Mengenal Indonesia Quality Tourism Fund yang Ditargetkan Mulai Bergulir pada 2026

Indonesia Quality Tourism Fund merupakan perluasan dari Indonesia Tourism Fund yang sudah dicanangkan sejak era Menparekraf Sandiaga Uno yang saat itu spesifik untuk membiayai penyelenggaraan event. Apa bedanya dengan skema pembiayaan saat ini?

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sedang menyusun skema pembiayaan baru untuk sektor pariwisata, yakni Indonesia Quality Tourism Fund (IQTF). Skema itu merupakan perluasan dari Indonesia Tourism Fund yang wacananya sudah digulirkan sejak era Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno untuk membiayai pelaksanaan event di Indonesia.

Bedanya, kata Deputi Bidang Industri dan Investasi Pariwisata Kemenpar Rizki Handayani, terletak pada elemen yang bisa dibiayai. Kini, skema itu dirancang tidak hanya untuk membiayai penyelenggaraan event IP Indonesia, baik nasional maupun internasional, tetapi juga bisa untuk pengembangan ekosistem pariwisata berkualitas, khususnya yang menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan.

Ekosistem pariwisata berkualitas itu meliputi pengembangan produk wisata, pengembangan fasilitas wisata, dan pengembangan layanan wisata.

"Sebagai mekanisme pembiayaan hijau (green financing facility) IQTF ini mendukung prinsip Blue, Green, and Circular Economy (BGCE) dalam pengembangan pariwisata nasional," kata Rizki Handayani, Deputi Bidang Industri dan Investasi Pariwisata, Kemenpar, dalam sesi diskusi Menangkap Peluang Baru - Investasi yang Menguatkan Ekosistem Pariwisata dalam Indonesia Tourism Outlook 2025, di Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2025.

Mereka yang berhak mengajukan proposal untuk mendapatkan IQTF terdiri dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), badan usaha dengan kepemilikan saham mayoritas dimiliki WNI, satuan kerja dengan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU), dan satuan kerja dengan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

"Dengan itu, sebenarnya kita bisa mendorong pariwisata yang dilakukan daerah itu mengarah ke pariwisata yang berkelanjutan dan berkualitas," kata Kiki, sapaan akrabnya.

Sumber Pendanaan Indonesia Quality Tourism Fund

Kiki menerangkan bahwa sumber pembiayaan IQTF nantinya bisa berasal dari APBN yang dananya dikelola badan yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Selain itu, pemerintah juga mencari sumber-sumber pembiayaan lain dari bilateral maupun multilateral yang sifatnya bisa berupa hibah atau pinjaman dengan tingkat pengembalian rendah.

"Ini yang kemudian kita lagi mencari dana-dana green, sumber pembiayaan hijau lainnya di luar (negeri) yang memang tertarik, karena sebenarnya sudah ada beberapa yang tertarik," ucapnya.

Kiki juga mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan financial technology (fintech) sudah diajak untuk ikut mendukung pembiayaan bidang pariwisata, khususnya mendanai pengusaha berskala UMKM. Kemenpar, sambung dia, bertugas untuk menjodohkan antara sumber pembiayaan dengan pelaku usaha yang dinilai layak mendapatkannya.

"Kita sudah dapat pelakunya yang bisa kemudian dimanfaatkan. Kita mempertemukan, jadi matchmaking dengan sumber-sumber pembiayaan," imbuh Kiki.

 

Rencana Menggulirkan Indonesia Quality Tourism Fund

Kiki menyatakan aturan legal formal tentang skema pembiayaan IQTF masuk proses harmonisasi antar-kementerian. "Masih ada beberapa aspek yang belum disepakati, tapi mudah-mudahan 2026, tahun depan, dana ini mulai bisa kita gulirkan ke masyarakat," kata dia. 

Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana berulang kali mengungkapkan salah satu strategi meningkatkan kontribusi sektor pariwisata pada PDB adalah dengan program Pariwisata Naik Kelas. Program tersebut bertujuan mewujudkan pariwisata yang menekankan nilai, keberlanjutan, dan pengalaman bermakna dari sekadar kunjungan.

Program itu memanfaatkan berbagai minat khusus sebagai daya tarik pariwisata. "Kami memfokuskan gastronomi, wisata bahari, dan wellness yang bertujuan meningkatkan kualitas pengalaman wisata, meningkatkan pengeluaran wisawatan, serta meningkatkan kontribusi kepada devisa negara," ujar Menpar.

 

3 Program Wisata Naik Kelas

Di bidang gastronomi, Kemenpar telah menggelar event Wonderful Indonesia Gourmet di dua kota, yakni Jakarta dan Bali. Ada pula program Serasa yang bekerja sama dengan beberapa kementerian untuk meningkatkan jumlah restoran Indonesia di luar negeri. Program terakhir merupakan pengganti dari program Indonesia Spice Up the World yang dilaksanakan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Sementara, di sektor wellness, Kemenpar bekerja sama dengan Keraton Yogyakarta dan Surakarta akan menggelar Wonderful Indonesia Wellness di dua kota tersebut pada November 2025. Sepanjang bulan depan, setiap akhir pekan, akan digelar beragam acara tematik yang menargetkan tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara.

Terakhir, untuk wisata bahari, Menpar mengungkapkan akan merilis Wonderful Indonesia Diving Guide. "Program ini diharapkan dapat meningkatkan spending yang dikeluarkan wisatawan dan lama tinggal di destinasi yang lebih panjang sehingga dapat menciptakan dampak ekonomi yang lebih nyata dan berkelanjutan," ucap Menpar Widi dalam keynote speechnya.