Penyebab bentrokan yang mengakibatkan suasana Poso kembali memanas, hingga kini masih buram. Sejumlah saksi mata mengungkapkan, keributan terjadi setelah polisi mencari warga yang memiliki kartu identitas ganda di Jalan Pulau Irian, Kelurahan Gebang Rejo. Warga kemudian memukul-mukul tiang listrik sehingga massa terkumpul dan menghalangi polisi yang datang sekitar pukul 21.00 waktu setempat itu.
Polisi meminta bantuan ke Markas Kepolisian Resor Poso. Satu satuan setingkat kompi pasukan Brigade Mobil segera dikirim dengan pengawalan kendaraan Perintis baracuda. Kepala Kepolisian Daerah Sulteng Brigadir Jenderal Polisi Badrodin Haiti membenarkan, kedatangan pasukan Brimob inilah yang membuat situasi tegang dan berujung aksi saling tembak. "Saya katakan tidak benar, satu kompi Brimob itu mengepung pesantren. Kendaraan Baracuda ini juga ditembaki sehingga bannya pecah," papar Badrodin.
Ketua Forum Solidaritas Umat Islam Poso, ustad Adnan Arzal yang dihubungi SCTV melalui telepon mengatakan, sepulang warga menyiapkan lapangan bola untuk salat id, puluhan polisi tiba-tiba mengepung sejumlah rumah di Jalan Pulau Irian. Warga khawatir sehingga berinisiatif memukul tiang listrik. Bentrokan pun terjadi karena polisi tak juga beranjak dari lokasi. Massa lantas melempari Pos Polmas yang kemudian berujung penembakan warga.
Advertisement
Buntut kejadian itu sebuah pos polisi, satu truk, dan tiga sepeda motor polisi berubah menjadi abu. Puluhan warga terutama wanita dan anak-anak yang ketakutan langsung mengungsi ke tempat aman. Hingga siang ini personel Brimob menjaga ketat Kota Poso [baca: Brimob Menjaga Ketat Kota Poso].
Bentrokan dan kekerasan di Poso seolah sudah mengerak lantaran terus terulang. Ratusan polisi dan tentara terus dikerahkan mengamankan situasi. Satu demi satu nyawa berjatuhan. Polisi sebagai penanggung jawab, seolah tak tahu harus darimana konflik diselesaikan. Sebab hingga kini, penyebab dan akar permasalahan tidak pernah dituntaskan.
Buktinya belum tuntas kasus bentrokan di Tanah Runtuh terungkap, sudah muncul kasus baru yaitu penembakan pendeta Irianto Kongkoli [baca: Polisi Terus Mengejar Penembak Pendeta Irianto]. Melihat kondisi Poso seperti ini dapat diambil kesimpulan tidak mudah mengungkap masalah yang terjadi.
Menurut Kepala BIN Syamsir Siregar, orang-orang yang diyakini sebagai dalang sudah di kantong. Tapi polisi selalu ingin bukti yang secara hukum. Kalau secara intelijen, intelijen punya hak untuk menangkap itu," kata Syamsir.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432608/original/039355600_1764817183-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-04T072013.095.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5300825/original/063294400_1753929347-20250721_132106.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542212/original/065975700_1774936641-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523300/original/073953200_1772800710-IMG_0778.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/467577/original/231006cposo.jpg)