Ukiran Jepara Mampu Menembus Waktu

Di tengah serbuan beragam desain mebel yang simpel dan bahan baku yang relatif murah, keberadaan mebel ukiran Jepara masih banyak peminatnya. Pelaku bisnis harus mampu mengikuti selera pasar agar dapat bertahan.

Diterbitkan 25 Desember 2005, 15:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Sejak berabad-abad lampau, Jepara, Jawa Tengah, dikenal dengan seni ukirnya. Keabadian seni ukir pada berbagai mebel itu masih terlihat hingga saat ini. Itulah sebabnya Miftahul Huda meneruskan usaha ayahnya.

Mebel ukiran Jepara dari kayu jati ini memang mampu bertahan menembus waktu. Buktinya, di tengah serbuan beragam desain mebel yang simpel dan bahan baku kayu yang relatif murah, keberadaan mebel ukiran Jepara masih banyak peminatnya. Jakarta sebagai kota megapolitan adalah salah satu potensi pasar yang bagus untuk saat ini. Kemudian diikuti kota-kota besar lainnya. Hal ini diakui Miftahul Huda.

Miftahul bahkan yakin usahanya tak akan pernah mati. "Kalau dilihat dari prospek pasarnya, nggak mungkin mati. Soalnya jati kalau makin tua semakin mahal," ujar pria yang membuka cabang usahanya di Jalan R.E. Martadinata, Nomor 5-C, Ciputat, Jakarta Selatan, sejak enam tahun silam. Produk dan harga yang ditawarkan Miftahul sangat beragam. Di antaranya bufet yang dijual sekitar Rp 2 juta dan kursi tamu seharga Rp 25 juta.

Kendati demikian, sesuai perubahan zaman dan kebutuhan konsumen, Miftahul harus pandai menciptakan desain yang bisa diterima pasar. Model gebyok yang terlalu ramai ukirannya kurang diminati konsumen karena debu mudah melekat sehingga sulit dibersihkan. "Trennya sekarang ukiran minimalis. Kita bikin ukirannya yang sedikit manis, enak dilihat," ujar dia.

Ungkapan serupa diutarakan Mukiyi yang telah menggeluti usaha ini selama 35 tahun. Itu sebabnya dia menyatukan ide yang dimiliki dengan keinginan pembeli agar denyut bisnisnya bisa terus berjalan. "Kebanyakan sekarang ini nggak diukir sampai penuh, seninya sedikit. Ukiran campur profil," ujar Mukiyi.

Untuk profil, Mukiyi mengungkapkan, lebih banyak dipakai sebagai penghias lemari pajangan dan pakaian. Namun, khusus kursi tamu, sedikit dibungkus seni ukir motif gaya Eropa, Romawi dan Majapahit. Adapun Mukiyaki mematok harga kerajinannya mulai Rp 1,8 juta hingga Rp 15 juta.

Daya tarik produk ini memang tidak hanya terletak pada kehalusan hasil produk, tapi juga tema yang diangkat. Bunga, daun, rumpun bambu, berbagai fauna khas Indonesia serta cerita rakyat seperti Joko Tarub atau kisah pewayangan membuat ukiran Jepara bisa bertahan dan seolah menembus waktu.

Miftahul mengekspor produknya ke Malaysia dan Belgia sejak 2000. Sedangkan Mukiyi lebih menekankan pemasaran dalam negeri karena potensi domestik masih bagus. Keberhasilan mereka menjual produknya berkat rajin berinovasi melahirkan karya yang diminati pasar. Selain itu, mereka mengirim pesanan tepat waktu dan menawarkan harga yang cukup kompetitif.(DNP/Tim Usaha Anda)

Furnitur Jepara:

Mukiyi:
Jalan Kramar RT 001/01 Nomor 44-B
Pangkalan Jati, Pondok Labu
Jakarta Selatan
Telepon: (021) 766 4110

Miftahul Huda:
Jalan R.E. Martadinata Nomor 5-C
Ciputat, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 744 1018

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6