Mbah Slamet Sama dengan Mbah Maridjan

Selain Mbah Maridjan, Mbah Slamet Samsuri juga mengemban amanat menjaga Gunung Slamet. Meski tak bergaji besar, Mbah Slamet tetap menikmatinya.

Diterbitkan 31 Oktober 2010, 06:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Banyumas: Kepergian Mbah Maridjan untuk selamanya, membuka mata sebagian orang tentang profesi juru kunci. Namun besarnya amanat yang diemban tak sebanding dengan gaji yang kecil. Profesi ini dilakoni pula Slamet Samsuri atau Mbah Slamet, yang setia menjaga Gunung Slamet. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kini berstatus waspada.

Mbah Slamet menjalani tugas selama 50 tahun. Namanya memang tak setenar Mbah Maridjan. Pria berusia 84 tahun ini punya peran penting tiap kali Gunung Slamet bergejolak. Yaitu menyelamatkan warga dari bahaya letusan gunung berlokasi di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah itu.

Akivitas vulkanik Gunung Slamet terakhir kali terjadi pada 2009. Kala itu ancaman bahaya Gunung Slamet berupa hujan abu tipis dan embusan asap menggangu desa di sekitar Kecamatan Sumbang, Kedung Banteng, dan Kecamatan Baturraden.

Selama 50 tahun bertugas, tak membuat Mbah Slamet bosan. Ia selalu bersemangat dan energik. Bila ditanya soal upah, Mbah Slamet menjawab gaji akan datang dari Tuhan. "Saya bekerja sebagai juru kunci, merupakan panggilan jiwa," tutur warga Desa Kemutung Lor, Baturraden.

Menjalani tugas sebagai juru kunci, Mbah Slamet ditemani istri Mbok Sayem. Aktivitas pergi ke ladang juga dilakoni bersama istri tercinta. Sayem mengaku bangga mempunyai suami yang berprofesi sebagai juru kunci Gunung Slamet.(AIS)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6