8 Kostum Nasional Miss Universe 2025 dari ASEAN, Sanly Liu Usung Tradisi Bali ke Panggung

Kompetisi kostum nasional di ajang Miss Universe 2025 selalu menarik perhatian karena keunikan desainnya.

Diterbitkan 21 November 2025, 04:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Panggung Miss Universe menjadi kanvas global untuk merayakan kekayaan budaya, dan tahun ini, kawasan Asia Tenggara kembali membuktikan diri sebagai gudang warisan yang memukau. Kompetisi kostum nasional pada ajang Miss Universe 2025 menjadi sorotan utama dan diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada Rabu, 19 November 2025.

Momen itu merupakan bagian integral dari penjurian awal yang menampilkan busana unik dari 120 kontestan yang mewakili negara dan teritori masing-masing. Delapan perwakilan ASEAN, termasuk Indonesia, memamerkan kostum nasional mereka sebagai pernyataan historis, filosofis, dan artistik.

1. Sanly Liu dari Indonesia

Sanly Liu membawa kostum nasional bertema Bali Yadnya - The Eternal Offering of Devotion. Kostum yang didesain Inggrid Kendran itu adalah perwujudan filosofi suci Bali, Yadnya, yang melambangkan pengabdian tanpa pamrih dan keseimbangan hidup.

Kostum itu terinspirasi oleh tradisi suci persembahan Bali, yang dikenal sebagai banten dan peed, simbol rasa syukur dan keseimbangan antara kemanusiaan, alam, dan yang ilahi. "Dalam filosofi Bali, Yadnya melambangkan pengabdian tanpa pamrih tindakan murni memberi dari hati untuk menghormati harmoni kehidupan yang tidak terlihat," dalam unggahan Instagram @sanlyliuuu pada 19 November 2025.

Kostum ini mewujudkan keagungan gebogan, persembahan menara yang terbuat dari buah-buahan dan bunga yang dibawa wanita Bali dengan anggun selama upacara di pura. Setiap lapisan gebogan melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan hubungan abadi antara surga dan bumi, mencerminkan esensi pengabdian jiwa Bali.

2. Ahtisa Manalo dari Filipina

Ahtisa Manalo mempersembahkan kostum yang diberi nama "Tradisi yang Dihargai: Ratu Festival," sebuah kostum yang melambangkan keanggunan abadi. Busana ini dimulai dari siluet klasik traje de mestiza yang terdiri dari camisa (blus) berlengan lonceng, rok, dan pañuelo sederhana di bahu, dan berevolusi menjadi terno modern, pakaian nasional Filipina.

Elemen-elemen ini memberi penghormatan kepada pahlawan wanita tercinta dari novel Noli Me Tangere karya Dr. Jose Rizal, yaitu Maria Clara simbol Filipina yang idea, saleh, sederhana, dan terhormat. Pakaian ini berevolusi menjadi terno modern, pakaian nasional Filipina.

Kostum ini dibuat dari piña yang disulam tangan, tenunan dari serat halus daun nanas, menjadikannya mahakarya kesenian Filipina. Kilau alami piña mencerminkan kilau Filipina yang ulet, berseri, dan berakar pada warisannya.

Rok yang berlipat-lipat terinspirasi oleh perayaan termegah di Filipina, seperti Festival Lentera Raksasa Pampanga (simbol harapan dan persatuan, Festival Pahiyas Lucban (menghormati panen melalui warna-warna semarak), dan Festival Panagbenga Baguio (perayaan besar bunga). Kostum ini didesain oleh Maktumang, tulis akun Instagram @ahtisa pada 19 November 2025.

 

3. Chloe Lim dari Malaysia

Dari Pantai Sabah yang memesona, Chloe Lim membawakan "The Majestic of Anjung Serimpak" Kostum ini adalah penghormatan kepada warisan maritim suku Bajau Sama, pelaut tak kenal takut. Hiasan kepala Serimpak yang berbentuk kapal layar, berpadu dengan aksen emas bangsawan, mewujudkan semangat laut yang agung.

Busana hijau laut dihiasi manik-manik berkilauan yang memantulkan harta karun lautan Sabah. Mengutip akun Instagram @chloelimsl, dilengkapi properti Duang Sama berwarna pelangi, Chloe bersinar sebagai mahkota identitas yang hidup, merayakan persatuan dan keagungan abadi wanita Bajau Sama.

Busana ini dihiasi kain hijau laut dengan manik-manik berkilauan yang mencerminkan harta karun lautan Sabah, memancarkan keindahan dan kekuatan. Ansambel dilengkapi properti Duang Sama yang meledak dengan warna pelangi, sebagai penghormatan penuh sukacita terhadap persatuan dan perayaan budaya. Kostum yang didesain Mell Sulaiman itu memadukan seni Bajau dengan kehalusan Kerajaan Perak, bersinar sebagai mahkota identitas yang hidup, simbol kebanggaan, ketahanan, dan keagungan abadi wanita Bajau Sama.

