Sukses

Kivlan Zen Batuk Parah, Hakim Setop Sidang Eksepsi

Liputan6.com, Jakarta - Situasi tak terduga terjadi dalam persidangan Kivlan Zen hari ini. Tiba-tiba, batuk Kivlan Zen tak kunjung henti. Padahal, dia tengah membacakan nota pembelaannya atau eksepsi di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

"Uhu-uhuk-uhuk, Yang Mulia mohon izin, saya sudah tidak kuat lagi uhuk," kata Kivlan dengan kepala yang memerah akibat batuk tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (14/1/2020).

Saat memulai persidangan, Kivlan memang sudah meminta izin kepada majelis hakim untuk dibolehkan menyetop pembacaan nota pembelaan jika kondisinya sudah tidak mendukung.

Hal itu pun dibolehkan oleh pihak majelis, mengingat usia Kivlan Zen yang sudah lanjut dan kerap berobat ke RSPAD Gatot Soebroto untuk kontrol rutin tiap minggunya.

Kivlan pun diketahui sudah diputuskan menjadi sebagai tahanan rumah karena kondisinya tak memungkinkan ditahan dalam penjara.

"Apa sudah tak bisa lagi dilanjutkan? Baiklah kalau tidak bisa kami tunda eksepsi ya ke minggu depan," kata Hakim Saifudin Zuhri sambil mengetuk palu sidang kasus kepemilikan senjata api ilegal.

Seharusnya, Kivlan membacakan nota pembelaan setebal 22 lembar. Namun, karena kondisi kesehatannya, Kivlan Zen hanya membacakan 15 lembar.

2 dari 3 halaman

Sakit Paru-Paru

Terdakwa kasus kepemilikian senjata api Kivlan Zen mengaku sakit paru-paru.

"Saya kan kena paru-paru, terus luka kan," ujar Kivlan Zen di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (18/12/2019).

Kivlan kerap batuk saat memberikan pernyataan kepada awak media. Kivlan juga sempat memperlihatkan obat-obatan yang tengah dia konsumsi. Kivlan mengaku obat-obatan tersebut dia dapat dari RSPAD Gatot Subroto.

"Anda bisa lihat lah. Ini obat dokter, ini obat saya segini," kata Kivlan Zen terbatuk-batuk.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kivlan Zen Kenakan Seragam Purnawirawan TNI Saat Bacakan Eksepsi
Artikel Selanjutnya
Bacakan Eksepsi, Kivlan Zen Mengaku Jadi Target Pembunuhan