Sukses

Meilono Soewondo: Saya Mempunyai Bukti-Bukti Suap

Liputan6.com, Jakarta: Kemandekan pengungkapan suap-menyuap di lembaga legislatif tak membuat Meilono Soewondo berkecil hati. Soalnya, kelakuan tak terpuji tersebut telah membudaya dan dilakukan sebagian anggota Dewan. Karena itu, seakan tak bosan, anggota Komisi IX dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini kembali menyerukan anggota DPR segera menghentikan budaya sogok-menyogok [baca: Meilono: Sudah Waktunya KKN di DPR Dihentikan]. Tak cuma itu, Meilono pun siap membeberkan sejumlah bukti. "Ini sebagai prepare saya agar tak bisa dibilang fitnah. Saya bukan cari musuh, kok," ucap Meilono kepada SCTV saat diwawancarai di kediamannya yang asri di bilangan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Sabtu (12/10) petang.

Anggota F-PDIP yang cukup vokal ini mengungkapkan, selain uang senilai US$ 1.000 yang telah dikembalikan, dia juga mempunyai sejumlah bukti lainnya [baca: Dua Anggota Fraksi PDI-P Mengaku Disogok BPPN]. Misalnya, dua lembar traveller`s cheque Bank Mandiri masing-masing senilai Rp 4.500.000 dan Rp 1.500.000 (nomor seri BA051438 dan CA050560). Menurut Meilono, cek tersebut diperolehnya sekitar satu tahun silam. Saat itu, dia menerima cek tadi melalui seorang sekretarisnya. Karena tak jelas siapa pengirimnya, maka benda-benda itu disimpannya sebagai barang bukti.

Ada hal yang lebih menarik diungkapkan alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung tahun 1979 ini. Bayangkan, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, Meilono sempat merekam sekitar 100 short messages service yang diterima melalui telepon selular-nya. Bahkan, memori SMS yang ada di ponsel dicetak melalui printer yang berfasilitas infra red.

Dengan memperlihatkan bundel hasil cetak ratusan SMS Meilono mengatakan, "SMS-SMS tersebut sekaligus membuktikan bahwa pertemuan di Hotel Park Lane, Jakarta--saat saya disodorkan dolar dalam acara perkenalan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional yang baru, Syafruddin Temenggung--memang benar adanya. Ini kan sempat dibantah oleh sejumlah pihak," ujar pria bertubuh atletis ini. Bahkan, sejumlah orang terlibat kasus dugaan suap dalam proses divestasi Bank Niaga, sempat memohon ampun, agar tak membeberkan lebih jauh lagi.

Menyoal kegusaran kalangan fungsionaris partai berlambang banteng gemuk, anggota DPR dari daerah pemilihan Madiun, Jawa Timur ini meminta maaf. Sebab, dia tak bermaksud menyusahkan partainya [baca: Ada Kerisauan Laporan Suap Indira Merugikan PDI-P]. Hanya, Meilono menegaskan, sogok-menyogok di DPR harus dihentikan sejak sekarang karena jelas merugikan rakyat. Juga membuat publik mengambil sikap apatis terhadap keadaan negara yang tengah dirundung krisis berkepanjangan.

"Apalagi melihat gaya hidup anggota Dewan yang dikatakan berada di "Komisi Mata Air". Ya, di-stop-lah sekarang. Apa perlu menunggu saya miskin atau semua anggota Dewan kaya," ujar Direktur PT Bangun Cipta Indo Karimun sekaligus Direktur PT Arthaguna Cipta Sarana ini sambil menarik napas dalam-dalam. Kendati demikian, Meilono menyatakan, pembeberan kasus suap yang dilakukannya bersama Indira Damayanti Soegondo sama sekali tak bermotif politik. Dia hanya ingin mengungkapkan kebenaran dan kejujuran atas kasus sogok-menyogok yang marak di antara Wakil Rakyat.

Mengakhiri perbincangan, pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah, 29 Mei 1954 ini mengakui budaya angpau memang dilakukan hampir semua anggota Dewan dari sebagian besar fraksi. "Tidak ada fraksi yang beres. Semua berkompetisi adu jelek, saling sabotase," kata Meilono, kesal. Meski sulit menguak kasus suap di DPR, dia berharap kalangan pers juga mengorek keterangan beberapa anggota DPR yang masih jujur. "Jadi jangan PDI-P saja yang disorot," ujar mantan Bendahara Dewan Pimpinan Pusat PDI-P periode 1994-1999 [baca: Wakil Rakyat, Suap Sajalah].(ANS/Rieke Amru dan Prihandoyo)