KALA, Ketika TOTON Merayakan Perubahan yang Tak Pernah Berhenti

TOTON menutup Mulia in Fashion 2026 lewat KALA, koleksi yang lahir dari refleksi tentang waktu dan perubahan.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Waktu tak pernah meminta izin untuk bergerak. Ia datang bersama perubahan, menghapus yang lama, menghadirkan yang baru, lalu meninggalkan manusia untuk mencari makna di antaranya. Di tengah dunia yang kian sulit ditebak, TOTON memilih memandang waktu bukan sebagai ancaman, melainkan kekuatan yang terus membentuk kehidupan.

Gagasan itu menjelma menjadi KALA, koleksi terbaru TOTON 2027 yang menutup rangkaian Mulia in Fashion 2026 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026. Panggung malam itu terasa begitu magis.

Runway putih membentang luas dengan titik pertunjukan berada di tengah ruangan, membuat pandangan penonton tidak terhalang. Tak ada dekorasi berlebihan yang mencuri perhatian. Hanya sebuah instalasi seni ogoh-ogoh berdiri kokoh sebagai pusat pandang, menghadirkan bayang Batara Kala yang menjadi ruh koleksi.

"Kami melihat waktu sebagai kekuatan yang tidak bisa dikendalikan, tapi selalu membentuk cara manusia hidup, berpikir, dan beradaptasi," kata sang desainer tentang koleksinya.

Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali kerap dimaknai sebagai lambang kehancuran dan kematian. Namun, TOTON justru membaca sosok itu sebagai pengingat bahwa setiap akhir selalu menyisakan ruang bagi kelahiran yang baru.

Cara pandang tersebut lahir dari kegelisahan terhadap dunia yang terus bergerak di antara krisis politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ketidakpastian bukan lagi peristiwa sesaat, melainkan denyut yang kini menyertai keseharian.

KALA tidak menawarkan pelarian dari kenyataan. Koleksi ini mengajak melihat bahwa perubahan selalu memiliki ritme. Kekacauan menyimpan pola. Kehancuran membuka jalan bagi kehidupan berikutnya. Di situlah manusia belajar bertahan, bukan dengan melawan waktu, melainkan berjalan bersamanya.

2 Bahasa Busana

Gagasan itu diterjemahkan melalui perjumpaan dua bahasa busana yang seolah berasal dari dunia berbeda. Di satu sisi, TOTON menggali kekayaan tradisi Indonesia melalui kebaya, baju bodo, busana tradisional Bali, serta praktik berkain yang terus hidup karena mampu beradaptasi lintas zaman.

Tradisi hadir bukan sebagai benda museum, melainkan napas yang terus bergerak mengikuti kehidupan. Di sisi lain, safari suit dan busana militer memberi ritme yang lebih tegas. Garis-garis terstruktur, potongan yang fungsional, dan siluet yang kokoh menghadirkan kesan siap menghadapi apa pun yang datang.

Ketika kedua dunia itu dipertemukan, lahirlah percakapan yang tenang antara kelembutan dan ketegasan, antara transparansi dan perlindungan, antara ingatan masa lalu dan langkah menuju masa depan.

Sebanyak 48 tampilan melintasi runway seperti halaman-halaman dalam sebuah kisah. Masing-masing menghadirkan cara baru membaca identitas yang tidak pernah benar-benar selesai dibentuk. Budaya tampak lentur mengikuti zaman, tapi akarnya tetap tertanam kuat.

Palet Warna

Palet warna yang dipilih turut menguatkan suasana tersebut. Krem, putih gading, merah muda lembut, abu-abu, hitam, emas, serta berbagai warna tanah menghadirkan ketenangan yang tidak berusaha mencuri perhatian.

Warna-warna itu membiarkan tekstur, lipatan, dan konstruksi busana berbicara dengan caranya sendiri. Di sela nuansa yang membumi, hadir semburat biru yang terinspirasi dari bunga telang. Warnanya muncul seperti jeda di tengah perjalanan, memberi napas baru pada keseluruhan koleksi.

Bunga yang akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia itu dipilih sebagai lambang ketahanan, regenerasi, dan femininitas yang teguh. Kehadirannya menjadi isyarat bahwa harapan selalu menemukan jalan untuk tumbuh.

Cerita tentang waktu berlanjut pada pilihan material. Katun, organza, lace, tulle, satin, dan denim dipadukan untuk menghadirkan keseimbangan antara kelembutan dan struktur. 

Eksplorasi tekstil melalui berbagai teknik manipulasi dan pengerjaan tangan kembali menjadi ciri yang melekat pada TOTON. Detail demi detail lahir melalui sentuhan manusia, menghadirkan kesan bahwa setiap rancangan memiliki denyutnya sendiri.

Finale

Komitmen terhadap praktik yang lebih bertanggung jawab juga terus dijaga. TOTON melanjutkan eksplorasi material daur ulang dan daur naik, sekaligus berkolaborasi dengan Asia Pacific Rayon (APR) sebagai featured fabric partner melalui penggunaan Lyocell dan Rayon pada sejumlah rancangan.

Menjelang penutupan peragaan, sebuah momen tak terduga justru menjadi pengingat paling nyata tentang tema yang diusung malam itu. Seorang model tampak kesulitan berjalan melintasi runway.

Langkahnya sempat goyah, tapi ia tetap menyelesaikan putaran finale dengan dipapah rekannya. Aksi itu berbuah sambutan hangat penonton yang memberi dukungan lewat tepuk tangan meriah.

Pemandangan itu terasa seperti perpanjangan dari kisah yang sedang diceritakan KALA: manusia boleh tersandung oleh waktu, tapi selalu ada keberanian untuk bangkit dan uluran tangan yang membuat perjalanan dapat diteruskan