Sukses

Tempat Wisata di Ubud Bali Diduga Diskriminasi Turis Lokal, Sebut Parkiran Hanya untuk Wisman

Tak hanya ulah turis asing nakal, sikap sebagian warga Bali dituding mendiskriminasikan turis lokal dan lebih mengutamakan para warga negara asing (WNA).

Liputan6.com, Jakarta - Masalah seputar turis asing di Bali masih belum berlalu. Tak hanya ulah nakal wisatawan mancanegara (wisman), sikap sebagian warga lokal yang dituding mendiskriminasikan turis lokal dan lebih mengutamnakan para warga negara asing (WNA) juga jadi sorotan.

Hal itu diduga terjadi di sebuah kawasaan wisata di Parq Ubud dan dibagikan akun Instagram @chrisgiacobbecomedy dan akun politisi serta desainer sepatu asal Bali, Ni Luh Djelantik, Minggu, 7 Juli 2024. Unggahan itu menceritakan pengalaman seorang turis lokal saat berkunjung untuk makam siang di Parq Ubud bersama seorang teman yang juga wisatawan nasional.

Ketika hendak memarkirkan motor di tempat parkir khusus motor, mereka tiba-tiba dihampiri dua orang petugas parkir yang sepertinya merupakan warga setempat. Dua petugas itu disebut menanyakan tujuan datang ke tempat itu dengan nada suara tinggi seperti sedang marah-marah.

Kedua orang itu ternyata tidak diperbolehkan parkir di tempat yang disebut "khusus untuk turis asing." Mereka pun kebingungan dan menanyakan tempat parkir motor lain di kawasan tersebut, tapi tidak mendapat jawaban yang jelas.

Namun saat kedua orang itu mengatakan mau makan siang di restoran tersebut, sikap kedua petugas parkir berubah, dan memberi izin untuk parkir di sana. Meski begitu, kedua orang itu tetap sakit hati karena merasa diremehkan dan diperlakukan dengan kasar oleh petugas parkir.

Mereka mendapati pengalaman serupa dari pengunjung lokal lain yang merasa didiskriminasi dan menuliskannya dalam ulasan restoran di kawasan Parq Ubud di Google. "Kami sudah melihat banyak pengalaman serupa yang dialami turis lokal dalam review di Google, tapi sampai saat ini belum ada perubahan sikap dari mereka," tulis unggahan berbahasa Inggris tersebut.

Turis lokal lain bernama Bonita Panjaitan juga menuliskan pengalaman mendapat perlakuan kurang menyenangkan di tempat wisata tersebut di Google Review. Ia menuliskan tidak akan datang ke tempat itu lagi karena sangat tidak ramah pada turis maupun warga Bali.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Tempat Parkir Motor Khusus Wisman

"Energinya negatif dan para turis Rusia di tempat itu juga arogan dan tidak bersahabat. Tempat ini hanya menerima orang-orang tertentu saja. Ini sangat mengecewakan bagi Ubud," tulisnya.

Beberapa warganet lain juga menceritakan pengalaman serupa. Mereka harus mencari tempat parkir lain karena ada tempat parkir motor khusus turis asing. 

"Orang Indonesia yang datang ke tempat ini mungkin harus membawa Lambo (Lamborghini) agar kita sebagai warga lokal mendapat respek dari mereka," cuit warganet.

Di unggahan itu, Ni Luh Djelantik mengajak Christian mendatangi kawasan tersebut untuk mengetahui langsung apakah praktik diskriminasi itu benar-benar ada di Parq Ubud. Rencana Ni Luh mendapat banyak dukungan warganet agar tidak ada tindakan semena-mena terhadap warga maupun turis lokal.

Saat dikonfirmasi, Christian yang seorang komika dan sudah beberapa tahun belakangan ini tinggal dan bekerja di Bali, mengatakan pada Lifestyle Liputan6.com, Selasa (9/7/2024), bahwa pengalaman warga lokal yang mendapat perlakuan diskriminatif itu berawal dari unggahan seorang perempuan di Instagram.

