Liputan6.com, Helsinki: Jika Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sepakat melakukan gencatan senjata, maka Uni Eropa berniat ikut memantau. Caranya, Uni Eropa akan mengirim sekitar 200 personel militer berpakaian sipil dan tanpa senjata ke Nanggroe Aceh Darussalam. Kesediaan Uni Eropa ini telah diamini delegasi Indonesia dan GAM dalam pertemuan putaran kelima di Helsinki, Finlandia, Selasa (12/7).
Sebelum mengirim pasukan, Uni Eropa pada Juni silam telah mengirim tim pencari fakta ke Tanah Rencong. Anggota tim pemantau sempat bertemu pejabat setempat di Banda Aceh. Namun, pertemuan bersifat tertutup. Usai pertemuan, rombongan berjumlah 18 orang lalu mengunjungi Bireun, Aceh Utara, dan Aceh Timur [baca: Tim Pemantau Asing Tiba di NAD].
Agenda lain yang intensif dibicarakan antara lain pemberian amnesti kepada anggota GAM, keikutsertaan dalam pembangunan ekonomi di NAD, dan partisipasi politik. Meski begitu, RI ingin anggota GAM dilucuti dulu sebelum melebur dengan rakyat Aceh. Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra berharap perundingan selesai sebelum 17 Agustus mendatang [baca: Perundingan RI-GAM Diharapkan Selesai Sebelum HUT RI ].
Kesediaan GAM mengakui NAD masih di lingkaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tak begitu memberi pengaruh terhadap warga Tanah Rencong. Mereka umumnya beropini ingin perdamaian segera terwujud. Itu saja. "Jangan ada ribut atau perang lagi. Saya kalau ke lapangan malam atau siang tidak ada gangguan lagi," kata Muhammad Nur, warga Aceh. Pendapatnya diamini Muhammad Jafar. "Adanya kedamaian dengan sendirinya bisa hidup tenang," ujar Jafar. Sedangkan Yunita, seorang pegawai negeri sipil mengaku tidak paham soal perundingan GAM dan RI. Yang pasti, kata Yunita, dirinya cuma menginginkan perdamaian dan keamanan di Serambi Mekah.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Sebelum mengirim pasukan, Uni Eropa pada Juni silam telah mengirim tim pencari fakta ke Tanah Rencong. Anggota tim pemantau sempat bertemu pejabat setempat di Banda Aceh. Namun, pertemuan bersifat tertutup. Usai pertemuan, rombongan berjumlah 18 orang lalu mengunjungi Bireun, Aceh Utara, dan Aceh Timur [baca: Tim Pemantau Asing Tiba di NAD].
Agenda lain yang intensif dibicarakan antara lain pemberian amnesti kepada anggota GAM, keikutsertaan dalam pembangunan ekonomi di NAD, dan partisipasi politik. Meski begitu, RI ingin anggota GAM dilucuti dulu sebelum melebur dengan rakyat Aceh. Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra berharap perundingan selesai sebelum 17 Agustus mendatang [baca: Perundingan RI-GAM Diharapkan Selesai Sebelum HUT RI ].
Kesediaan GAM mengakui NAD masih di lingkaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tak begitu memberi pengaruh terhadap warga Tanah Rencong. Mereka umumnya beropini ingin perdamaian segera terwujud. Itu saja. "Jangan ada ribut atau perang lagi. Saya kalau ke lapangan malam atau siang tidak ada gangguan lagi," kata Muhammad Nur, warga Aceh. Pendapatnya diamini Muhammad Jafar. "Adanya kedamaian dengan sendirinya bisa hidup tenang," ujar Jafar. Sedangkan Yunita, seorang pegawai negeri sipil mengaku tidak paham soal perundingan GAM dan RI. Yang pasti, kata Yunita, dirinya cuma menginginkan perdamaian dan keamanan di Serambi Mekah.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288313/original/005703000_1783311841-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-06T103916.100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4889778/original/044650100_1720754462-tentara_israel_dapet_kiriman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300009/original/089493000_1784283677-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297860/original/099954200_1784109220-cek_fakta_-_purbaya_kuis_tebak_nama_kota.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/441770/original/130705bRIGAm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300006/original/015885500_1784283359-000_C2DB2ZQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299397/original/073517100_1784250863-000_B6Z433V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300000/original/049582300_1784282893-mainoo_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111027/original/077801500_1783052609-AP26183730218725.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4265020/original/007345300_1671377845-4_AP22352556886313.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3202507/original/071215900_1596847894-AP20220691523830.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5247508/original/065942500_1749538198-pildun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618472/original/047612700_1782607192-000_B8JU4KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287291/original/083160400_1783207895-063_2284678786.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299067/original/052484900_1784191879-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4256851/original/004151200_1670703759-7_AP22344709351178.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299482/original/065812300_1784259465-inggris.jpg)