Sukses

2.500 Bencana Diprediksi BNPB Terjadi di Indonesia pada 2019, Ini 4 Faktanya

Liputan6.com, Jakarta - Cukup banyak bencana alam yang terjadi pada 2018. Bahkan tahun 2018 ditutup dengan bencana cukup besar, yaitu tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 dan longsor di Sukabumi, Jawa Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun terus bekerja. BNPB juga mengeluarkan prediksi bencana yang kemungkinan akan terjadi di Indonesia. Melalui keterangan tertulisnya, BNPB menulis, selama 2019 musim akan normal.

"Tidak ada El Nino dan La Nina yang menguat intensitasnya, sehingga musim penghujan dan kemarau bersifat normal," tulis BNPB.

BNPB juga memprediksi selama 2019 lebih dari 2.500 kejadian bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, BNPB juga memprediksi jika bencana banjir dan longsor masih berpotensi akan terjadi sepanjang 2019 ini. Begitu pula gempa bumi yang juga masih menggoyang beberapa wilayah Indonesia.

Berikut ini empat fakta prediksi BNPB terkait bencana sepanjang 2019:

 

2 dari 6 halaman

1. Bencana Hidrometeorologi

BNPB memprediksikan bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor, dan puting beliung masih akan mendominasi bencana selama 2019. Diperkirakan lebih dari 95 persen adalah bencana hidrometeorologi.

Banjir dan longsor masih akan banyak terjadi di daerah-daerah yang rawan banjir dan longsor sesuai dengan peta rawan banjir dan longsor. Puncak hujan diprediksi pada Januari 2019. Potensi tinggi terjadi banjir, longsor, dan puting beliung.

Curah hujan tinggi terjadi hampir di sebagian besar Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara. Sedangkan Sulawesi, Maluku, dan Papua berpotensi curah hujan menengah.

3 dari 6 halaman

2. Gempa Bumi

Diprediksi gempa akan terjadi selama 2019. Rata-rata setiap bulan ada sekitar 500 kejadian gempa di Indonesia. Gempa bumi tidak dapat diprediksikan secara pasti di mana, berapa besar dan kapan.

Namun diprediksikan, gempa terjadi di jalur subduksi di laut dan jalur sesar di darat. Perlu diwaspadai gempa di Indonesia bagian timur yang kondisi seismisitas dan geologinya lebih rumit dan kerentanannya lebih tinggi.

 

4 dari 6 halaman

3. Tsunami

Potensi tsunami sangat tergantung dari besaran gempa bumi dan lokasinya. Jika gempa lebih dari 7 SR, kedalaman kurang dari 20 km dan berada di jalur subduksi, maka ada potensi tsunami. Sistem peringatan dini tsunami pun disebut BNPB sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

 

5 dari 6 halaman

4. Gunung Api Aktif

BNPB menyebut erupsi gunung api tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir. Hal itu dikarenakan tiap gunung memiliki karakteristik sendiri. Dari 127 gunung api di Indonesia, saat ini terdapat 1 gunung berstatus Awas, 4 gunung berstatus Siaga, dan 16 gunung berstatus Waspada.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih tetap Status Awas (level IV), Gunung Soputan di Sulawesi Utara berstatus Siaga masih berpotensi erupsi yang sifatnya fluktuatif, dan Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga sejak tanggal 27 Desember 2018, radius berbahaya di dalam radius 5 kilometer.

Kemudian Gunung Agung di Bali berstatus Siaga dan kembali mengalami erupsi pada 30 Desember 2018 pukul 04.09 Wita selama 3 menit 8 detik dengan amplitudo 22 mm. Lalu Gunung Soputan di Sulawesi Utara juga berstatus Siaga sejak 3 Oktober 2018. Masyarakat pun diminta agar tidak beraktivitas di dalamradius 4 km dari puncak.

Terakhir, Gunung Merapi di Pulau Jawa berstatus Waspada, namun masih akan meningkat aktivitas magmatik, tetapi tidak akan terjadi erupsi besar.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
BMKG: Gempa Hari Ini 2 Kali Guncang Bengkulu
Artikel Selanjutnya
Mobil Rusak Akibat Gempa, Asuransi Mau Tanggung?