Liputan6.com, Bengkulu: Kayu lantung ternyata bermanfaat bagi warga di Bengkulu. Buktinya, kulit kayu tersebut dapat diolah menjadi berbagai cenderamata seperti topi, kopiah, dan dompet. Hasilnya, hingga kini, cukup diminati hingga ke luar Bengkulu.
Tapi, para perajin yang sejak 1996 menggeluti usaha ini, sulit berkembang. Soalnya, mereka tak mempunyai modal untuk mengembangkan usaha ini. Demikian diungkapkan sejumlah perajin kulit kayu lantung, di Bengkulu, baru-baru ini.
Bustami, seorang pemilik usaha kayu lantung bermerek dagang "Raffles" mengaku, sebenarnya, kerajinan ini cukup prospektif. Buktinya, omzet usaha ini bisa mencapai Rp 6 juta per bulan. Bila telah dikurangi upah karyawan dan biaya pembelian bahan baku, maka laba bersih bisa mencapai Rp 2 juta per bulan. Kendati demikian, Bustami masih berharap adanya pihak ketiga yang bisa dijadikan mitra usaha untuk membantu permodalan. Sebelumnya, Bustami mengaku telah mengadukan masalah ini ke sebuah instansi terkait. Tapi, instansi tersebut hanya membantu pelatihan perajin.
Sejauh ini, menurut Bustani, para perajin kulit lantung biasanya membeli bahan baku dari petani, dengan harga Rp 3000 per meter. Dalam satu lembar kulit biasanya memiliki panjang mencapai dua meter. Dari ukuran tersebut, petani dapat menghasilkan dua dompet besar, lima kopiah, dan puluhan tas kecil. Dompet besar dijual seharga Rp 20-45 ribu, topi seharga Rp 15 ribu, dan kopiah dengan harga Rp 20 ribu.
Lantung adalah pohon sejenis nangka yang banyak tumbuh di hutan-hutan di Bengkulu. Pohon ini selain memiliki kulit yang tebal dan kaku, juga mempunyai serat yang tidak mudah putus, sehingga bisa dapat diolah menjadi barang cenderamata. Dalam pengolahan, kulit latung dilepaskan dari pohonnya dengan cara diketok, kemudian ditaburi bubuk bahan kimia untuk mencegah jamur. Dalam pembuatannya kulit lantung yang sudah berbentuk lembaran direbus dengan campuran bahan kimia hingga satu jam untuk menghilangkan getah. Setelah kering, kemudian dipres dan dipola sesuai dengan barang yang akan dibuat.(ABI/Rishnaldi)
Tapi, para perajin yang sejak 1996 menggeluti usaha ini, sulit berkembang. Soalnya, mereka tak mempunyai modal untuk mengembangkan usaha ini. Demikian diungkapkan sejumlah perajin kulit kayu lantung, di Bengkulu, baru-baru ini.
Bustami, seorang pemilik usaha kayu lantung bermerek dagang "Raffles" mengaku, sebenarnya, kerajinan ini cukup prospektif. Buktinya, omzet usaha ini bisa mencapai Rp 6 juta per bulan. Bila telah dikurangi upah karyawan dan biaya pembelian bahan baku, maka laba bersih bisa mencapai Rp 2 juta per bulan. Kendati demikian, Bustami masih berharap adanya pihak ketiga yang bisa dijadikan mitra usaha untuk membantu permodalan. Sebelumnya, Bustami mengaku telah mengadukan masalah ini ke sebuah instansi terkait. Tapi, instansi tersebut hanya membantu pelatihan perajin.
Sejauh ini, menurut Bustani, para perajin kulit lantung biasanya membeli bahan baku dari petani, dengan harga Rp 3000 per meter. Dalam satu lembar kulit biasanya memiliki panjang mencapai dua meter. Dari ukuran tersebut, petani dapat menghasilkan dua dompet besar, lima kopiah, dan puluhan tas kecil. Dompet besar dijual seharga Rp 20-45 ribu, topi seharga Rp 15 ribu, dan kopiah dengan harga Rp 20 ribu.
Lantung adalah pohon sejenis nangka yang banyak tumbuh di hutan-hutan di Bengkulu. Pohon ini selain memiliki kulit yang tebal dan kaku, juga mempunyai serat yang tidak mudah putus, sehingga bisa dapat diolah menjadi barang cenderamata. Dalam pengolahan, kulit latung dilepaskan dari pohonnya dengan cara diketok, kemudian ditaburi bubuk bahan kimia untuk mencegah jamur. Dalam pembuatannya kulit lantung yang sudah berbentuk lembaran direbus dengan campuran bahan kimia hingga satu jam untuk menghilangkan getah. Setelah kering, kemudian dipres dan dipola sesuai dengan barang yang akan dibuat.(ABI/Rishnaldi)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/360487/original/t071001bTKI.jpg)