4. Socheata (Fiyata) dari Kamboja

Kontestan Kamboja, Socheata (Fiyata), dengan bangga mempersembahkan "Jaby Emas / Jabi Emas”. Dikutip dari keterangan akun Instagram @fi.yata, kostum ini disiapkan untuk mewakili Kamboja di panggung internasional dan merupakan bentuk penghormatan terhadap semangat kakek buyut Khmer, seperti "Prach Choun, Kong Nai, Keo Bich". Kostum itu didesain Skor Krob.

Keturunan Kamboja meminta hak untuk menjadikan jabi (alat musik) yang elegan sebagai warisan dunia untuk diperingati di panggung internasional, agar dunia dapat mengingat "jabi dong veng" Khmer selamanya. Kostum nasional jabi emas berdesain yang lebih elegan namun tetap mempertahankan bentuk aslinya. Mahkota yang digunakan dibuat dari batang jabi asli berlapis emas.

 

 

5. Veena Singh asal Thailand

Veena Singh hadir dengan "Suvarnaraksa, raksasa yang melindungi Suvarnabhumi" Kostum yang didesain Art Akrachnermitisin ini adalah manifestasi fisik dari seni, budaya, dan semangat Thai, yang dianggap sebagai harta tak ternilai.

Di bawah sorotan, kostum ini terasa lebih dari sekadar pakaian, ia membawa cerita, warisan, dan sepotong budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kostum ini memegang sejarah dan rasa rumah, seolah-olah seluruh bangsa berada di balik setiap langkah.

Dalam unggahan Instagram miliknya @veenapraveenar pada (19/11/2025), kostum itu bukan sekadar kostum, tetapi terasa seperti energi pelindung yang dibentuk oleh tanah, rakyat, dan cerita-cerita yang membangun Thailand. Ketika tiba di atas panggung, semangat itu terasa nyata, dan kostum ini tidak hanya dipakai, tetapi juga hidup.

 

6. Myat Yadanar Soe asal Myanmar

Meskipun diunggah dengan judul sederhana pada akun Instagram @myat_yadanar_slay pada (18/11/2025) "NC," Kostum Nasional Myanmar yang dikenakan oleh Myat Yadanar Soe adalah perwujudan keanggunan tradisional dengan sentuhan kontemporer. Busana panjang yang elegan ini menonjolkan potongan pinggang yang pas dan lengan lonceng lebar yang dihiasi bordir emas.

Motif emas rumit menutupi rok bagian bawah, memberikan kesan mewah dan agung. Aksesori kalung manik-manik hijau zamrud memberikan kontras yang menyegarkan. Myat Yadanar Soe memancarkan keanggunan yang berakar kuat pada tradisi, namun disesuaikan dengan kemewahan panggung internasional.

 

7. Huong Giang asal Vietnam

Huong Giang dari Vietnam memilih untuk mewakili "Keindahan Tak Terbatas (Infinite Beauty)" negaranya dengan Áo Dài putih yang anggun. Pakaian tradisional Vietnam yang dikenal dengan siluetnya yang panjang, pas badan, dan elegan ini dipilih dalam warna putih untuk melambangkan kemurnian dan kesederhanaan, tulis akun Instagram @missuniversevietnam.official pada (19/11/2025).

Menambahkan unsur yang relatable dan menyentuh hati, Huong Giang berjalan di panggung sambil membawa sepeda, lengkap dengan keranjang depan yang diisi bunga merah. Sebuah representasi keindahan klasik yang membumi.

 

8. Annika Sager dari Singapura

Mengungkap semangat Singapura yang semarak untuk SG60, kostum nasional yang didesainJosiah Chua merupakan penghormatan yang mencolok terhadap persatuan dalam keberagaman. Mengutip keterangan unggahan @missuniversesingapore.official, ansambel merah yang berani menampilkan tekstil rumit yang mewakili komunitas Tionghoa, Melayu, India, dan Eurasia. Setiap lapisan menghormati koneksi, ketahanan, dan inklusivitas—semangat kolektif yang mendefinisikan Singapura.

"Detail khasnya mencakup lapisan-lapisan yang membangkitkan keterkaitan empat kelompok etnis utama kami, diselingi dengan aksen yang terinspirasi oleh tekstil multikultural yang ditemukan di lingkungan Singapura. Konstruksi gaun ini terinspirasi dari kerajinan tangan dan metode desain yang ramah lingkungan, yang mengakui tradisi dan inovasi," bunyi unggahan tersebut.

Kostum ini melambangkan warisan kolektif dan perjalanan pribadi delegasi, Annika Xue Sager, yang merupakan keturunan campuran Tionghoa Singapura dan Jerman. Gaun tersebut merayakan inklusivitas, persatuan dalam keberagaman, dan ketahanan—nilai-nilai inti Singapura saat menandai 60 tahun kemerdekaan.