tapi tidak menutup kemungkinan adanya lemparan batu nyasar yang bisa mengenai kendaraan pribadinya.

"Ngeri kalau ada batu masuk ke pagar, terus ya ngeri juga kena kaca. Tetangga juga pada ngeri. Kalau ada kekerasan itu ngerembet kemana-mana," keluh dia.

Namun langkah cepat langsung Rizal lakukan dengan menghubungi kontak darurat di grup RT-RW dan polsek terdekat. 

"Jadi  kejadian tawurannya itu 10-20 menit, gue langsung Whatsapp di RT. Gue telpon polseknya tuh, polsek Tanjung Priok," ungkap dia.

Walau terus berulang setiap tahunnya, Rizal masih berharap tawuran bisa benar-benar hilang dan tidak adalagi, baik di tempat tinggalnya atau pun di wilayah Jakarta lainnya.

Dia pun mendorong para remaja yang suka terlibat tawuran bisa diberdayakan melalui kegiatan positif.

"Mungkin bisa lewat karang taruna, komunitas atau pun patroli yang lebih rutin agar tidak ada ruang untuk mereka bertemu untuk tawuran," harap dia.

 

Tawuran, Fenomena Sosial yang Abadi

Menanggapi situasi tawuran antar kelompok yang umumnya didominasi kelompok remaja, Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Rissalwan Habdy Lubis menegaskan, tawuran adalah fenomena sosial yang tidak akan pernah hilang di muka bumi.

"Dalam setiap wawancara tentang tawuran, saya akan bilang ini nggak akan pernah hilang dari muka bumi. Kenapa? Karena akar masalahnya adalah anak muda. Ini dalam psikologi sosial, energi mereka tuh tumpah ruah, jadi di usia belasan sampai dengan 20-an awal ya, itu memang energinya. Jadi mereka tuh ingin pengakuan, ingin terlihat dan sebagainya. Cuma berbeda ya, di awal-awal mereka tuh nggak berani tampil sendiri. Makanya mereka nge-gang, nge-group," kata Rissalwan saat dihubungi Liputan6.com melalui sambungan telepon.

Sejatinya, sambung dia, energi berlebih dari remaja bisa disiasati dengan menggeser kegiatan tawuran dengan sebuah kompetisi seperti olahraga. Sebab sejatinya, tawuran adalah duel dua kelompok yang ingin menunjukkan siapa yang paling hebat agar mendapat pengakuan, sama seperti pertandingan olahraga.

Namun Rissalwan mengamini, tidak semua wilayah di Jakarta memiliki fasilitas pendukung yang baik sebagai tempat menyalurkan energi berlebih melalui olahraga. Beda dengan remaja yang tinggal di kompleks atau wilayah elit. Maka tidak heran, mengapa tawuran umumnya muncul dari mereka yang tinggal di rumah-rumah padat penduduk.  

"Saya kira sangat jelas hubungannya, bagi orang-orang yang menengah ke atas, cara mereka mengekspresikan diri, itu kan sudah jelas. Interaksi mereka juga sudah jelas. Mereka tak butuh ke pengakuan lagi dari orang banyak," jelas Rissalwan.

 

Media Sosial Picu Validasi Semu Lewat Like dan Komen

Rissalwan menambahkan, hadirnya era media sosial membuktikan bahwa dunia maya saat ini adalah ajang pengakuan. Karenanya, semakin sering tawuran maka jumlah like dan komen yang mereka dapat akan menjadi validasi. 

"Cara mereka menunjukkan keunggulan itu dengan menjadi lebih ekstrem supaya mendapatkan perhatian, supaya mendapat like, supaya viral, itu harus ekstrem. Tapi orang yang kaya tidak, mereka tidak perlu memarkan kekayaan. Tapi buat kaum mendang-mending aksi tawuran saja yang bisa membuat mereka diakui," nilai Rissalwan.

Kembali ke esensi kompetisi, Rissalwan meyakini para pihak terlibat tawuran lebih melakukanya untuk kebutuhan dunia maya alias konten. Sebab saat diperhatikan, aksi membawa sejata tajam (sajam) tidak lebih dari sekedar cara menarik like dan komen.

