Liputan6.com, Kutacane: Jalan utama yang menghubungkan empat desa yang terbenam longsoran banjir lumpur di Kutacane, Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (30/4), mulai dapat dilalui sepeda motor. Sejauh ini empat alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum NAD terus bekerja membuka jalur transportasi yang menghubungkan empat desa, yakni Desa Lawe Mengkudu, Lawe Gerger, Jambo Lak-Lak, dan Jongar. Kemungkinan, besok jalur transportasi ini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat.
Pencarian empat korban masih terus dilakukan. Sedangkan bagi ke-15 korban meninggal, Pemerintah Provinsi NAD memberikan santunan Rp 1 juta per jiwa dan Rp 2 juta per kepala keluarga untuk semua korban bencana. Wakil Gubernur NAD Azwar Abubakar yang Jumat kemarin meninjau lokasi mengatakan empat desa ini sudah tak layak dihuni karena rawan bencana. Pihaknya akan menyiapkan lahan baru untuk relokasi permukiman warga [baca: Lokasi Banjir Kutacane Tak Layak Huni].
Di sisi lain, Bupati Aceh Tenggara Armen Desky menegaskan musibah banjir bandang yang menimpa warga Kutacane adalah murni bencana alam dan bukan akibat kegiatan penebangan liar. Ini terbukti dari material yang terbawa banjir, yakni pohon-pohon yang tercabut dari akarnya, bukan kayu-kayu gelondongan hasil penebangan.
Armen menambahkan, beberapa hari sebelum banjir bandang di lokasi tersebut juga terjadi gempa cukup hebat. Akibatnya, ketika turun hujan deras, tanah-tanah yang longgar akibat gempa menjadi longsor dan terbawa air bah.
Penjelasan Bupati Aceh Tenggara ini bertentangan dengan data Unit Manajemen Taman Nasional Gunung Leuser yang menyebutkan sekitar 30 persen dari 2,5 juta hektare kawasan ekosistem Leuser rusak karena penebangan liar. Kerusakan ini terjadi di hulu beberapa anak sungai sehingga dapat menimbulkan banjir seperti sekarang [baca: Walhi: Pembalakan Liar Penyebab Banjir di Kutacane].(ORS/Ariel Maranos dan Cuk Arbianto)
Pencarian empat korban masih terus dilakukan. Sedangkan bagi ke-15 korban meninggal, Pemerintah Provinsi NAD memberikan santunan Rp 1 juta per jiwa dan Rp 2 juta per kepala keluarga untuk semua korban bencana. Wakil Gubernur NAD Azwar Abubakar yang Jumat kemarin meninjau lokasi mengatakan empat desa ini sudah tak layak dihuni karena rawan bencana. Pihaknya akan menyiapkan lahan baru untuk relokasi permukiman warga [baca: Lokasi Banjir Kutacane Tak Layak Huni].
Di sisi lain, Bupati Aceh Tenggara Armen Desky menegaskan musibah banjir bandang yang menimpa warga Kutacane adalah murni bencana alam dan bukan akibat kegiatan penebangan liar. Ini terbukti dari material yang terbawa banjir, yakni pohon-pohon yang tercabut dari akarnya, bukan kayu-kayu gelondongan hasil penebangan.
Armen menambahkan, beberapa hari sebelum banjir bandang di lokasi tersebut juga terjadi gempa cukup hebat. Akibatnya, ketika turun hujan deras, tanah-tanah yang longgar akibat gempa menjadi longsor dan terbawa air bah.
Penjelasan Bupati Aceh Tenggara ini bertentangan dengan data Unit Manajemen Taman Nasional Gunung Leuser yang menyebutkan sekitar 30 persen dari 2,5 juta hektare kawasan ekosistem Leuser rusak karena penebangan liar. Kerusakan ini terjadi di hulu beberapa anak sungai sehingga dapat menimbulkan banjir seperti sekarang [baca: Walhi: Pembalakan Liar Penyebab Banjir di Kutacane].(ORS/Ariel Maranos dan Cuk Arbianto)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4842263/original/039942900_1716616217-Gorengan1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305541/original/012313500_1784796799-Screenshot_2026-07-23_151441.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673310/original/025399100_1782713964-cek_fakta_purbaya_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/437154/original/300405cBanjirAceh2.jpg)