Sukses

Megawati Sukarnoputri Presiden RI

Liputan6.com, Jakarta: Tercapai sudah keinginan Diah Permata Setyawati Megawati Sukarnoputri menduduki kursi presiden. Setelah terjegal permainan elite politik pascapemilihan umum 1999, Wakil Presiden Megawati berhak menyandang jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Kepastian itu setelah Sidang Paripurna MPR melantik dan mengambil sumpah Megawati, Senin (23/7) petang.

Megawati diangkat sebagai presiden berdasarkan Ketetapan MPR No.III/MPR/2001 yang menggantikan Gus Dur. Masa jabatan Mega adalah terhitung sejak pengucapan sumpah dan janji hingga habis sisa masa jabatan yakni pada 2004. Pada akhir masa jabatannya Mega wajib memberi pertanggungjawaban kinerja pemerintahannya kepada MPR.

Dalam pidato pertamanya di hadapan Majelis, Mega mengajak semua komponen masyarakat untuk membangun bangsa dan negara bersama-sama. Keterpurukan ekonomi dan krisis multidimensional yang berlarut-larut menjadi perhatian Mega dalam pidato singkatnya.

Mega secara tegas, juga menyatakan masalah bangsa ini tak bisa diselesaikan oleh sekelompok tertentu, melainkan memerlukan kebersamaan. Putri pertama bekas Presiden Sukarno itu meminta semua pihak menerima dan legowo setiap keputusan Majelis sebagai suara rakyat, termasuk hasil voting yang selalu menyertai dalam pengambilan keputusan. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini juga mengajak kepada komponen bangsa untuk menghentikan segala macam pertikaian dan permusuhan yang malah menambah penderitaan rakyat.

Sebenarnya, banyak yang memprediksi karir politik Mega akan berakhir setelah hanya meraih jabatan wapres periode 1999-2004. Namun, prediksi itu sempat dibantah Dewi Sukarnoputri, janda Bung Karno yang juga ibu tiri Mega. Kepada SCTV, Dewi pernah menyatakan Megawati memiliki kesamaan kharisma dengan mendiang ayahnya. "Setidaknya itu tampak dalam perjuangannya ketika mendampingi Gus Dur hampir dua tahun," kata Dewi saat itu.

Kendati demikian, beberapa kalangan tetap saja sanksi dengan kemampuan perempuan yang lahir di Yogyakarta 23 Januari 1947 itu. Pasalnya, Mega yang drop out dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran Bandung itu harus berduet dengan Gus Dur yang dinilai memiliki trik politik beragam. Paling tidak ini bisa dilihat dengan move-move politik Wahid yang kerap membuat kebijakan tanpa melibatkan wapres. Di sisi lain, Mega kerap bersikap diam. Tapi sikap Mega itu dinilai berbagai kalangan adalah sebuah kekuatan yang membalikkan prediksi yang pesimistis. Terlebih lagi, Gus Dur kerap kali tak menghormati kedudukan dan kebijakan wapres.

Sementara itu, menurut fungsionaris PDI-Kwiek Kian Gie, Mega akan membentuk kabinet koalisi yang sangat luas. Artinya, 100 persen anggota kabinet berasal dari partai politik di DPR. Secara spesifik, Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Pramono Anung menyatakan, target kabinet pimpinan Mega dalam seratus hari di awal pemerintahan akan memprioritaskan pada perbaikan ekonomi, penegakan hukum dan stabilitas keamanan. Sesaat setelah dilantik, sejumlah karangan bunga sudah menghiasi kediaman Mega di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan rumah dinas di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Bahkan ada karangan bunga yang dikirim sebelum Mega dilantik. Rencananya, Mega akan menggelar syukuran malam ini di rumah dinasnya.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
    Loading