Sukses

6 Fakta Menarik Pulau Morotai, Surga Tropis di Maluku Utara

Liputan6.com, Jakarta - Pulau Morotai adalah nama sebuah pulau sekaligus kabupaten definitif baru yang terletak di Kepulauan Maluku, Indonesia. Sebagai bagian dari provinsi Maluku Utara, Pulau Morotai merupakan salah satu pulau paling utara di Indonesia.

Kabupaten Pulau Morotai diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara. Luas wilayahnya 2.337,15 km persegi dengan jumlah penduduk 74.565 jiwa (2020) dan kepadatan penduduk 31,90 jiwa/km persegi.

Pulau ini sebagian besar berupa hutan dan memproduksi kayu serta damar. Pulau Morotai sangat strategis sebagai jalur perdagangan di timur Indonesia, karena memiliki kekayaan alam seperti emas, biji besi, dan lain-lain. Mereka juga memiliki potensi wisata bahari yang memesona. Karena keindahan alamnya, laman resmi Wonderful Indonesia menjuluki Morotai sebagai Surga Tropis di Maluku Utara.

Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Pulau Morotai. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Pulau Morotai yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Asal Nama Morotai

Ada beberapa versi asal-usul nama Pulau Morotai. Menurut penduduk setempat, Morotai berasal dari kata Morotia yang artinya tempat tinggal orang-orang moro. Orang moro adalah manusia misterius atau orang hilang yang sulit dilihat dengan mata biasa, namun memiliki kebudayaan sebagai kelompok manusia biasa.

Masyarakat Kabupaten Pulau Morotai cenderung hidup berkelompok, meski satu sama lainnya berbeda keyakinan. Kegotogroyongan, saling menghargai perbedaan keyakinan menjadi salah satu ciri masyarakat Kabupaten Pulau Morotai.

Versi lainnya berasal dari penyebutan Jenderal Douglas McArthur yang memimpin pasukan sekutu melawan pasukan Jepang saat perang dunia kedua di Morotai. Keindahan Morotai begitu membekas bagi McArthur. Setelah masuknya pasukan sekutu, Ketika Douglas mengenang pulau ini, dia bilang 'This is our memorial'. Ketika bertemu dialek warga setempat bahasa itu berkembang dari Memorial lalu menjadi Morotai.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670</

2 dari 6 halaman

2. Penduduk dan Suku Morotai

Sebagai pulau yang terlepas dari pulau besar Halmahera, Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk sekarang yang menetap dan beranak-pinak di Pulau Morotai berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara.

Kedua suku (sub-etnis) tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini. Migrasi penduduk dari kedua suku ini disebabkan oleh meletusnya gunung berapi di pulau tersebut.

Selain kedua etnis diatas (Suku Tobelo dan Suku Galela), kelompok-kelompok etnik lain yang mendiami Pulau Morotai di antaranya adalah berasal dari Sulawesu Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesu Utara, Jawa, Sumatera, Cina Maluku, dan lain-lain. Di antara mereka ada yang menikahi penduduk asli setempat dan ada yang tinggal sementara waktu untuk mencari nafkah. Mayoritas penduduk Pulau Morotai beragama Islam dan Kristen, sebagian kecil lainnya pemeluk agama Konghucu, Hindu, dan Buddha.

3 dari 6 halaman

3. Wisata Menyelam

Pulau yang juga terkenal dengan julukan 'Hidden Paradise of East Indonesia' (Surga Tersembunyi di Timur Indonesia) ini memiliki keindahan terumbu karang yang menawan, ditambah biota laut lain yang memesona. Bagi Anda yang berjiwa petualang, tentunya Morotai menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati keindahan bawah lautnya.

Total ada sekitar 28 titik penyelaman di Kabupaten Pulau Morotai. Beberapa menawarkan pengalaman menyelam dengan nuansa medan perang bersejarah. Ada bangkai pesawat jenis Bristol Beaufort di buatan Australia yang tenggelam saat Perang Dunia II di kedalaman sekitar 40 meter, rongsokan tank dan kapal selam karam yang penuh dengan terumbu karang di perairan Mira, hingga bangkai kapal selam milik Jepang di Perairan Zum Zum.

