Liputan6.com, Jakarta - Decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan menjadi kondisi yang semakin sering dialami ketika seseorang harus menghadapi banyak pilihan dalam satu hari. Memilih menu makan siang, menentukan pakaian yang dikenakan, hingga memutuskan kapan harus membalas pesan mungkin terlihat sebagai hal sederhana.
Namun, keputusan-keputusan kecil yang terus menumpuk dapat membuat otak kehilangan energi untuk memproses pilihan berikutnya. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan seseorang dalam membuat keputusan mulai menurun setelah dihadapkan pada banyak pilihan dalam waktu berdekatan.
Akibatnya, seseorang dapat mengambil keputusan secara terburu-buru, merasa ragu, bahkan memilih untuk menghindari keputusan sama sekali, melansir Cleveland Clinic, Rabu, 5 Agustus 2026.
Advertisement
Setiap keputusan membutuhkan energi mental. Semakin banyak pilihan yang harus dipertimbangkan, semakin besar pula beban yang diterima otak. Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan aktivitas berikutnya.
Decision fatigue tidak hanya dialami oleh orang dengan tanggung jawab besar dalam pekerjaan. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja ketika menjalani hari yang dipenuhi berbagai pilihan, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, hingga aktivitas pribadi.
Mengenali tanda-tanda decision fatigue menjadi langkah awal untuk menjaga energi mental. Kondisi ini dapat dikurangi dengan membangun kebiasaan sederhana, seperti menentukan prioritas, membatasi pilihan yang kurang penting, dan membuat rutinitas harian agar otak memiliki ruang untuk fokus pada keputusan yang lebih bermakna.
Kurangi Pilihan yang Tidak Perlu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540588/original/029372600_1774771050-pexels-cottonbro-6068950.jpg)
Salah satu cara mengurangi decision fatigue adalah membatasi jumlah keputusan yang perlu diambil setiap hari. Pilihan sederhana, seperti menentukan pakaian, menyusun menu makan, atau mengatur jadwal aktivitas, dapat dibuat lebih praktis melalui rutinitas.
Kebiasaan ini membantu menghemat energi mental agar otak tetap fokus pada keputusan yang lebih penting. Selain itu, menyusun prioritas juga dapat membuat pikiran lebih terarah.
Buat daftar tugas sejak pagi, lalu tentukan pekerjaan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu dan hal-hal yang masih bisa ditunda. Dengan mengurangi keputusan kecil yang berulang, seseorang dapat menjaga kualitas berpikir dan lebih siap menghadapi pilihan besar yang membutuhkan perhatian lebih.
Advertisement
Istirahatkan Pikiran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540590/original/047701400_1774771056-pexels-yankrukov-7156567.jpg)
Memberikan waktu istirahat di sela aktivitas dapat membantu mengurangi kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan. Ketika otak terus bekerja tanpa jeda, kemampuan untuk berpikir jernih dapat menurun sehingga seseorang lebih rentan mengambil keputusan secara impulsif atau merasa kesulitan menentukan pilihan.
Berjalan kaki sejenak, melakukan peregangan, menarik napas dalam, atau menjauh dari layar komputer selama beberapa menit dapat membantu mengembalikan fokus. Selain itu, tidur yang cukup juga penting karena otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah menjalani berbagai aktivitas.
Tubuh dan pikiran yang lebih segar membuat seseorang mampu mempertimbangkan pilihan dengan lebih tenang dan rasional. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga kualitas keputusan sekaligus meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.
Kenali Batas Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222438/original/074919700_1747394059-steptodown.com722087.jpg)
Ketika pikiran mulai terasa penuh atau emosi sedang tidak stabil, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan dapat menjadi langkah yang bijak. Waktu sejenak untuk berhenti membantu seseorang berpikir lebih tenang dan mengurangi risiko membuat pilihan secara terburu-buru.
Selain mengelola pikiran, menjaga kebutuhan dasar tubuh juga berperan penting. Mengonsumsi makanan secara teratur, mencukupi kebutuhan cairan, berolahraga, serta memiliki waktu istirahat yang cukup dapat membantu menjaga energi fisik dan fungsi otak.
Kondisi tubuh yang lebih sehat membuat seseorang lebih siap menghadapi berbagai pilihan dalam keseharian. Jika kelelahan mental mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332664/original/083950800_1787714967-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-26T102837.135.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333221/original/001778100_1756612376-petani_milenial_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540587/original/051362600_1774771046-pexels-karola-g-7320325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331325/original/078124000_1787538384-0f71d4dc-3c5c-4371-9478-707349ef9548.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3103611/original/026099200_1587012256-photo-1518458028785-8fbcd101ebb9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332654/original/044095200_1787714618-ChatGPT_Image_Aug_26__2026__10_20_01_AM.jpg)