Pria Pengangguran Makan 1.095 Makanan Gratis dalam 2 Tahun karena Mengadali Aplikasi Pengiriman

Metodenya melibatkan layanan pengiriman dan membuat klaim palsu melalui aplikasi bahwa makanan belum sampai untuk mendapatkan pengembalian uang.

Diterbitkan 20 Oktober 2025, 04:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pria pengangguran berusia 38 tahun di Jepang telah ditangkap atas dugaan penipuan setelah memanfaatkan "celah keamanan" di sebuah aplikasi pengiriman makanan. Tindakannya mengakibatkan kerugian lebih dari 3,7 juta yen (sekitar Rp 408 juta).

Pihak berwenang di Nagoya, Prefektur Aichi, menangkap Takuya Higashimoto pada awal Oktober 2025 karena memesan 1.095 makanan, menghabiskan semuanya, namun berhasil menghindari pembayaran, lapor Japan Times, dikutip dari SCMP, Jumat, 17 Oktober 2025.

Metodenya melibatkan layanan pengiriman nirsentuh melalui platform dan membuat klaim palsu melalui aplikasi bahwa makanan belum sampai untuk mendapatkan pengembalian uang. Salah satu aksi terbarunya tercatat pada 30 Juli 2025 ketika Higashimoto membuat akun baru di aplikasi pengiriman Demae-can menggunakan nama dan alamat palsu.

Meski es krim, bento, dan steak ayam yang dipesannya diantar, ia menggunakan fitur obrolan aplikasi tersebut untuk mengklaim bahwa pesanannya belum sampai. Ia kemudian menerima pengembalian dana sebesar 16 ribu yen (sekitar Rp 1,8 juta) di hari yang sama.

Pihak berwenang mengungkap bahwa Higashimoto, yang telah menganggur selama beberapa tahun, mengoperasikan 124 akun di platform tersebut untuk memfasilitasi aktivitas penipuannya sejak April 2023. Ia biasanya mendaftar dan membatalkan keanggotaannya beberapa hari kemudian.

 

Pengakuan Tersangka

Kemampuannya untuk tetap tidak terdeteksi mempersulit upaya pelacakan dan identifikasinya, karena ia membeli banyak kartu prabayar, mendaftarkan akun dengan nama dan alamat palsu, dan dengan cepat membatalkannya.

"Awalnya, saya hanya mencoba trik ini. Saya tidak bisa berhenti setelah menuai hasil penipuan saya," aku Higashimoto pada polisi.

Menanggapi terungkapnya kejahatan tersebut, Demae-can berjanji meningkatkan proses verifikasi identitasnya. Platform tersebut menyatakan sedang menerapkan sistem peringatan untuk mendeteksi aktivitas perdagangan yang tidak normal dan mencegah penipuan serupa di masa mendatang.

Netizen mengaku terkejut mendapati insiden tersebut. Seorang pengamat daring berkomentar, "Dia cukup pintar. Harus saya akui bahwa dia memang rajin membuka begitu banyak akun dan memanipulasi platform pengiriman." "Kebijakan pengembalian dana platform perlu ditingkatkan. Mereka terlalu lunak terhadap pelanggan," imbuh yang lain.

Kasus Penipuan yang Tidak Hanya di Jepang

Kasus serupa juga muncul di China. Tahun lalu, tiga orang di Provinsi Jiangsu bagian timur berhasil bertahan hidup selama sebulan dengan total uang hanya 19 yuan (sekitar Rp 44 ribu) di rekening bank mereka.

Mereka memesan makanan secara bergantian dari platform pengiriman makanan terkemuka dan mendapatkan pengembalian dana dengan berpura-pura tidak menerima makanan. Ketiganya menerima penanganan administratif dari kepolisian setempat.

Sementara itu di Amerika Serikat (AS), seorang pria mengaku bersalah atas perannya dalam skema pencurian lebih dari 2 juta dolar AS dari perusahaan pengiriman makanan DoorDash yang berbasis di San Francisco, kata jaksa federal, Mei 2025, lapor CBS News.

Jaksa penuntut mengatakan, Sayee Chaitanya Reddy Devagiri (30), yang merupakan pengemudi DoorDash, bekerja sama dengan orang lain dalam skema di mana perusahaan tersebut membayar pengiriman yang tidak pernah terjadi. Skema tersebut terjadi pada 2020 dan 2021.

Modus Penipuan Pemesanan Makanan

Di skema tersebut, Devagiri menggunakan akun pelanggan untuk melakukan pemesanan bernilai tinggi melalui aplikasi. Ia kemudian menggunakan kredensial karyawan untuk mendapat akses ke perangkat lunak DoorDash dan secara manual mengalihkan pesanan ke akun pengemudi yang ia dan orang lain kendalikan.

Devagiri kemudian menggunakan akun pengemudi palsu untuk melaporkan bahwa pesanan benar-benar terkirim padahal sebenarnya tidak. Ia juga memanipulasi sistem komputer perusahaan untuk membayar akun pengemudi palsu tersebut atas pengiriman yang sebenarnya tidak ada.

Setelah itu, Devagiri akan menggunakan perangkat lunak DoorDash untuk mengubah pesanan dari status "terkirim" jadi "dalam proses," secara manual menetapkan kembali pesanan pada pengemudi yang ia dan orang lain kendalikan, lalu memulai kembali proses tersebut.

"Prosedur ini memakan waktu kurang dari lima menit, dan diulang ratusan kali untuk banyak pemesanan palsu," kata Kantor Kejaksaan AS.