Sukses

Terobosan Nampan Ramah Lingkungan Berbahan Bulu Ayam

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan di Singapura berhasil membuat nampan ramah lingkungan berbahan bulu ayam. Inovasi ini disebut "solusi lebih murah untuk membuat daging budidaya menggunakan limbah biologis dari peternakan unggas," melansir Mothership, Rabu, 6 Juli 2022.

Riset ini dikembangkan bersama oleh Universitas Teknologi Nanyang (NTU) dan produsen unggas Leong Hup Singapura. Menurut keterangan, para peneliti menemukan cara baru menggunakan bulu ayam, produk sampingan dari pabrik pengolahan unggas.

Bulu ayam biasanya diperlakukan sebagai limbah dan dikubur di tempat pembuangan sampah atau dibakar, yang kemudian berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Kali ini, bulu ayam dicuci, dikeringkan, dan dipotong, sebelum digabungkan dengan sejenis resin untuk membuat nampan tersebut.

Bulu ayam mengandung keratin, sejenis protein yang juga ditemukan pada rambut dan kuku manusia. Menggunakan bulu untuk membuat nampan lebih ramah lingkungan berarti produk tersebut dapat terurai secara alami, tidak seperti nampan plastik biasa yang dibuat menggunakan polimer sintetis yang berasal dari minyak bumi.

Material bulu ayam juga diklaim lebih tahan lama dan sama fleksibelnya dengan polimer sintetik, serta dapat menahan beban dua kali lipat. Para peneliti juga telah berhasil mengubah limbah biologis dari peternakan unggas Leong Hup jadi media kultur yang dapat digunakan untuk menumbuhkan daging berbasis sel.

Limbah biologis yang digunakan meliputi darah dan tulang unggas, yang padat bahan organik dan memiliki konsentrasi faktor pertumbuhan dan nutrisi lain yang tinggi. Para ilmuwan mampu mengekstrak nutrisi ini dengan "cara yang hemat biaya" untuk mengembangkan alternatif media komersial untuk daging berbasis sel.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Rencana Meningkatkan Produksi

William Chen, Direktur Program Ilmu dan Teknologi Pangan NTU dan co-lead kerja sama industri, mengatakan, "Pembudidayaan daging yang ditanam di laboratorium berpotensi mengurangi, bahkan suatu hari nanti, mengakhiri pembantaian hewan ternak dan dampak pemeliharaan hewan ternak terhadap lingkungan."

Namun, salah satu alasan mahalnya harga daging yang ditanam di laboratorium adalah karena tingginya biaya media yang digunakan untuk menumbuhkan daging, tambah Chen. Sebagian besar produksi daging berbasis sel bergantung pada serum janin sapi, cairan mahal yang terbuat dari janin sapi kaya akan nutrisi yang dibutuhkan untuk menumbuhkan sel hewan.

Lau Joo Hwa, CEO Leong Hup Singapore, mengatakan perusahaan sedang menguji inovasi ini di pabriknya di Singapura. Leong Hup mengoperasikan empat pabrik pemotongan dan memiliki pangsa pasar terbesar dari unggas yang dipotong di Negeri Singa.

Menurut The Straits Times, tim berencana meningkatkan produksi nampan keratin mereka. Setelah dianggap layak secara komersial, perusahaan pengolahan unggas bermaksud mengajukan permohonan ke Badan Pangan Singapura agar kemasannya disertifikasi sebagai aman untuk makanan.

 

3 dari 4 halaman

Bukan Kali Pertama

Lau juga mengharapkan Leong Hup mengimplementasikan produksi nampan ramah lingkungan di pabrik luar negerinya di Malaysia dan Asia Tenggara pada 2023. Adapun terkait media kultur yang baru dikembangkan, NTU telah menerima minat dari berbagai perusahaan protein alternatif untuk mengkomersialkan penggunaan produk.

Bukan kali pertama, sebelumnya, sebuah laboratorium di Singapura juga telah berusaha mereplikasi beragam makanan Asia, mulai dari sate ayam hingga rendang daging. Alih-alih menggunakan daging, peneliti di laboratorium itu justru membuat versi imitasinya, yakni berbasis tanaman.

Melansir AFP, pembuatan beragam makanan imitasi tersebut merespons meningkatnya minat warga di kawasan Asia Tenggara atas makanan yang berkelanjutan. Ahli aroma dan peneliti makanan terlibat dalam proyek tersebut.

Mereka bekerja menggunakan ekstrak tanaman untuk membuat beragam makanan tradisional versi vegetarian di fasilitas yang baru saja dibuka tersebut. Permintaan makanan berkelanjutan di Asia meningkat seiring meningkatnya kesadaran tentang pola makan sehat dan kepedulian terhadap dampak lingkungan dari konsumsi daging.

4 dari 4 halaman

Pengembangan Menu Nabati

Sejumlah menu nabati mulai banyak dipasarkan di berbagai tempat di Asia, termasuk Indonesia, seperti burger dan nugget. Tapi, ADM ingin lebih fokus mengembangkan sajian lokal agar lebih bisa diterima warga setempat.

"Kami bekerja bersama chef lokal, bekerja dengan pelangan lokal untuk benar-benar membangun dan membuat cita rasa yang dibutuhkan di Asia ini," kata Dirk Oyen, Wakil Presiden dan General Manager Nutrisi Manusia ADM Asia Tenggara. "Itu benar-benar kuncinya, jadi kami bisa membuat citarasa lokal," sambung dia.

Sejauh ini, laboratorium ADM telah membuat sate ayam versi vegetarian lengkap dengan saus kacangnya serta rendang. Mereka berharap bisa segera menyempurnakan bahan dasar untuk pembuatan hidangan lezat itu dan memasarkannya ke konsumen dan supermarket.

Para ilmuwan menggunakan teknologi terbaru untuk menggabungkan nutrisi, tekstur, aroma, dan cita rasa untuk membuat daging vegetarian kaya protein. Kebanyakan bahan yang digunakan adalah kedelai dan kacang polong.

Produk yang dihasilkan berusaha menyerupai daging sapi, daging babi, ayam, dan makanan laut, dan bisa digunakan untuk segala jenis hidangan. Pihak lab juga mengkreasikan ulang produk olahan daging, seperti ham dan sosis.