Giliran Kabupaten Belu Diterjang Banjir Bandang

Banjir bandang merendam ratusan rumah di Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Nusatenggara Timur. Seorang warga tewas karena terseret arus air. Ketinggian air masih mencapai satu setengah meter.

Diterbitkan 20 Januari 2006, 11:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Belu: Cuaca buruk disertai bencana masih mendera sejumlah daerah di Tanah Air. Kini giliran Kabupaten Belu, Nusatenggara Timur, diterjang air bah. Banjir bandang yang merendam sekitar seratus rumah ini membuat seribu lebih warga Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Nusatenggara Timur, tidak berdaya.

Banjir bandang dengan arus cukup deras ini juga telah menghanyutkan puluhan rumah lainnya. Seorang warga, bahkan dilaporkan tewas karena hanyut terbawa arus air. Kendati begitu, belum ada informasi mengenai korban lainnya. Yang jelas, banjir ini merupakan kiriman dari wilayah Kabupaten Timortengah Utara dan Kabupaten Timortengah Selatan melalui Sungai Benanain yang membelah 13 desa di Kecamatan Malaka Barat.

Hingga siang ini, genangan air masih setinggi satu setengah meter. Warga tetap bertahan di permukiman, tapi mereka tak sempat menyelamatkan ternak peliharaan karena langsung dihanyutkan air. Mereka juga mengkhawatirkan banjir bandang susulan yang lebih hebat. Ini mengingat awan mendung masih memayungi kawasan tersebut.

Pemerintah daerah setempat belum berupaya mengungsikan penduduk dari ancaman banjir susulan. Alasannya, musibah ini adalah banjir tahunan, sehingga warga hanya diminta waspada. Padahal pada tahun 2000, bencana serupa telah menelan korban 24 orang meninggal.

Banjir juga melanda sejumlah kawasan di Situbondo, Jawa Timur, tadi malam. Berdasarkan pemantauan SCTV, daerah yang cukup parah terendam air adalah Kecamatan Kendit dan Bungatan. Adapun ketinggian air mencapai satu setengah meter.

Di Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, puluhan rumah terendam banjir. Tidak hanya itu, beberapa tiang listrik juga rubuh. Akibatnya, aliran listrik di kawasan itu padam total. Untuk sementara warga kini mengungsi di tempat pengungsian terdekat. Hujan deras yang turun sejak semalam juga menimbulkan longsor di kawasan Bungatan. Tanah runtuh ini, tak urung memacetkan jalur Surabaya-Situbondo-Banyuwangi.

Pada hari yang sama, banjir juga merendam ratusan hektare sawah di dua kecamatan di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo. Danau Limboto yang meluap selama dua pekan terakhir ini telah menggenangi Kecamatan Batudaa dan Limboto. Para petani pun terpaksa memanen sebagian kecil tanaman padi yang masih hijau.

Padahal, untuk menanami setiap petak sawah yang berukuran seperempat hektare, mereka telah mengeluarkan modal sebesar Rp 400 ribu. Sementara keuntungan yang diharapkan tak bisa diperoleh. Saat ini, harga beras telah mencapai Rp 5.500 per kilogram. Lantaran itulah, sejumlah petani beralih memetik kangkung dan menangkap ikan untuk menghidupi keluarga [baca: Ratusan Hektare Sawah di Gorontalo Kebanjiran].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6