Sukses

Ibu Kasur Telah Tiada

Liputan6.com, Jakarta: &quotSatu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, juga sayang ayah. Tiga-tiga, sayang adik kakak. Satu-dua-tiga, sayang semuanya...&quot. Nyanyian itu kini tak akan berkumandang lagi dari bibir Bu Kasur. Tepat Selasa (22/10), sekitar pukul 14.00 WIB, pengarang lagu anak legendaris itu meninggal dunia di Jakarta. Stroke yang sudah lama dideritanya, menyerang kembali Sabtu pekan silam, sampai-sampai pahlawan kesenian itu tak berdaya menolak maut.

Menurut rencana, Rabu ini, jenazah Bu Kasur akan dikuburkan di pemakaman Keluarga Kaliori di Purwokerto, Jawa Tengah. Dia akan dimakamkan di sisi pusara sang suami, Soerjono, yang telah lebih dulu meninggal pada 1992. Sementara hingga malam tadi, banyak tamu berdatangan melayat ke rumah duka di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Di antara para pelayat, tampak Sri Edi Swasono, Mamik Soeharto, Kak Seto, dan pendidik Arief Rahman.

Kini dunia pendidikan Indonesia harus merelakan kepergian Bu Kasur untuk selama-lamanya. Almarhumah meninggalkan lima orang anak dan 12 cucu. Sementara anak bungsu Bu Kasur, Suryopranoto, mengaku terkejut dengan kepergian ibundanya. Betapa tidak, sebelum masuk rumah sakit, ibunya masih tampak sehat. Bahkan, sempat menghadiri resepsi pernikahan Guruh Sukarnoputra. Kepergian Bu Kasur juga mengagetkan A.T. Mahmud. Apalagi, pengarang lagu anak-anak ini mengatakan sangat berkesan dengan perhatian Bu Kasur terhadap anak-anak.

Pastilah insan musik kehilangan perempuan bernama asli Sandiah ini. Sejumlah pengamat musik menyatakan, keahlian sosok kelahiran Jakarta, 76 tahun silam itu dalam Kasur menciptakan lagu anak-anak, belum ada yang mampu menandingi. Semasa hidupnya, istri Soerjono alias Pak Kasur yang juga pencipta lagu ini tetap aktif meski usia senja menggerogoti tubuhnya. Dia sering menjadi pembicara seminar-seminar yang berhubungan dengan dunia anak. Memimpin Yayasan Setia Balita yang memiliki lima buah taman kanak-kanak di Jakarta, pun dia sanggup. Wanita ini juga sempat menjadi pengasuh sebuah rubrik di majalah anak-anak Bocil.

Berbagai penghargaan termasuk dari dunia internasional pernah diterimanya. Sebut saja Bintang Budaya Parama Dharma dan predikat pembawa acara anak-anak legendaris dari sebuah stasiun televisi. Tapi, dengan bersahaja wanita berpenampilan sederhana ini tak lantas tinggi hati. &quotSaya ini bukan apa-apa. Saya hanya menjalankan peran sebagai ibu dan ingin tetap dekat dengan dunia anak,&quot ucapnya, tampak begitu tulus.

Ah Ibu, betapa rendah hatinya engkau. Kami cuma bisa berharap, semoga kekreatifan serta kesahajaanmu di dunia anak bisa dicontoh pemusik anak masa kini. Dan doa kami, semoga arwahmu diterima Tuhan.(MTA/Rieke Amru dan Binsar Rahardian)