Sukses

Fine Dining di Warung Tenda Pinggir Jalan, Makan Mewah Tanpa Menguras Isi Kantong

Liputan6.com, Jakarta - Ada tempat kuliner unik di kawasan Kelapa Gading, tepatnya di Wisma Gading Permai (WGP). Sebuah warung tenda ternyata menawarkan pengalaman makan fine dining dengan harga kaki lima, bernama Sisilia Street Dining

"Kami ingin pengunjung untuk merasakan pengalaman fine dining walaupun di pinggir jalan," tutur Gery Pradany, salah satu pemilik, kepada Liputan6.com, Kamis, 19 Januari 2023.

Ide kuliner ini didapatkan ketika dia bersama sang istri, Sisilia, sedang merayakan hari pernikahan mereka pada September 2022 lalu. Gery mengaku saat itu sedang mencari ide bisnis yang ingin dilakoninya bersama istri. Namun, keduanya masih bingung akan menggarap bisnis apa.

"Waktu anniversary ke-3, kami makan di fine dining di salah satu restoran Jakarta. Kemudian dari experience itulah, kami kepikiran untuk membuat fine dining versi kaki lima agar semua orang bisa mengalami experience-nya," tuturnya.

Ide tersebut akhirnya digodok bersama oleh Gery, Sisilia, dan Bryan, rekan mereka, secara serius sejak September 2022. Pihaknya butuh tiga bulan untuk mewujudkannya hingga mampu membuka warung tenda itu. "Pada awal September saya juga sudah membuat logo dan Instagram. Kemudian beberapa bulan berikutnya mulai rancang menu," kata Gery.

Rancangan untuk experience  juga dipikirkan secara matang oleh mereka. Pada meja yang tersedia, ada lilin dan beberapa alat makan yang disesuaikan dengan makanan pesanan pengunjung. Misalnya untuk menu makan pembuka, alat yang diberikan diletakkan terlebih dahulu di sisi luar agar pengunjung lebih mudah untuk menggunakannya.

2 dari 4 halaman

Jadi Viral

Restoran yang buka pada 8 Desember 2022 itu akhirnya viral setelah seorang food blogger, Prawnche, membuat konten tentang mereka di media sosial. Gery menyebutkan bahwa food blogger tersebut datang di hari kedua pembukaan restorannya.

"Dia datang secara tidak sengaja. Dia tertarik dengan lilin-lilin yang kami tata di meja, karena penasaran dia kemudian masuk untuk merasakan experience," jelas Gery.

Niat awal Gery yang ingin mengundang influencer lain akhirnya diurungkan karena sudah terbantu dengan video dari food blogger tersebut. Bahkan, konten tersebut mampu mengundang sejumlah food blogger lain untuk datang dan merasakan pengalaman makan fine dining kaki lima.

Gery mengaku bersyukur warung tendanya kini ramai pengunjung. Namun, ia harus membatasinya karena kapasitas maksimal per sesi hanya 26 kursi. "Bahkan, kadang sebelum hari H sudah full book," ungkapnya. "Seperti untuk hari Jumat dan Sabtu besok, reservasi sudah penuh dari hari Rabu."

Pengunjungnya, kata dia, tak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga ada yang dari Tangerang dan Bogor. Dari usaha itu, omsetnya saat ini bisa mencapai Rp4 juta – Rp5 juta dalam per hari.

3 dari 4 halaman

Biaya yang Harus Dikeluarkan

 

Fine dining di warung tenda itu menawarkan dua set menu fine dining yang dibanderol harga Rp99 ribu saja, tanpa pajak dan servis. Dalam satu set menu, pengunjung akan mendapatkan empat hidangan, air mineral, dan jus sparkling.

Berbeda dengan makan di restoran, para pengunjung tidak perlu menggunakan dresscode. Tetapi, mereka harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Reservasi tersebut tersedia dalam dua sesi, yaitu pukul 19.00 WIB – 20.30 WIB untuk sesi pertama dan pukul 20.30 WIB – 22.00 WIB untuk sesi kedua.

Gery meyakinkan bahwa seluruh menu yang disajikan halal, meski belum ada sertifikat halal sebagai jaminan utama. Pihaknya juga memberikan jus sparkling sebagai pengganti sampanye. "Kami menggunakan jus sparkling anggur yang disajikan di gelas sampanye. Jadi kayak sampanye ala-ala gitu," tuturnya.

Pihaknya juga menyediakan menu a la carte yang bisa dibeli dengan harga Rp16 ribu – Rp35 ribu. Untuk menu favorit a la carte adalah chicken saute dan mushroom soup

 

4 dari 4 halaman

Bebas Pengamen

Gery menyebutkan pembangunan tenda untuk kuliner ini merupakan tantangan utama saat ini. Karena lokasinya berada di lapangan parkiran apartemen, mereka hanya bisa membuka tenda pada sore hari saja.

Pihaknya menyiapkan tenda mulai pukul 16.00 WIB. Waktu untuk menyusun meja hingga dapur dibutuhkan paling lama hingga pukul 18.30 WIB hingga beres. "Malamnya, pukul 23.00 sudah kami bongkar lagi untuk dirapikan," ungkapnya.

Berbeda dengan warung tenda pinggir jalan yang ramai pengamen, tempat makannya bisa dipastikan bebas dari pengamen. Itu karena lokasinya masih berada di kawasan apartemen.

Gery dan timnya juga tak mau main-main soal kebersihan. Higienitas jadi fokus utama sehingga sebelum digunakan, semua alat makan dilap terlebih dahulu.

Ke depan, pihaknya berencana untuk memperbarui menu dalam waktu tiga empat bulan lagi agar para pengunjung tidak bosan. Gery juga berharap bisa segera membuka cabang dan menambah koki lagi agar makin banyak orang yang bisa merasakan pengalaman makan fine dining tanpa bikin kantong bolong.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.