Menko Polkam: Kasus Takengon Akan Diklarifikasi

Pemerintah akan segera mengklarifikasi kasus pemerasan yang dilakukan GAM terhadap petani kopi di Takengon, Aceh Tengah. Kasus tersebut ditangani kepolisian setempat, klarifikasi akan dilakukan TNI.

Diterbitkan 04 Maret 2003, 14:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Bak api dalam sekam. Begitulah ungkapan kemarahan sejumlah masyarakat Aceh atas aksi pemerasan oleh separatis Gerakan Aceh Merdeka yang selalu dialami mereka. Tak heran bila begitu ada kesempatan, dendam membara pun langsung meledak. Buktinya, itu terjadi di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Senin pekan ini. Kasus tersebut amat diperhatikan pemerintah RI. Sedianya, menurut Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah akan segera mengklarifikasi kasus pemerasan yang menimpa para petani kopi di Takengon, dalam waktu dekat. "Sangat melukai hati rakyat, sangat merobek keadilan. Kasus ini akan ditindak tegas," kata dia, baru-baru ini, di Jakarta.

Saat ini, penanganan kasus pemerasan berujung anarki di Takengon sudah diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian setempat. Sedangkan klarifikasinya, menurut Susilo, akan dilakukan jajaran TNI. Disebutkan, masyarakat setempat diminta paksa menyiapkan duit sebanyak Rp 2 miliar, dan dengan susah payah berhasil memenuhi hanya Rp 500 juta. Dia menambahkan, tindakan pemerasan yang dilakukan GAM sudah terlalu jauh dan harus segera ditindak tegas. "Ini harus segera dihentikan dan diberi sanksi hukuman yang tegas," Susilo.

Dalam kasus tersebut dilaporkan, Kantor tim pemantau Komite Keamanan Bersama (KKB) di Takengon, Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dibakar massa, Senin (3/3) sekitar pukul 13.30 WIB [baca: Kantor KKB di Takengon Dibakar Massa]. Akibatnya, tiga anggota KKB dilaporkan menderita luka. Perusakan itu diawali unjuk rasa sekitar 6.000 masyarakat setempat yang mendesak KKB supaya menindaklanjuti aksi pemerasan yang selama ini dialami mereka.

Menurut Susilo, pada dasarnya aksi kekerasan masyarakat Takengon patut dimengerti. Apalagi, keganasan GAM di sana bukan kasus baru. "Saya bisa rasakan betapa amarah mereka," kata dia. Namun, itu tak berarti perusakan adalah jalan keluar dari protes terhadap pemerasan GAM. "Lain kali, gunakan mekanisme yang ada untuk menyelesaikan kejahatan GAM, tanpa merusak fasilitas yang harus sama-sama kita amankan," kata Susilo.

Dalam pengamatannya, sebenarnya masyarakat Aceh Tengah, khususnya Takengon, sangat setia kepada RI. "Militansi untuk NKRI [Negara Kesatuan Republik Indonesia] tinggi sekali," kata Susilo. Penilaian ini pernah diungkapkannya dulu, saat berkunjung ke Aceh Tengah, pada pertengahan September 2002 [baca: Ribuan Warga Aceh Berikrar Setia kepada NKRI].(BMI/Esther Mulyanie dan Yuli Sasmito)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6