Sukses

Telaga Warna Puncak, Antara Eksotika Alam dan Mitos 2 Ikan Purba

Liputan6.com, Bogor - Apabila sedang berwisata ke Puncak Bogor, Jawa Barat, tidak ada salahnya Anda mampir ke Telaga Warna. Di taman wisata yang terletak di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor ini pengunjung akan dimanjakan indahnya panorama alam yang khas dan unik.

Selain dapat menyaksikan fenomena alam yang penuh misteri dan nuansa mistis, juga akan disajikan keunikan air danau kecil yang berada tak jauh dari Puncak Pass ini. Sebab, air danau dapat berubah warna setiap saat. Terkadang hijau menyatu dengan warna pepohonan yang mengelilinginya, bahkan menjadi cokelat, kuning gelap hingga kuning terang.

Secara ilmiah, perubahan warna itu disebabkan oleh ganggang di telaga. Tumbuhan jenis algae ini bisa berubah-ubah warnanya sehingga air danau pun turut terlihat berubah warna.

Pendapat lain menyebutkan, 7 perubahan warna air ini akibat pantulan sinar matahari yang menyinari tumbuh-tumbuhan di sekeliling telaga.

Keistimewaan lainnya, di tempat ini terdapat berbagai jenis flora asli hutan tropika pegunungan, seperti paku tiang, rame, dan rotan. Wisatawan juga bisa menemui beraneka jenis satwa yang hidup di dalam kawasan cagar alam seluas 268,25 hektare.

"Berwisata ke sini banyak dijumpai hewan liar seperti kera abu-abu, surili, lutung, termasuk berbagai jenis burung tekukur, kadanca dan lainnya," kata pengelola Taman Wisata Alam Telaga Warna, Supandi kepada Liputan6.com, Sabtu (2/1/2016).

Bagi wisatawan yang ingin berkeliling menikmati pesona keindahan Danau Telaga Warna, pengelola Taman Wisata Alam Telaga Warna menyediakan perahu kecil atau sepeda air.

Telaga warna di Puncak Bogor menawarkan eksotisme alam dan nuansa mistis. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

"Fasilitas penunjang lainnya pun tersedia seperti track untuk melintasi alam, jogging track, outbond, flying fox, dan menara setinggi 13,5 meter untuk melihat dan mengamati satwa di kawasan ini," kata Supandi.

1 dari 2 halaman

Mitos 2 Ikan Purba

Mitos 2 Ikan Purba

Di balik keindahan alam dan udara yang sejuk, nuansa mistik juga menyelimuti lokasi tersebut. Menurut masyarakat sekitar, di telaga ini hidup 2 ekor ikan purba berwarna hitam dan kuning.

Menurut Supandi, apabila ada orang yang mampu melihat ikan besar tersebut dan meloncat ke atas permukaan telaga, maka segala cita-citanya akan tercapai dan terkabul.

Mitos lain yang dipercayai masyarakat setempat ialah bagi siapa yang membasuh muka dengan air telaga ini, akan selalu terlihat awet muda.

Di sisi lain, terdapat pula sebuah legenda unik yang berkembang secara turun temurun di kalangan masyarakat sekitar mengenai asal mula terbentuknya Danau Telaga Warna.

Dahulu kala, tutur Supandi, di kawasan puncak tepatnya di lereng Gunung Lemo sekitar pegunungan Mega Mendung terdapat sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Kutatanggeuhan.

Nama kerajaan ini berasal dari kata 'Kuta' yang berarti tempat dan 'Tanggeuhan' yang berarti andalan. Kerajaan ini sering disebut Kerajaan Kemuning Kewangi.

Kerajaan ini dipimpin seorang raja bernama Prabu Swarnalaya. Beliau didampingi seorang permaisuri bernama Ratu Purbamanah.

"Di masa kepemimpinannya, negeri ini terkenal damai, subur, makmur, dan tentram. Tak ada satupun keluarga yang kekurangan sandang, pangan maupun papan. Walaupun demikian, sang Prabu dan Permaisuri belum merasa bahagia," cerita Supandi.

Telaga warna di Puncak Bogor menawarkan eksotisme alam dan nuansa mistis. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Dia melanjutkan, selama bertahun-tahun hidup membina rumah tangga, mereka belum dikarunia seorang keturunan. Padahal berbagai upaya telah dilakukan seperti meminum ramuan tradisional hingga meminta saran penasihat kerajaan, namun tidak membuahkan hasil. Kemudian beliau memutuskan untuk bertapa.

Setelah sekian waktu bertapa, akhirnya sang raja mendapat wangsit yang isinya berupa saran agar ia mengangkat seorang anak. Dan ternyata setelah beberapa bulan sang Permaisuri pun hamil hingga melahirkan seorang bayi cantik, kemudian diberi nama Nyi Ajeng Gilang Rinukmi atau Putri Ayu Kencana Ungu.

Setelah puterinya menginjak dewasa, lanjut Supandi, sang raja mengadakan pesta dan memberikan hadiah kepada puteri semata wayangnya tersebut sebuah kalung. Namun Nyi Ajeng Gilang Rinukmi tidak mau menerima hadiah kalung tersebut hingga akhirnya sang permaisuri tak henti-hentinya menangis.

Pada saat yang bersamaan timbul suatu keajaiban, bumi bergoncang dan dari permukaan tanah keluar air yang semakin lama semakin membesar sehingga membentuk sebuah telaga dan menenggelamkan Kerajaan Kutatanggeuhan beserta segala isinya.

Dari dasar telaga memancarkan cahaya berwarna-warni yang diduga berasal dari kalung yang telah bercerai berai. Karena itulah, danau tersebut dinamakan Telaga Warna.

"Keanehan ini yang membuat banyak orang mengambil airnya untuk obat. Bahkan di bulan dan hari tertentu tempat ini sering dijadikan tempat ziarah oleh masyarakat yang mempercayai hal itu," tutup Supandi.