Sukses

Satgas Sebut Vaksin Covid-19 di Indonesia Masih Efektif Lawan Varian Delta

Liputan6.com, Jakarta - Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan, vaksin Covid-19 yang ada di Indonesia masih efektif melawan varian baru B16172 Delta. Efikasi vaksin Covid-19 yang digunakan saat ini berada di atas 50 persen.

"Tentunya secara keseluruhan sekarang masih memiliki karena efektivitas di atas 50 persen masih terpenuhi," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Selasa (15/6/2021).

Meski demikian, sambung Wiku, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas vaksin Covid-19 bagi penerimanya.

"Tentunya penelitian lebih lanjut harus terus dilakukan, dimonitor agar betul-betul vaksin yang digunakan adalah memang vaksin yang efektif," ucapnya.

Kementerian Kesehatan melaporkan, menemukan 145 kasus varian baru Covid-19 di 12 provinsi. Temuan 145 kasus ini berdasarkan hasil pemeriksaan dan analisis terhadap 1.989 sekuens genom virus SARS-CoV-2.

Dari temuan 145 kasus varian Covid-19, sebaran terbanyak ada di Jawa Tengah mencapai 76. Kemudian disusul DKI Jakarta 48, Sumatera Selatan 4, Kalimantan Timur 3, Kalimantan Tengah 3, Jawa Timur 3, Jawa Barat 2, Sumatera Utara 2, Kalimantan Selatan 1, Bali 1, Riau 1, dan Kepulauan Riau 1.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Covid-19 Varian Delta Banyak Ditemukan di Jakarta dan Jateng

Jika dilihat dari varian Covid-19 yang paling mendominasi adalah B16172 Delta, mencapai 104 kasus. Varian ini paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dan Jawa Tengah.

Sementara varian B117 Alfa sebanyak 36 kasus, ditemukan paling banyak di DKI Jakarta. Adapun varian B1351 Beta sebanyak 5 kasus, ditemukan paling dominan juga di DKI Jakarta.

Indonesia sendiri tengah menggunakan tiga merek vaksin Covid-19, yakni Sinovac buatan Sinovac Biotech Ltd asal China, Sinopharm hasil produksi China National Pharmaceutical Group, dan AstraZeneca buatan Universitas Oxford, Inggris.

 

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: