Sukses

KRL Pakuan Menghajar Metromini, Delapan Tewas

Liputan6.com, Jakarta: Kecelakaan kembali terulang. Kereta Rangkaian Listrik Pakuan Ekspres jurusan Bogor-Kota, Selasa (19/4) petang, menghajar sebuah metromini S-64 rute Pasar Minggu-Cililitan di perlintasan Kalibata, Jakarta Selatan. Sedikitnya delapan penumpang metromini tewas di tempat kejadian, sementara badan bus berukuran sedang itu terbelah dua.

Tabrakan maut terjadi saat metromini sarat penumpang itu nekat melewati palang pintu perlintasan. Ketika bus berada di atas rel kereta, tiba-tiba mesinnya ngadat dan pada saat bersamaan melintas kencang KRL Pakuan dari arah Kota. Tabrakan tak bisa dihindari, metromini nahas itu sempat terseret hingga belasan meter.

Sejumlah penumpang sempat keluar dari bus beberapa saat sebelum metromini dihantam ular besi. Namun, beberapa penumpang lain tak bisa ke mana-mana. Mereka terjebak dalam bus.

Korban tewas masing-masing M. Farhan, Sri Wahyuni, Sukardi, Nadori, dan Syamsudin, sedangkan tiga lainnya belum bisa dikenali. Jasad korban langsung dikirim ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat.

Sementara mereka yang terluka dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih dan RS Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jakarta Timur. Rata-rata dari mereka dalam keadaan kritis. Etrizal, Dedi, dan Farhan kini dirawat di RS Budhi Asih. Sedangkan dua korban cedera lainnya, Adam Ada dan Nadori menjalani perawatan di RS UKI.

Kecelakaan itu makin menegaskan bahwa keselamatan penumpang angkutan umum tidak pernah dipedulikan. PT Kereta Api Indonesia seperti tak pernah bisa meminimalkan kecelakaan seperti itu. Kalau sudah terjadi biasanya mereka cepat menyalahkan masinis, tanpa mau membenahi diri [baca: Kecelakaan Kereta Tak Cuma Kesalahan Petugas].

Padahal, kecelakaan selalu membawa duka yang dalam tak hanya bagi korban dan keluarga, tapi juga bagi masinis. Contohnya Diding Suwardi, masinis KRL Pakuan Ekspres Bogor-Jakarta. Lelaki ini sampai sekarang tak pernah bisa melupakan peristiwa yang terjadi Rabu malam, 31 Agustus 1995. Itu malam kelam baginya.

Diding menuturkan, malam itu kereta yang dikemudikannya menabrak KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta di Stasiun Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Puluhan penumpang menjadi korban dalam peristiwa itu. Meski tak ada korban jiwa, toh, dia harus berurusan dengan polisi.

Berbulan-bulan Diding diperiksa. Akhirnya memang dia dinyatakan tak bersalah. Namun, PT KAI tetap memindahkan pria yang sudah 20 tahun menyupiri kereta api ini ke kandang: dia jadi staf kantoran.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)