Sukses

Rekaman Kamera Bawah Laut Ungkap Ketangguhan Terumbu Karang Lawan Pemanasan Global

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak cerita tentang dunia bawah laut yang belum diketahui orang. Kemisteriusannya pun menarik perhatian sekelompok ahli biologi kelautan untuk membuat proyek kolaborasi bersama seorang musisi.

Perusahaan mereka, Coral Morphologic, memasang kamera di Government Cut Miami untk merekam kehidupan laut sejak 15 tahun lalu. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran tentang terumbu karang sekarat yang mencoba melawan dampak pemanasan global.

Mereka menggabungkan sains dan seni untuk membawa kehidupan bawah laut ke dalam budaya pop. Gambar-gambar yang menakjubkan, menempatkan makhluk bawah laut yang cantik dari dekat di media sosial. Pihaknya juga menyetel video bergoyang, karang bercahaya ke musik, dan memproyeksikannya ke bangunan, bahkan menjual lini pakaian pantai bertema karang. 

"Kami tidak semuanya (tentang) seni. Kami tidak semuanya (soal) sains. Kami tidak semuanya (tentang) teknologi. Kami adalah alkimia," kata Colin Foord, ilmuwan dengan penampilan nyentrik, yakni berambut biru runcing seolah tersetrum listrik, pada Associated Press, dikutip dari Japan Today, Senin (16/5/2022).

Ia duduk bersama mitra bisnisnya, J.D. McKay, saat berbincang memaparkan karya mereka. Salah satu proyek terpopuler mereka dinamai Coral City Camera yang saat ini sudah dilihat lebih dari dua juta kali. Biasanya, rekaman gambar karang itu diakses 100 penonton online setiap hari.

"Kami akan benar-benar dapat mendokumentasikan pertumbuhan karang selama satu tahun, yang belum pernah dilakukan sebelumnya secara langsung. Itu hanya mungkin dilakukan karena kami memiliki koneksi teknologi ini di sini, di pelabuhan Miami, yang memungkinkan kami memiliki kekuatan dan internet," Foord menerangkan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Gambar dan Musik

Rekaman langsung itu mengungkap bahwa staghorn dan karang lainnya dapat beradaptasi dan berkembang bahkan di lingkungan bawah laut yang sangat urban, bersama 177 spesies ikan, lumba-lumba, manate, dan makhluk laut lain.

"Kami memiliki karang yang sangat tangguh yang tumbuh di sini. Tujuan utama kami masuk ke bawah air adalah menunjukkan pada orang-orang bahwa ada begitu banyak kehidupan laut di sini, di kota kami," kata Foord.

Sementara, McKay bertindak bak produser Broadway. Ia mendeskripsikan cara ia memfilmkan makhluk laut itu di dalam laboratorium mereka di Miami, juga mengembangbiakkan koral di tangki untuk menyiapkan mereka disorot secara close-up dalam warna-warna yang menakjubkan. 

"Kami pada dasarnya menciptakan sebuah set dengan satu dari beberapa akuarium, dan kemudian para aktor ini, koral, udang, atau apapun, dan kami memfilmkannya. dan saya seperti mendapatkan getaran, apapun yang mungkin terjadi di set, dan saya membuat musik latar untuk melengkapi ambiensnya, sesuatu yang sangat 'laut,'" tuturnya.

Hasil produksi terbaru mereka, Coral City Fluorotour, ditampilkan di New World Center Wallscape pada pekan lalu, bersamaan dengan Aspen Institute jadi tuan rumah konferensi iklim besar di Pantai Miami. Foord juga menjadi pembicara dalam rapat panel yang membahas bagaimana sistem alami samudra bisa membantu manusia mempelajari cara melawan perubahan iklim.

 

3 dari 4 halaman

Misi Mendesak

Ia mengusung tema "Samudera adalah Pahlawan Super" dalam rapat panel itu. "Saya pikir ketika kita bisa mengenali bahwa kita semua adalah satu keluarga kehidupan, dan semuanya terhubung, kami sangat berharap, kita dapat membuat perubahan yang berarti sekarang, sehingga generasi mendatang tidak perlu hidup di dunia dengan kebakaran hutan, lapisan es yang mencair, dan laut yang mati," tutur Foord.

Misi mereka mendesak, spesies-spesies itu diserang perubahan iklim setelah 500 juta tahun hidup di Bumi. Lautan yang memanas memicu pemutihan karang dan meningkatkan risiko penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian massal pada karang, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOOA).

Perubahan iklim juga menciptakan badai yang lebih kuat dan mengubah kimia air. Efeknya dapat menghancurkan struktur terumbu. Belum lagi arus yang berubah menyapu makanan dan larva.

"Perubahan iklim adalah ancaman global terbesar bagi ekosistem terumbu karang," kata NOAA dalam sebuah laporan baru-baru ini.

 

4 dari 4 halaman

Contoh Nyata

Namun, terumbu karang faktanya bisa beradaptasi. Itu pula yang melatari pemilihan nama perusahaan tersebut, Coral Morphologic.  "Apa artinya menjadi morfologis? Ini berarti harus beradaptasi karena lingkungan selalu berubah," kata Foord.

Staghorn, elkhorn, dan karang otak yang hidup di Government Cut merupakan contoh nyata tentang bagaimana komunitas karang dapat beradaptasi dengan hal-hal seperti panas yang meningkat dan limpasan yang tercemar, bahkan di tempat yang tidak biasa seperti Pelabuhan Miami. Video mereka telah mendokumentasikan fluoresensi di beberapa karang, respons yang tidak biasa di perairan lepas pantai yang menurut Foord dapat melindungi mereka dari sinar matahari.

"Pelabuhan adalah tempat yang tak ternilai untuk penelitian karang," kata Foord. "Kita harus realistis. Anda tidak akan bisa mengembalikan ekosistem seperti 200 tahun lalu. Pilihan yang tersisa bagi kita lebih radikal."

Di luar sains, ada pakaian. Coral Morphologic menjual sederet pakaian selancar dan renang yang mengambil desain dari anemon bunga dan koral ota,  serta menggunakan bahan ramah lingkungan seperti jenis nilon yang didaur ulang dari jaring ikan bekas.

"Kami melihat kekuatan teknologi yang menghubungkan manusia dengan alam. Kami beruntung sebagai seniman, dan karang diuntungkan," kata Foord.  (Natalia Adinda)