Sukses

Jangan Terlambat, Persiapkan Diri Jadi Lansia dari Sekarang

Liputan6.com, Jakarta - Satu, dua, tiga dekade ke depan bisa saja terlewati seolah hanya dalam beberapa kedipan mata. Tanpa disadari, Anda nantinya berada di gerbang lanjut usia (lansia), dan jangan sampai menyongsongnya tanpa persiapan. Di Indonesia, orang berusia di atas 60 tahunlah yang masuk dalam kategori lansia.

Karena sejatinya kita semua adalah calon lansia, demi menjalani hari-hari tua dengan kondisi fisik dan mental yang sehat, upayanya harus dilakukan dari sekarang. "Kalau gaya hidup sehat, bahkan sudah harus dibiasakan sejak anak-anak," Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PB Pergemi), Prof. Dr. Siti Setiati, SpPD-KGer., M.Epid, mengatakan dalam jumpa pers bertajuk "Gerakan 4 Sehat 5 Bahagia: Tetap Sehat, Aktif, dan Bahagia di Sepanjang Usia" di bilangan Jakarta Selatan, Jumat, 24 Juni 2022.

Selain, membiasakan tubuh aktif bergerak juga tidak kalah penting. "Jangan menunggu tua baru dibiasakan olahraga," ia menyambung. "Bagaimana caranya membuat para calon lansia sehat sampai tua dengan gaya hidup sehat. Lalu, membuat mereka yang menjelang lansia, jangan sampai sakit. Yang sudah setengah sakit, kembali sehat."

Aktris senior Donna Harun jadi salah satu contoh yang sudah menyiapkan masa tuanya sejak lama. Ia bercerita, sejak berusia 24 tahun, dirinya sudah menentukan pola makan yang benar. "Aku tidak suka daging, apalagi yang belum diolah. Lebih suka buah dan sayur-sayuran," katanya di kesempatan yang sama.

Dulunya, ia mengaku penikmat makanan karbo dan manis. "Tapi setelah umur sekian, itu aku kurangi. Justru harus minum air yang banyak," perempuan berusia 54 tahun ini menambahkan.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Bangun Kesadaran Lebih Awal

Di kesempatan yang sama, Marketing Manager Nestlé Health Science (NHS), dr. Yulia Megawati, menambahkan bahwa pihaknya mencatat, rata-rata orang mulai sadar akan gaya hidup sehat ketika berusia lebih dari 40 tahun. "Karena biasanya merasa ada penurunan kondisi fisik," tuturnya.

Sepakat dengan Prof. Ati, sapaan akrabnya, dr. Yulia mengatakan seharusnya kesadaran itu dibangun lebih awal, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit keluarga. Kendati, tidak dipungkiri Prof. Ati bahwa seiring menua, perubahan pada berbagai organ tubuh memang terjadi.

"Karena itu, lansia tetap harus makan makanan bergizi seimbang, terutama memperbanyak asupan protein," ia menegaskan.

Lebih lanjut Prof. Ati memaparkan beberapa masalah kesehatan yang umum didapati pada lansia. Pertama, kurang diperhatikannya faktor kesehatan gigi dan mulut. "Gigi berlubang, gigi palsu goyang, lidah semakin kering, nafsu makan menurun, dan gangguan menelan," tuturnya.

Kemudian, hidup sendiri juga jadi masalah bagi lansia. Pasalnya, kesepian membuat mereka malas makan.

 

3 dari 4 halaman

3 Kunci

Prof Ati berkata, "Makan itu kegiatan sosial. Kalau tidak orang, makan jadi secukupnya, seadanya saja. Bisa-bisa malah tidak makan (teratur), apalagi memperhatikan keseimbangan gizi."

"Keluarga bisa membuat orangtua tetap merasa dihargai. Jangan ditinggalkan. Bisa diajak berdiskusi, dimintai pendapat," katanya. "Lansia biasanya kurang informasi, karena itu bisa diberitahu dulu, lalu dibicarakan bersama."

Ia melanjutkan, sehat merupakan keseimbangan semua aspek: fisik, mental, sosial, dan spiritual. Tergantung kondisi lansia, olahraga yang direkomendasikan pun bermacam-macam.

Lansia yang sehat, kata Prof. Ati, bisa berolahraga dengan berjalan kaki. "Selain juga harus tidur yang cukup," ia menambahkan.

Sementara itu, Donna mengatakan ia telah membiasakan diri melakukan banyak olah tubuh. Jenis olahraga yang dijalaninya bisa berganti setiap bulannya supaya "tidak bosan." "Tapi, jalan pagi dan golf itu yang (jadi olagraga) tetap," ia mengatakan.

Secara ringkas, Prof. Ati mengatakan, ada tiga kunci yang membuat hidup lansia sehat dan berkualitas. Pertama, rutin olahraga, yang mana disarankan 30 menit sehari, lima hari dalam seminggu.

Kemudian, menjaga pola makan yang seimbang. "Orang muda dijaga berat badannya normal. Kalau pada orang tua, usahakan sedikit lebih gemuk. Kalau terlalu kurus, justru lebih mudah sakit," Prof. Ati mengatakan.

Lansia juga harus sehat secara psikologis. "Jangan sampai kesepian," Prof. Ati menegaskan.

 

4 dari 4 halaman

Gerakan 4 Sehat 5 Bahagia

Mendukung semua upaya tersebut, NHS melalui Nestlé BOOST Optimum mengagas kampanye "Gerakan 4 Sehat 5 Bahagia." Pertama, pihaknya mendorong lansia memenuhi kebutuhan gizi, salah satunya asupan protein harian dengan mengonsumsi Nestlé BOOST Optimum.

Ini merupakan produk susu bubuk dengan kandungan whey protein yang lebih tinggi dibanding produk sejenis lain, yaitu mencapai 50 persen, serta dilengkapi probiotik dan prebiotik, vitamin, juga mineral yang baik bagi kesehatan lansia. "Susu ini tidak hanya untuk lansia, namun juga direkomendasikan pada mereka yang saat ini kurang zat gizi atau sedang sakit," dr. Yulia mengatakan.

Kedua, mengajak olahraga para lansia agar tetap aktif. Penelitian membuktikan bahwa suplementasi gizi oral ditambah latihan fisik dapat meningkatkan fungsi, status gizi, dan kualitas hidup para lansia.

Lalu, memberikan kesempatan pada para lansia meluangkan waktu untuk istirahat yang cukup dan berkualitas. Disusul, membantu para lansia menjaga pola makan yang sehat, seperti memastikan menu makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung serat pangan, vitamin, dan mineral yang tepat.

Terakhir, memberikan dukungan agar para lansia tetap bahagia, salah satunya dengan menyemangati mereka untuk menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang tertunda, termasuk mencoba aktivitas baru atau menekuni hobi secara rutin.

"Kami harap dengan diluncurkannya 'Gerakan 4 Sehat 5 Bahagia' ini dapat menginspirasi tidak hanya para lansia, melainkan juga seluruh keluarga Indonesia, agar dapat lebih memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan para lansia. sehingga kualitas hidup mereka dapat tetap terjaga," ia mengatakan.

Sementara Donna menutup dengan berkata, "Usia hanyalah angka. Yang memberi definisi usia tersebut adalah bagaimana kita melakukan keseharian dan bisa berdampak. Menjaga kesehatan sangat penting untuk bisa menikmati keindahan hidup dan tetap semangat meraih mimpi yang sempat tertunda."