Sukses

Imparsial: Pertangungjawaban Tragedi Kanjuruhan Jangan Hanya Dibebankan pada Level Bawah

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Imparsial, Hussein Ahmad, mengatakan, evaluasi secara menyeluruh pada institusi Polri dan TNI dinilai penting untuk mengungkap Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Hussein menyoroti perihal penggunaan gas air mata harus ada pertanggungjawaban di hapadan hukum.

"Informasi terakhir, Kapolres dan beberapa Komandan di Brimob dicopot itu tidak boleh berhenti sampai di situ, di mutasi tidak menghapuskan pertanggungjawaban pidana mereka," kata Husein seperti dikutip dalam akun youtube Yayasan LBH Indonesia, Rabu (5/10/2022).

Huseein menyampaikan, penembakan gas air mata diduga atas perintah atau seizin atasan. Kalau pun inisiatif sendiri, kata dia, seharusnya dapat dicegah.

"Tidak mungkin tidak perintah dari atasan atau tidaklah mungkin tidak ada izin dari atasan ketika mereka melakukan penembakan. Kalaupun mereka bertindak sendiri, kenapa kemudian dibiarkan dalam konteks itu saja, itu salah adanya pembiayaran," ujar dia.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Gas Air Mata

Hussein mengatakan, penggunaan gas air mata dinilai menjadi salah satu faktor pemicu jatuhnya korban jiwa saat tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

"Orang itu tidak meninggal dunia karena tiba-tiba serangan jantung begitu, tetapi ada namanya proses yang mendahuluinya sebelumnya pertama kan adalah ada ditembakannya gas air mata," ujar dia.

Dalam hal ini, Hussein turut merespons pernyataan salah satu pengamat yang menyalahkan Aremania karena bersikap Arogan dengan turun ke lapangan. Menurut dia, hal itu tidak bisa dibenarkan.

"Kalau memang turun ke lapangan adalah satu pelanggaran tangkap saja enggak boleh dipukul, enggak boleh dipentung ini apalagi di tembakan gas air mata sampai ke tribun penonton," ujar dia.

Karenanya, harus ada pertanggungjawaban terhadap Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Menurut dia, tidak hanya pada tingkat bawah, tapi juga di level atas. Apalagi, Informasi yang diterima, pada setiap pintu ditempatkan Kapolsek.

"Kalau memang benar kenapa dibiarkan pintu dikunci," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Harus Evaluasi

Hussein juga menyoroti pernyataan Kapolda Jawa Timur ihwal penggunaan gas air mata yang disebut telah sesuai SOP. Sepengetahuannya, dalam pengendalian massa ada gradasi atau situasi dengan tanda-tanda seperti hijau, kuning, merah.

"Apakah itu sudah sudah apa namanya sudah dilakukan. Nanti orang menduga bahwa kepolisian sedang menyelamatkan dirinya masing-masing gitu ya. Ini kan misalnya Kapolda juga harus diperiksa itu," ujar dia

Hussein berharap Tragedi Stadion Kanjuruhan dijadikan momentum untuk merubah kultural di tubuh aparat keamanan. "Evaluasi khususnya di tubuh kepolisian sebagai penanggung jawab keamanan ya karena kasus ini berulang-ulang," ujar dia.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.