Adrie Basuki Ubah Limbah Tekstil Jadi Material Eksklusif, Kain Marmer Hadirkan Pola Unik

Hingga tahun lalu, Adrie Basuki telah mentransformasikan 6.689 potong pakaian bekas menjadi material eksklusif bernama kain marmer.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Adrie Basuki memilih memandang limbah tekstil bukan sebagai akhir perjalanan sebuah material, melainkan awal dari kemungkinan baru. Cara pandang tersebut membentuk fondasi bagi seluruh inovasi yang ia kembangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Ya, pertumbuhan industri fashion sayangnya turut membawa persoalan berupa limbah tekstil. Jutaan ton pakaian dan sisa produksi berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahun, sementara material seperti polyester dan blended fabric masih sulit didaur ulang dengan teknologi konvensional.

Adrie memperkenalkan kain marmer, inovasi material yang mentransformasikan pakaian bekas dan limbah tekstil menjadi lembaran baru berkarakter visual menyerupai marmer alami. Material ini mampu mengolah berbagai jenis limbah tekstil, mulai dari katun, polyester, hingga blended fabric yang menggabungkan serat alami dan sintetis.

Banyak pendekatan daur ulang tekstil lain masih berfokus pada katun yang relatif mudah diproses kembali menjadi benang, sementara kain marmer mengolah material tersebut tanpa harus mengembalikannya menjadi benang.

"Bagi saya, circular fashion bukan sekadar menggunakan material daur ulang. Circular fashion adalah tentang memberi kesempatan kedua pada material, pada manusia, dan pada cerita yang pernah ada. Ketika sebuah kain memperoleh kehidupan baru, harapan juga ikut lahir bersama proses itu," katanya dalam keterangan, Rabu (26/8/2026).

Limbah tekstil melalui proses pemilahan, pencacahan, pemadatan, dan pembentukan kembali menjadi lembaran material baru. Proses yang dikembangkan selama bertahun-tahun ini menghasilkan permukaan bertekstur dan berpola khas yang menyerupai karakter visual marmer.

 

Tak Ada Lembaran yang Sama

Setiap lembarnya memiliki komposisi dan pola berbeda sehingga tidak ada dua lembar yang benar-benar sama. Keunikan ini menjadikan kain marmer bukan hanya produk daur ulang, melainkan juga medium eksplorasi antara desain, seni, dan inovasi material.

Sejak mulai dikembangkan pada 2020, bahan tersebut tumbuh dari eksperimen material menjadi sebuah platform inovasi.

Hingga 2025, Adrie bersama timnya telah mentransformasikan 6.689 potong pakaian bekas, mengolah 949 kilogram limbah tekstil, menghasilkan 779 meter kain marmer, serta menciptakan 906 produk fashion yang mencakup busana siap pakai, couture, aksesori, karya seni, serta berbagai eksplorasi desain lainnya.

Perjalanan Adrie sebagai desainer mendapat momentum ketika ia meraih gelar Pemenang Lomba Perancang Mode 2021, titik yang menjadikan circular fashion identitas utama dalam praktik kreatifnya. Ia secara konsisten membawa gagasan tersebut ke berbagai panggung mode nasional.

Koleksi "Transforma" menjadi penghormatan bagi penyintas kanker, "Benang Jiwa" yang dipresentasikan bersama Prisia Nasution mengangkat kisah ketangguhan penyintas kanker, sementara koleksi terbaru "Jantung Nadi" mengeksplorasi kesehatan jantung lewat interpretasi batik kontemporer.

Ragam Kreasi Kain Marmer

Konsistensi tersebut membuka ruang kolaborasi lintas industri bagi Adrie. Ia bekerja sama dengan UNIQLO pada 2022 dalam program bertema keberlanjutan, menghadirkan karya bersama Sofitel pada 2023, serta menjalin kolaborasi dengan Mazda Indonesia pada 2026.

Kolaborasi-kolaborasi ini menunjukkan potensi kain marmer berkembang melampaui fashion, mencakup ranah aksesori, seni, dan interior. Dampak sosial turut menjadi bagian penting dari perjalanan kain marmer.

Melalui workshop, pelatihan, dan berbagai program kolaborasi, Adrie bekerja sama dengan Cancer Information & Support Center, Love Pink Indonesia, Make-A-Wish Indonesia, dan Yayasan Jantung Indonesia.

Program-program ini melibatkan penyintas kanker, perempuan dari komunitas rentan, ibu rumah tangga dengan keterbatasan akses ekonomi, seniman neurodivergent, dan perajin lokal, menjadikan fashion sebagai sarana membangun keterampilan, sekaligus membuka akses ekonomi kreatif.

Bagi Adrie, setiap orang memiliki cerita yang layak dihargai, sebagaimana setiap potongan kain memiliki kesempatan untuk memperoleh kehidupan baru.Â