"Bahkan bisa jadi mereka sebetulnya nggak berani tawuran. Kalau zaman sekarang ini, saya menduga, ada beberapa kelompok nggak berani tawuran. Mereka cuma bawa sajam untuk nakutin publik di jalanan, gitu. Untuk melihatkan bahwa mereka unggul itu," kata Rissalwan. 

"Coba bayangkan, sajam satu setengah meter, apa bisa diayunkan sih? Kalaupun diayunkan, emang bisa terpat sasaran? Jadi, itu namanya bluffing effect ya," imbuh Rissalwan.

Urai Penyebab dan Jakarta Terbebas Tawuran

Rissalwan menegaskan, bukan cara mudah mengatur sikap dan tenaga remaja berusia belasan. Bahkan mereka yang sudah memasuki usia 20 tahun pun bisa ikut dalam aksi tawuran. Penyebabnya, energi berlebih dan tidak tersalurkan, biasanya tidak memiliki pekerjaan tetap dan menganggur.

Selain menyediakan peluang kerja, Rissalwan mendorong peran orang tua di rumah, pendidik di sekolah dan warga atau komunitas di tempat tinggal dapat berkontribusi lebih efektif. Karena salah pola asuh, dapat membuat remaja tersebut berontak. 

"Anak muda itu individu yang masih bergantung pada sistem-sistem di luarnya, seperti orang tua dan kelompok sosial tempat dia tinggal. Jadi, nggak bisa disalahkan anak mudanya aja. Jadi yang benar, semua menjadi tanggungjawab bersama orang-orang di sekelilingnya, orang tua, sekolah, atau tokoh-tokoh di dekat rumah. PR besar untuk kita mengedukasi, terutama dari orang tua," pesan dosen sosiolog Universitas Indinesia ini.

 

Gerakan Bersholawat Wacana Baru Pemprov Jakarta Solusi Stop Tawuran

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengamini, kondisi kotanya tidak baik-baik saja. Tawuran berulang membuatnya berpikir keras mengapa hal itu selalu terjadi, bahkan dalam frekuensi dua sampai tiga kali sepekan di lokasi yang sama.

Pramono lantas akan membuat percontohan, di daerah Manggarai, Jakarta Selatan. Dirinya hendak menggelar gerakan 'Manggarai Bersholawat' dengan merangkul semua pihak terlibat duduk bersama dan mencari jalan keluar dari yang sering menjadi pemicu tawuran.

"Saya akan mengagas apa yang dinamakan Manggarai Bersolawat. Saya akan undang kelompok-kelompok yang bertikai di sana. Ada RW 4, RW 5, RW berapa begitu. Duduk bareng, apa sih akar permasalahan yang sebenarnya? Karena gak bisa hanya menyalahkan saja," kata Pramono saat ditemui di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat, Selasa (13/5/2025).

Pramono menjelaskan, cara Manggarai bersholawat adalah salah satu contoh. Nantinya, di wilayah lain yang terjadi tawuran akan menggunakan pendekatan berbeda dengan menyesuaikan karakter masing-masing.

"Ya ini (Manggarai Bersholawat) kan baru contoh saja. Tentunya yang lain ada (cara berbeda)," ujar dia.

Saat ditanya apakah mungkin Jakarta bisa bebas dari tawuran, Pramono menyatakan dirinya akan bertanggung jawab penuh kepada seluruh warganya. Karena itu, dia akan mengurai akar masalah dari tawuran yang diyakini bersumber dari kesulitan ekonomi yang dipicu tidak punya pekerjaan tetap. 

"Secara substansi, karena saya sudah mempelajari, salah satu faktor adalah ketidakberuntungan banyak anak-anak di sana mohon maaf belum punya pekerjaan tetap," ungkap Pramono.

"Pokoknya saya bertanggung jawab terhadap warga Jakarta untuk memperbaiki itu," janji dia.

Infografis

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6