Sukses

Meghan Markle Dituntut Kakak Tirinya dalam Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik

Liputan6.com, Jakarta - Setelah memenangkan gugatan pengadilan terhadap media Inggris The Mail on Sunday dan Mail Online pada Desember 2021, Meghan Markle kembali terbelit kasus hukum. Kali ini, Duchess of Sussex dituntut kakak tirinya, Samantha Markle, dalam kasus dugaan pencemaran nama baik.

Melansir New York Post, Senin (6/2/2023), Samantha mengajukan dokumen pengadilan pada Jumat, 4 Februari 2023. Ia menuduh Meghan membuat "pernyataan palsu dan jahat" selama wawancara dengan Oprah Winfrey pada Maret 2021, lapor Mirror.

Selain Meghan, laporan itu juga menyeret Pangeran Harry. Samantha ingin keduanya dipanggil di hari yang sama, tapi dalam wawancara terpisah di depan kamera. Ia ingin Meghan membuat 38 pengakuan terpisah selama deposisi, lapor outlet itu.

Samantha tidak hanya ingin Meghan mengakui bahwa ia berbohong tentang hubungan dan pengasuhan mereka untuk menjual cerita pribadinya. Ia juga juga ingin ibu dua anak itu menarik kembali tuduhan terhadap keluarga Kerajaan Inggris dengan mengklaim "Ratu Elizabeth bukanlah seorang rasis" dan "Raja Charles bukan rasis."

Dalam dokumen tersebut, Samantha, yang memiliki ayah yang sama dengan Meghan, menuduhnya menyembunyikan bukti dan menghalangi "penemuan fakta." Thomas Markle, yang merupakan ayah dua perempuan itu, diharapkan bersaksi, selain mantan pembantu kerajaan Jason Knauf, putri Samantha Ashleigh Hale, dan pakar keamanan online Christopher Bouzy.

Samantha dan Meghan Markle telah berselisih selama bertahun-tahun sebelum wawancara terkenal Oprah pada 2021. Meghan telah berulang kali menuduh kakak tiri dan ayahnya menjual cerita ke tabloid Inggris.

2 dari 4 halaman

Nilai Gugatan Hukum

Samantha mengajukan gugatan senilai 75 ribu dolar AS (sekitar Rp1,1 miliar) setelah Meghan Markle memberi tahu Oprah Winfrey bahwa ia tumbuh sebagai anak tunggal dan diduga berbohong tentang terakhir kali saudara perempuan itu bertemu. "Kebohongan" tersebut membuat Samantha mengalami "penghinaan dan kebencian," sebutnya.

Ia terus melancarkan kritik terhadap saudara tirinya dan iparnya, Pangeran Harry, saat pasangan itu merilis film dokumenter dan memoar. Bulan lalu, ia menuduh Pangeran Harry "terbelakang secara emosional."

Menurut dokumen, seorang mediator telah ditunjuk dalam upaya menghindari persidangan, tapi Meghan sedang mencoba membuang kasus yang ia sebut "tidak pantas." Pengacaranya berpendapat bahwa pengaduan tersebut "tidak memiliki tempat di pengadilan ini atau yang lain."

Pihaknya meminta juri memisahkan arti hubungan "dekat." "Ia meminta pengadilan memutuskan apakah ia dan Meghan pernah 'dekat,' berapa kali keduanya 'berpapasan' sebagai orang dewasa dan apakah perasaan Meghan bahwa ia 'tumbuh sebagai anak tunggal' adalah 'benar' atau salah,'" kata pengacara Meghan.

3 dari 4 halaman

Tuduhan pada Istana Buckingham

Sebelum ini, sutradara film dokumenter Netflix Harry & Meghan, Liz Garbus menuding Istana Buckhingham telah "mendiskreditkan" proyeknya. Ia mengklaim bahwa pejabat istana telah berbohong perihal mereka tidak dihubungi lebih awal sebelum perilisan serial tersebut.

"Istana Buckingham mengatakan kami tidak menghubungi mereka untuk menanggapi soal itu meski kami melakukannya. Mereka melakukannya untuk mendiskreditkan kami, dan dengan mendiskreditkan kami, mereka dapat mendiskreditkan konten serial itu," ujarnya pada Vanity Fair, dikutip dari NZ Herald, 27 Januari 2023.

Perang kata-kata antara pembuat dokumenter itu dan istana pecah seiring perilisan serial Harry & Meghan pada Desember 2022. Mereka saling klaim soal apakah diberikan hak jawab untuk banyak klaim pasangan Sussex yang menghebohkan.

Pada awal pembukaan serial dokumenter, pihak produser menyatakan bahwa istana menolak berkomentar atas isi konten tersebut. Editor kerajaan The Daily Mail, Rebecca English, mencuit tidak lama setelah pemutaran perdana serial untuk mengonfirmasi pernyataan sumber istananya bahwa baik rumah tangga Raja Charles maupun Pangeran William tidak didekati untuk memberi tanggapan.

"Bertentangan dengan klaim pembuat serial dokumenter Netflix, saya mengetahui, baik Buckingham maupun Istana Kensington atau anggota keluarga kerajaan mana pun, tidak didekati untuk mengomentari konten serial tersebut," tulis English. "Saya tidak mengharapkan komentar apa pun dari rumah tangga kerajaan."

4 dari 4 halaman

Jawab Kritik

Editor kerajaan Sunday Times, Roya Nikkah, juga mencuit, "Sumber mengatakan tidak ada email (ke Istana Buckingham dan Istana Kensington) yang menyertakan informasi substansial tentang serial tersebut terkait hak yang memadai untuk membalas."

Variety kemudian mengonfirmasi bahwa pihak ketiga yang dimaksud adalah Story Syndicate, perusahaan produksi yang ikut didirikan Garbus. Perusahaan itu juga ikut memproduseri serial Harry & Meghan bersama Archewell Productions.

Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Garbus menanggapi kritik bahwa Duke dan Duchess of Sussex hanya mengulang masalah lama. "Orang-orang sangat senang membaca segala sesuatu tentang Harry dan Meghan ketika ada orang lain yang menulis tentang mereka," katanya.

"Tapi ketika Harry dan Meghan ingin menceritakan kisah mereka dengan kata-kata mereka sendiri, itu tiba-tiba jadi masalah," tuturnya. "Orang tidak dipaksa untuk menonton film dokumenter. Itu tidak akan diperlukan di sekolah. Itu adalah pilihan apakah Anda akan menontonnya atau tidak."

"Ada lebih banyak film dokumenter dan buku yang ditulis tentang Harry dan Meghan daripada yang diproduksi sendiri oleh Harry dan Meghan. Jadi, menurut saya ini adalah jenis reaksi sangat mengejutkan yang tidak sesuai dengan selera publik untuk membaca hal-hal tentang mereka dari orang lain," tandasnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.