Sukses

Cerita Akhir Pekan: Kebaya Penegas Identitas Perempuan Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Semangat untuk melestarikan kebaya terus digaungkan berbagai pihak, termasuk para selebritas dan influencer. Salah satunya Dan Sastrowardoyo. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam pengajuan kebaya ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda.

"Caranya, foto pakai kebaya lalu unggah pada website tradisikebaya.id. Gerakan ini akan dimulai pada tanggal 9 Agustus hingga 9 Desember 2022. Jangan lupa untuk ajak kerabat dan saudara kalian ya," tulisnya dalam keterangan unggahanya," tulis Dian Sastrowardoyo dalam unggahannya pada Kamis, 14 Juli 2022.

"Mari lestarikan kebaya menjadi warisan luhur Bangsa dan turut bangga menjadikannya bagian dari warisan budaya tak benda dari Indonesia untuk dunia," sambung aktris kelahiran 40 tahun lalu itu.

Ajakan itu sudah ditunjukkan lebih dulu oleh aktris Hannah Al Rashid. Ia menyukai kebaya karena identik dengan perempuan Indonesia. Meski punya darah Inggris, ia tetap menyukai berbagai hal tentang Indonesia, termasuk kebaya.

"Di saat saya pakai kebaya, identitas kultural saya terlihat jelas. Sebagai seorang anak bercampur darah Indonesia, memakai kebaya adalah salah satu cara membanggakan dan melestarikan heritage saya," terang Hannah pada Liputan6.com, Jumat, 5 Agustus 2022.

Ia mengaku punya koleksi kebaya untuk momen yang berbeda. Ada kebaya yang lebih formal untuk acara yang lebih formal seperti kawinan, ada juga kebaya kasual untuk dipakai sehari-hari.

"Saya senang mix and match dengan celana untuk look yang stylish tapi kasual. Pairing kebaya dengan celana jeans justru menjadi outfit favorit," ucap Hannah Al Rashid.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Tak Hanya ke UNESCO

Perempuan kelahiran London, 36 tahun lalu ini paling suka memakai kebaya encim. Alasannya, selain motif dan bordirannya yang lucu dan berwarna, potongannya dianggap cocok untuk dikombinasikan dengan styling yang lebih kasual. Jika tanpa peniti, kebaya encim bisa dipakai sebagai outer yang keren.

Karena itu, ia ikut mendukung langkah Indonesia untuk mengajukan kebaya sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Menurut pemain film Aruna dan Lidahnya ini, hal itu langkah yang bagus supaya tidak diklaim oleh orang atau bangsa lain. Seandainya kebaya diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, menurut Hannah, kita harus tetap berjuang.

"Dengan adanya fast fashion yang kadang secara market dan harga lebih accesible, harus dipikirkan juga bagaimana caranya produsen kebaya bisa bersaing. Jika memakai kebaya adalah sesuatu yang hanya dikaitkan dengan acara tertentu saja, atau accessibilty masih kurang, ya akan sulit untuk melihat kebaya sebagai clothing yang bisa dipakai sehari-hari," tuturnya.

"Makanya saya paling senang memakai kebaya dengan styling yang kasual, seperti dengan celana jeans, kebaya menjadi clothing sehari-hari, tidak hanya untuk acara formal saja," lanjutnya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Punya Nilai Sejarah

Selain selebritas, influencer Vira Tandia juga suka memakai kebaya. Pemilik nama lengkap Vira Sarah Aprilianti ini juga dikenal sebagai model. Salah satu model berhijab asal Bandung kerap didaulat oleh berbagai macam brand untuk menjadi model mereka.

Bagi Vira, kebaya adalah salah satu pakaian yang identik dengan wanita Indonesia. Biasanya ketika ada acara acara besar atau undangan pernikahan ia lebih memilih memakai kebaya.

Yang jadi favoritnya adalah kebaya kutubaru karena terlihat simpel tapi elegan. Vira pun sangat mendukung rencana mendaftarkan kebaya sebagai salah satu warisan budaya takbenda UNESCO.  "Aku sangat setuju, selain karena kebaya identik dengan wanita Indonesia, kebaya juga mempunyai history atau nilai sejarah yang panjang yang patut kita lestarikan," jelas Vira dalam pesan tertulis pada Liputan6.com.

Bila akhirnya diakui UNESCO, Vira juga setuju kalau itu semua belum cukup untuk melestarikan kebaya. "Menurut aku, perjuangan tidak berhenti sampai diakui di dunia saja, tapi juga ditanamkan dalam masing masing individu, setiap wanita di Indonesia bahwa betapa pentingnya mencintai dan terus melestarikan kebudayaan Indonesia, yaitu kebaya itu sendiri," tuturnya.

4 dari 4 halaman

Dukungan Berbagai Pihak

Untuk mencintai dan terbiasa memakai kebaya memang tidak mudah. Perlu usaha ekstra untuk lebih memasyarakatkan kebaya seperti halnya batik yang sudah diakui UNESCO sejak 2009 lalu.

"Kebaya memang belum dianggap sebagai pakaian yang bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Faktornya mungkin kurangnya sosisalisai pemakaian kebaya atau kain yang diangap sulit sampe saat ini, jadi harus lebih giat dan kreatif dalam mempopulerkan kebaya," pungkasnya.

Butuh waktu panjang untuk mewujudkan rencana mengajukan kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO, mulai dari kajian ilmiah mengenai sejarah kebaya, pembuatan dokumentasi soal kebaya, sampai memproses pengajuan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan. Di samping, memasyarakatkan kebaya agar diterima lebih banyak orang.

Beberapa bulan lalu, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) berkolaborasi dengan sejumlah Komunitas Pelestari Budaya, seperti Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Yayasan Budaya Nusantara Digital (YBND), Yayasan Kebudayaan Rancage, dan Seluas Tanah Merah (STM) meluncurkan situs web tradisikebaya.id.

Peluncuran situs tersebut merupakan dukungan terhadap gerakan Kebaya Goes to UNESCO yang diputuskan pada Kongres Berkebaya Nasional yang diselenggarakan oleh PBI pada 5 dan 6 April 2021. Selain itu, komunitas pelestari budaya juga mendorong agar pemerintah menetapkan Hari Berkebaya Nasional.