Fenomena Mantan Digital di China, Picu Perdebatan soal Perselingkuhan Emosional

Fenomena mantan digital di China memungkinkan pengguna menciptakan replika eks pasangan menggunakan teknologi AI.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren AI yang berkembang di China menghadirkan fenomena unik di kalangan anak muda, yakni menciptakan mantan digital dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Inovasi ini memungkinkan mereka yang tengah mengalami putus cinta untuk menghidupkan kembali sosok mantan pasangan dalam ruang virtual.

Melansir South China Morning Post, Sabtu, 2 Mei 2026, replika berbasis AI tersebut mampu meniru berbagai aspek personal, mulai dari nada bicara, gaya bahasa, hingga nuansa linguistik yang khas. Bahkan, mantan digital ini dapat berinteraksi secara percakapan dengan pola pikir yang terasa familiar, sehingga menghadirkan pengalaman emosional yang mendekati hubungan nyata.

Untuk menciptakannya, pengguna mengunggah data seperti riwayat obrolan, unggahan media sosial, serta foto ke platform AI. Sistem kemudian mengolah data tersebut menggunakan paket khusus, seperti Ex-partner.skill, untuk membangun versi awal karakter virtual.

Pengguna juga dapat menyempurnakan kepribadian AI dengan menambahkan kenangan pribadi, mulai dari perjalanan bersama, kebiasaan sehari-hari, hingga momen spesial dan konflik di masa lalu. MenarIKNya, beberapa pengguna bahkan mengintegrasikan mantan digital ini ke dalam aplikasi perpesanan seperti WeChat.

Salah satu pengguna dengan akun @Bingtangcheng mengaku menghabiskan waktu semalaman untuk melatih AI tersebut. Ketika versi digital mantannya akhirnya muncul di aplikasi, ia mengungkapkan, "Semua usahaku terbayar."

Meski menawarkan pendekatan baru dalam penyembuhan emosional, tren ini juga memicu perdebatan luas. Isu privasi, potensi ketergantungan emosional, serta batas etis penggunaan teknologi dalam hubungan personal menjadi perhatian utama di tengah pesatnya perkembangan AI.

Dari Alat Kerja ke Relasi Pribadi

Fenomena ini berawal dari proyek sumber terbuka bernama Colleague.skill yang dikembangkan Zhou Tianyi, seorang insinyur kecerdasan buatan yang berbasis di Shanghai. Pada tahap awal, Colleague.skill dirancang sebagai alat produktivitas untuk menghasilkan paket keterampilan AI yang dapat digunakan kembali. Sistem ini bekerja dengan mengolah komunikasi sehari-hari, dokumen, serta pengalaman kolaboratif guna membantu tim melestarikan dan memanfaatkan pengetahuan karyawan secara lebih efisien.

Seiring meningkatnya popularitasnya di ranah daring, fungsi alat ini mulai bergeser. Para pengembang dan pengguna kemudian mengadaptasinya dari kebutuhan profesional ke ranah personal, termasuk hubungan individu. Sejumlah programmer bahkan mulai bereksperimen dengan mengunggah data biografi untuk menciptakan replika digital tokoh publik seperti Elon Musk dan Steve Jobs.

Di sisi lain, ada pula pengguna yang memanfaatkan log percakapan dan catatan rapat dengan atasan mereka. Data tersebut kemudian dianalisis oleh AI untuk memetakan gaya komunikasi dan kebiasaan kerja, sehingga memungkinkan simulasi berbagai skenario profesional.

Meski demikian, Zhou Tianyi telah memperingatkan agar teknologi ini tidak disalahgunakan untuk 'meniru' individu secara berlebihan. Kenyataannya, penggunaan di lapangan justru berkembang ke arah yang lebih personal dan emosional, dengan pengalaman intim sering kali turut diintegrasikan ke dalam sistem AI tersebut.

Mantan Digital Jadi Pelarian Emosional

Di tengah perkembangan tersebut, fitur mantan digital yang dikenal sebagai Ex-partner.skill dengan cepat meraih popularitas di kalangan anak muda di China. Fitur ini memungkinkan pengguna menciptakan kembaran mantan berbasis AI yang mampu meniru gaya komunikasi dan kepribadian pasangan di masa lalu.

Karena tingkat kerumitan teknisnya, tidak semua pengguna dapat mengoperasikan sistem ini secara mandiri. Akibatnya, muncul jasa instalasi yang ditawarkan oleh sesama pengguna internet dengan tarif berkisar antara 25 hingga 45 yuan (sekitar Rp63 ribu sampai Rp114 ribu).

Para pendukung tren ini menilai bahwa kehadiran mantan digital dapat memberikan kenyamanan emosional, sekaligus menjadi sarana untuk menyelesaikan perasaan yang belum tuntas. "Akhirnya aku bisa mengatakan hal-hal yang selama ini tidak pernah kukatakan, dan itu membuatku merasa jauh lebih baik," ujar seorang pengguna.

Pengguna lain bahkan mengungkapkan bahwa setelah mengunggah ribuan log percakapan ke dalam sistem AI, hasilnya justru menyerupai perpisahan kedua. Meski demikian, proses tersebut membantu mereka merefleksikan hubungan secara lebih rasional, sekaligus memberi kekuatan untuk benar-benar melangkah maju.

Pro dan Kontra Antara Penyembuhan Emosional, Privasi, dan Etika

Namun, tren ini tidak sepenuhnya diterima semua pihak. Sejumlah kritikus menilai kemunculan 'mantan digital' berpotensi menciptakan bentuk baru perselingkuhan emosional, terutama ketika pengguna tetap berinteraksi dengan replika mantan sambil menjalani hubungan baru di dunia nyata.

Wanqiu, seorang konsultan pernikahan dari Guangdong, berpendapat bahwa merindukan hubungan masa lalu bukanlah bentuk pengkhianatan emosional. Menurutnya, hal tersebut merupakan respons yang wajar. "Itu adalah reaksi emosional yang normal. Selama tidak membahayakan pasangan Anda saat ini, hal itu tidak seharusnya dianggap sebagai perselingkuhan. Bahkan, pasangan dapat memanfaatkan mantan di dunia maya untuk merefleksikan masalah masa lalu dan memperkuat hubungan yang sedang dijalani," jelasnya.

Isu privasi turut menjadi sorotan. Zhong, seorang pengacara yang juga berbasis di Guangdong, menegaskan bahwa penggunaan data pribadi seperti riwayat percakapan atau unggahan media sosial tanpa persetujuan dapat melanggar undang-undang perlindungan data.