Apa Itu Fitobiotik yang Disarankan Rutin Dikonsumsi untuk Menurunkan Hipertensi?

Konsumsi fitobiotik merupakan bagian dari upaya preventif dalam kasus hipertensi, alih-alih upaya kuratif.

Diterbitkan 11 Januari 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hipertensi alias tekanan darah tinggi merupakan silent killer yang bisa mengantarkan seseorang ke penyakit yang lebih parah. Kondisi tersebut bisa muncul perlahan karena gaya hidup yang tidak sehat. Karena itu, perubahan pola hidup diperlukan agar hipertensi bisa terkendali.

Perubahan yang dimaksud adalah menghindari makanan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, dan waktu istirahat yang tidak optimal. Bila perlu, Anda mengonsumsi fitobiotik setiap hari. Apa itu?

"Fitobiotik adalah herbal fermentasi berbasis probiotik yang dikonsumsi sebagai bagian dari gaya hidup sehat," kata Aditya Herbawono sebagai perwakilan Jamtens, dalam keterangan tertulis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan fitobiotik berfungsi sebagai suplemen yang mengedepankan upaya preventif daripada kuratif. Dalam konteks pencegahan hipertensi, fitobiotik digunakan bertujuan membantu melancarkan pembuluh darah dan mendukung kestabilan tekanan darah, tanpa diposisikan sebagai solusi instan atau pengganti pengobatan medis.

"Hipertensi sering kali tidak terasa di awal, sehingga banyak orang merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan rutin. Kami ingin mendorong kesadaran bahwa menjaga kesehatan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi dalam kebiasaan sehari-hari," sambungnya.

Fitobiotik produksinya mengandung daun sirih merah dan seledri. Sejumlah riset memaparkan bagaimana kedua bahan alami itu membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

 

Kandungan dalam Daun Sirih Merah

Mengutip laman Puskesmas Mlati II, di Indonesia, daun sirih merah sejak lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di Indonesia karena manfaat kesehatan yang beragam. Daun tanaman bernama latin Piper ornatum itu mengandung antioksidan yang tinggi, baik senyawa flavonoid dan polifenol, serta senyawa alkoloid. 

Senyawa flavonoid dan polifenol berkhasiat untuk mencegah kanker dan juga digunakan sebagai bahan antinflamasi, antiseptik, antioksidan, dan antidiabetik. Sementara, senyawa alkoloid di dalam daun sirih merah bisa membantu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh manusia.

Biasanya daun sirih merah dimanfaatkan dalam bentuk air rebusan. Bagi orang yang mengalami diabetes tipe 2, rutin konsumsi rebusan air daun sirih merah dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Itu diperoleh dari kandungan antiokdan tinggi yang bisa mengurangi stres oksidatif penyebab kerusakan sel-sel tubuh pemicu ketidakseimbangan hormon insulin, mekanisme serupa juga berlaku untuk fungsi menurunkan tekanan darah tinggi.

 

Kandungan Seledri untuk Kesehatan Tubuh

Mengutip pmc.ncbi.nlm.nih.gov, seledri (Apium graveolens), tanaman herba biennial asli wilayah Mediterania, telah dibudidayakan selama berabad-abad. Selama lebih dari 200 tahun, seledri telah ditanam untuk tujuan pengobatan sebelum dikonsumsi sebagai bahan makanan.

Studi mengungkapkan bahwa seledri kaya akan vitamin, mineral, ftalida, dan flavonoid seperti apigenin dan luteolin, yang bersifat anti-inflamasi dan antitumor yang kuat. Selain itu, seledri mengandung silika, klorofil, dan kandungan serat yang tinggi serta terdiri dari sekitar 95% air.

Karena sifat antioksidan dan potensi anti-inflamasinya, berbagai bagian (biji, daun, batang, dan akar) telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati radang sendi, penyakit saluran kemih, dan tekanan darah tinggi. Selain itu, seledri memiliki efek perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular (CVD), profil lipid tinggi, kadar gula darah tinggi pada pasien diabetes tipe 2, dan obesitas.

Komponen aktif seledri, termasuk 3-n-butilftalida (NBP) dan apigenin, dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan bertindak sebagai diuretik dan vasodilator. Selain itu, efektivitasnya mirip dengan obat penghambat saluran kalsium. Mereka juga dapat menurunkan kadar kolesterol dan pembentukan plak arteri, sehingga berkontribusi pada penurunan tekanan darah.

 

 

 

Gejala-gejala Hipertensi

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 34 persen penduduk dewasa di Indonesia mengalami hipertensi. Angka ini meningkat setiap tahun seiring pola hidup tidak sehat, stres, dan konsumsi makanan tinggi garam. Mengutip kanal Health Liputan6.com, kondisi ini menjadi penyebab utama penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal yang memerlukan penanganan intensif di rumah sakit.

Hipertensi dikenal berbahaya karena sering tidak menimbulkan keluhan awal. Namun, beberapa gejala dapat muncul saat tekanan darah mencapai tingkat berbahaya:

Sakit Kepala dan Pusing: Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan intrakranial, menyebabkan sakit kepala berat.

Gangguan Penglihatan: Pandangan kabur atau ganda dapat menjadi tanda pembuluh darah mata terpengaruh.

Mimisan dan Mual: Kondisi ini kerap muncul pada krisis hipertensi yang membutuhkan penanganan segera.

Nyeri Dada dan Sesak Napas: Mengindikasikan jantung bekerja terlalu keras memompa darah.

Denyut Jantung Tidak Teratur: Dapat menunjukkan hipertensi kronis yang sudah memengaruhi irama jantung. Menurut American Heart Association (AHA), pemeriksaan rutin tekanan darah setiap tahun sangat disarankan untuk mendeteksi kondisi ini sejak dini.