Wisata Berkelanjutan Dimulai dari Traveler, Ini Etika yang Perlu Diketahui

National Geographic Indonesia dan Legenda Khatulistiwa membahas etika perjalanan dan peran traveler dalam menjaga keberlanjutan destinasi.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wisata berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan menjaga lingkungan, tapi juga bagaimana wisatawan menempatkan diri saat mengunjungi sebuah destinasi.

Kehadiran pengunjung dapat memengaruhi kondisi alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat, terutama ketika popularitas suatu tempat mendorong peningkatan jumlah wisatawan.

Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, menilai pariwisata seharusnya membangun hubungan antara wisatawan dan destinasi, bukan sekadar menjadikan tempat wisata sebagai objek untuk dinikmati.

"Pariwisata itu bukan tentang menikmati, tapi pariwisata itu lebih tentang bagaimana kita menjadi bagian dari destinasi itu," ujar Didi saat event Jelajah Kemolekan Sorong Selatan di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Menurut dia, pemahaman terhadap daya dukung destinasi menjadi salah satu hal penting dalam perjalanan. Ia mencontohkan sebuah desa yang semula mampu menerima sekitar 10 wisatawan.

Ketika jumlah pengunjung meningkat hingga 50 orang, tekanan terhadap lingkungan dan masyarakat dapat ikut bertambah. Wisatawan perlu mengenali karakter destinasi sebelum berkunjung, termasuk kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, serta kemampuan kawasan menerima kedatangan tamu.

Pengetahuan tersebut dapat membantu traveler menentukan aktivitas yang sesuai selama berada di lokasi. Etika perjalanan juga mencakup cara berinteraksi dengan warga, menggunakan fasilitas umum, menghormati budaya lokal, dan menjaga lingkungan.

Setiap aktivitas wisata pun perlu mempertimbangkan dampaknya agar kunjungan tidak mengganggu keseimbangan kawasan maupun kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Etika Traveler Dimulai Sebelum Berangkat

Etika perjalanan perlu dipahami sejak sebelum wisatawan berangkat, bukan setelah tiba di destinasi. CEO Legenda Khatulistiwa, Narendra Manges, menekankan pentingnya mengenali karakter masyarakat setempat, mulai dari kebiasaan, aturan, hingga hal-hal yang dianggap sakral atau tabu.

"Kita biasanya perlu berempati pada masyarakat," ujar Narendra. Sikap tersebut dapat dimulai dengan mencari informasi mengenai kehidupan warga dan memahami batasan yang berlaku di tempat tujuan.

Perbedaan budaya terkadang hadir dalam kebiasaan sederhana. Didi mencontohkan aturan budaya salah satu suku di Papua Barat Daya yang memiliki pantangan terhadap kucing.

"Ada satu suku di sana yang menabukan kucing," katanya. Menurutnya, masyarakat setempat bukan membenci kucing, tetapi memiliki aturan mengenai interaksi hewan tersebut dengan manusia.

Pemahaman semacam ini membantu wisatawan menghormati nilai lokal dan menerapkan etika perjalanan selama menjelajah destinasi.

Operator dan Media Punya Tanggung Jawab yang Sama

Perjalanan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara wisatawan, operator perjalanan, masyarakat, dan pengelola destinasi sejak sebelum kunjungan berlangsung.

Operator dapat membekali traveler dengan informasi mengenai aturan lokal, sementara masyarakat memiliki peran dalam menentukan bentuk kunjungan yang sesuai dengan kondisi wilayahnya.

Legenda Khatulistiwa menerapkan konsep hospitality with impact melalui perjalanan yang memberi ruang bagi wisatawan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Bentuknya dapat berupa berbagi keterampilan hingga membantu memenuhi kebutuhan lokal, sehingga aktivitas wisata turut menciptakan manfaat bagi warga.

Didi menilai pendekatan tersebut penting seiring berkembangnya industri pariwisata dan meningkatnya tekanan terhadap sejumlah destinasi. Kesamaan pemahaman diperlukan agar kepentingan wisatawan tetap berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat serta kelestarian lingkungan.

"Kita perlu menyusun kesepakatan baru," ujar Didi.

Berkontribusi Hanya Dengan Berkunjung

Narendra menilai wisatawan idealnya hadir bukan hanya sebagai tamu yang mengambil pengalaman, melainkan sebagai pihak yang memberikan kontribusi positif bagi tempat yang dikunjungi.

“Kita datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai saudara atau sahabat yang mau meninggalkan tempat itu dan membuat tempat itu jauh lebih baik daripada waktu tidak datang.”

Gagasan tersebut menempatkan traveler sebagai bagian dari ekosistem destinasi. Wisatawan dapat berkontribusi dengan mengikuti aturan lokal, menjaga lingkungan, menghormati budaya masyarakat, hingga memilih aktivitas yang memberi manfaat bagi komunitas setempat.

Kontribusi tidak selalu harus berbentuk kegiatan besar karena sikap selama berada di destinasi pun menentukan dampak perjalanan. Kesiapan destinasi tetap menjadi pertimbangan penting ketika sebuah kawasan mulai mendapatkan perhatian.

Masyarakat perlu memiliki kapasitas untuk menerima kunjungan, sementara wisatawan perlu memahami batas-batas yang telah ditetapkan.