Di pulau ini, Anda bisa melakukan aktivitas yang memacu adrenalin, yaitu melihat hiu sirip hitam (blacktip reef shark) yang dilindungi, di kedalaman sekitar 2-10 meter. Tentunya ketika menyelam di perairan ini, Andaharus ditemani oleh pemandu. Jika mau sekadar snorkeling, Anda dapat menikmati jernihnya perairan Pulau Tabailenge atau Pulau Kolorai.

4 dari 6 halaman

4. Desa Wayabula

Di Desa Wayabula yang terletak di Morotai Selatan Barat. Anda bisa mendatangi basecamp Dive Morotai yang menyediakan beragam pilihan tempat untuk menyelam dan memiliki standar protokol kesehatan CHSE, yaitu Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environmental Sustainability (Kelestarian Lingkungan) atau CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Berlakunya standar CHSE diharapkan membuat wisatawan jadi lebih aman dan nyaman ketika berwisata di era pandemi seperti sekarang. Selain peninggalan sejarah, Anda juga dapat melihat tradisi, budaya, sekaligus menikmati sajian kuliner yang kental dengan kearifan lokalnya.

Anda juga bisa ikut ambil bagian dalam #BeliKreatifLokal, untuk membeli berbagai olahan kerajinan tangan dari kerang, aksesori mutiara, atau camilan dari para pelaku ekonomi kreatif. Di desa ini juga ada Air Terjun Wayabula yang indah, dengan struktur bebatuan yang artistik dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 meter. Jarak tempuh menuju ke tempat itu cukup sulit karena belum memiliki akses jalan yang permanen.

5 dari 6 halaman

5. Wisata Berkelanjutan

Sebuah lembaga nirlaba dari Inggris, Yayasan A Liquid Future , bekerja mendampingi warga dan anak-anak lokal di Pulau Morotai. Di yayasan ini, anak-anak dididik berbagai hal, seperti pengenalan dan pemahaman fungsi lingkungan, konservasi alam atau perlindungan sumber daya hayati. Mereka juga belajar Bahasa Inggris, komputer, konsep turisme berkelanjutan, fotografi maupun jurnalisme warga.

Mereka juga belajar dan praktik menjaga lingkungan. Satu contoh, kewajiban mereka, harus mengumpulkan sampah terutama sampah plastik. Salah satu sarana pendekatan diri terhadap kondisi lingkungan, lewat berselancar. Dengan berselancar, katanya, mereka akan mencintai laut.

Kegiatan diawali dengan menanam kecintaan terhadap selancar, lalu bicara perlindungan terumbu karang, bahaya sampah plastik, dan lain-lain. Melalui surfing dan snorkeling, mereka bisa melihat karang dan ikan-ikan indah. Harapannya, tumbuh kecintaan terhadap laut dan tergerak melindungi.

6 dari 6 halaman

6. Kuliner Khas Pulau Morotai

Tak hanya memiliki kekayaan wisata alam, kekayaan kuliner Pulau Morotai juga layak dieksplor.  Salah satu makanan khas mereka adalah Nasi Jaha yang terbuat dari beras yang dicampur santan kelapa, lalu dibalut daun dan dibakar dalam bambu. Makanan ini kerap disajikan saat Hari Raya Idulfitri maupun Idul Adha.

Ada juga Kue Bagea yang sering dijadikan oleh-oleh dan memiliki rasa manis dan gurih. Kue ini dibuat dari campuran pala, kayu manis, tepung sagu, dan gula merah. Kue ini juga bisa ditemui di provinsi tetangganya, yakni Maluku.

Ada juga Gohu Ikan yang dibuat dengan mencampurkan daun kemangi, ikan yang dilumuri garam, cabai, dan tumisan bawang. Kuliner khas lainnya dari Pulau Morotai adalah Kue Waji, Kue Halua Kacang, Papeda, Roti Panggang Kenari, Kobong dan Air Guraka.