Sukses

PVMBG Teliti Rekahan Tanah Baru Akibat Gempa Lombok

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengirimkan satu tim ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk melakukan pemetaan kerusakan geologi usai rentetan gempa Lombok.

BMKG menyebut gempa Lombok yang terjadi pada Minggu 19 Agustus 3018 bermagnitudo 6,9 merupakan kategori gempa baru.

Menurut Kepala PVMBG Badan Geologi, Kasbani, selain melakukan pemetaan, tim yang dikirimkan pada hari ini juga akan mencari kemungkinan adanya rekahan tanah baru akibat gempa yang baru saja terjadi.

Kasbani mengatakan kemungkinan itu dapat terjadi mengingat dampak gempa sebelumnya merusak tatanan geologi di kawasan tersebut.

"Dampak yang lama itu dengan adanya gempa-gempa yang baru terjadi kemarin, jadi seperti apa gitu ya. Lokasinya kan berbeda, yang kemarin episentrumnya di bagian barat laut Lombok. Sekarang, kan, di timur laut Lombok ya," ujar Kasbani di Bandung, Selasa (21/8/2018).

Kasbani mengatakan secara umum rentetan gempa yang terjadi di Lombok karena sumber gempa berasosiasi dengan zona pensesaran naik (Flores back- arc Thrust) yang berarah relatif barat-timur. Namun, zona sesar itu berada di satu jalur. Kemungkinan lokasi gempa yang baru disebabkan adanya segmen atau bidang yang lain.

 

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

 

Saksikan tayangan video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Tetap Tenang

Data dari otoritas vulkanologi Amerika Serikat (USGS) memperlihatkan peta intensitas yang meliputi radius ke barat hingga ke Pulau Jawa bagian timur, sedangkan ke timur hingga ke Nusa Tenggara Timur. Gempa Lombok tersebut telah menimbulkan bangunan roboh dan kebakaran di wilayah Pulau Bugin, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar akibat arus pendek listrik.

"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami," ujar Kasbani.

Loading