Wanita itu menandainya di Instagram, kemudian Christian membagikan ulang hingga mendapat banyak tanggapan dari warganet lokal yang mengaku punya pengalaman yang sama. Ia memberi bintang satu untuk tempat tersebut di Google Review. 

3 dari 4 halaman

Pihak Manajemen Parq Ubud Minta Maaf

"Wanita itu akhirnya mendapat ucapan permintaan maaf dari pihak manajemen Parq Ubud karena pengalaman tidak menyenangkan di tempat tersebut," kata pria asal Milan, Italia itu.

"Saya belum tahu pasti apakah perlakuan mereka terhadap turis lokal sudah berubah jadi lebih baik atau belum. Yang jelas saya dan Bu Ni Luh sudah menyoroti masalah ini di media sosial dan mungkin mereka sudah berubah karena sedang jadi sorotan," sambungnya.

Tak hanya dugaan soal diskriminasi, sejumlah warganet bahkan menyebut Bali telah "dijajah" turis asing. Desainer perhiasan, sekaligus founder House of Wanda, Wanda Ponika, bersuara seputar turis asing dan Warga Negara Asing (WNA) yang "menjajah" Bali. Ia mengatakan bahwa Pulau Dewata sedang tidak baik-baik saja, karena ada "penjajahan secara ekonomi dan harga diri."

"Mulai dari kelakuan mereka yang seenaknya ugal-ugalan di jalan raya, penampilan tidak sopan, hingga berbuat mesum, bahkan mengincingi tempat yang kami sucikan," ungkapnya dalam unggahan di Instagram, Minggu, 19 Mei 2024.  "Ga mau bayar sewa, ga mau bayar salon, dan galakan mereka!!!"

Beragam perbuatan ini, menurut Wanda, mengesankan bahwa Indonesia negara miskin dan lemah yang tidak berdaya dan tidak mampu menindak, serta memberi sanksi pada para pelanggar aturan. "Kini muncul nama kampung New Moscow di peta, lokasinya tidak jauh dari Dalung," sebut dia.

4 dari 4 halaman

Turis Asing Merebut Peluang Usaha Warga Bali?

"Mereka buka berbagi usaha dan bekerja dengan visa turis. Pekerjaan mereka beragam, mulai jadi guru tari, guru yoga, makeup artist, buka restoran, salon, tato, spa, dan arsitek, bahkan jadi kontraktor dadakan. (Mereka juga bisnis) sewa motor. Ini bisnis yang dilakukan sangat banyak warga Bali."

Wanda juga menceritakan pengalaman menginap di vila Bali yang ternyata milik orang asing. "Instagram mereka pun pakai bahasa asing. Aku lupa Prancis atau Rusia," imbuhnya. "Banyak yang seperti itu. Tanahnya disewa jangka panjang, ada yang dijual. Entah bagaimana aturannya, aku enggak terlalu paham."

Wanda menyambung dengan mengatakan kasus diduga "pabrik narkoba" di vila Bali yang sempat menghebohkan. "Yang harus dicatat," menurutnya. "Konsumen dari berbagai bisnis mereka, terutama WNA Rusia dan Ukraina, adalah warga asing sesama mereka."

"Komunitas mereka di Bali cukup besar. Polanya saling support. Mereka cuma mau belanja dan memakai jasa rekan senegara mereka, tapi di tanah Bali. Jangan merasa wisatawan asing meningkat di Bali. Mereka tidak datang untuk membawa devisa."

Orang asing, sebut Wanda, datang ke Pulau Dewata untuk merebut peluang usaha warga lokal. "Zaman aku SMP, aku memang lahir dan besar di Bali, sawah di Kerobokan dan Canggu hijau dan asri banget. Banyak teman-temanku tinggal di sana. Kini semua jadi vila tanpa perencanaan tata kota sama sekali," bebernya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini