Sukses

Wastafel Jadi Titik Kritis Pencegahan Penyebaran Hepatitis Akut di Destinasi Wisata

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit Hepatitis akut menjadi ancaman kesehatan baru di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. Menyikapi fenomena tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan antisipasi menekan penyebaran penyakit yang belum diketahui penyebabnya itu di destinasi wisata.

"Untuk hepatitis, ini hanya menular melalui mulut. Oleh karena itu, destinasi wisata kencangkan lagi tempat cuci tangan," kata Sandiaga Uno terkait antisipasi penyebaran hepatitis akut dalam Weekly Press Briefing pada Senin, 9 Mei 2022.

Sandiaga Uno melanjutkan, pengetatan protokol kesehatan lewat tempat cuci tangan ini untuk mencegah penyebaran hepatitis akut dari tangan ke mulut. Ia turut mengatakan terkait arahan dari Menteri Kesehatan kepada sektor-sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Pastikan wastafel-wastafel dan tempat cuci tangan berfungsi sehingga kita bisa mengurangi, mengeliminasi potensi penularan daripada hepatitis ini," lanjutnya.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Henky Hotma P. Manurung menyebut bahwa pengawasan protokol kesehatan juga dilakukan di destinasi wisata. Ia mengatakan 85 persen PeduliLindungi berjalan di semua destinasi.

"Industri pariwisata dan ekonomi kreatif kita adalah industri yang sangat beradaptasi dengan segala permasalahan, 85 persen PeduliLindungi jalan di semua destinasi, penggunaan masker juga taat, tapi yang kita pastikan semua wastafel dan lain-lain tersedia," katanya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Hepatitis Akut di Dunia dan Indonesia

Dikutip dari Health Liputan6.com, penyebab hepatitis akut masih belum diketahui. Namun, penyakit ini telah menyerang anak usia nol sampai 16 tahun, dan ada pula yang harus kehilangan nyawa.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat telah lebih dari 20 negara yang melaporkan kasus hepatitis akut. WHO menyebutnya dengan Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown Aetiology).

WHO menyatakan kejadian luar biasa (KLB) atau outbreak hepatitis akut misterius di Eropa pada 23 April 2022. Lalu pada 27 April 2022, Indonesia menemukan tiga kasus anak dengan dugaan kondisi tersebut.

Singapura pada 30 April 2022 mengumumkan kepada publik temuan kasus bayi 10 bulan alami hepatitis akut misterius. Pada Sabtu, 1 Mei 2022, pemerintah Indonesia melaporkan ke publik temuan kasus penyakit yang diduga hepatitis misterius.

Di tengah suasana libur Lebaran, Kemenkes meminta masyarakat waspada setelah ada tiga anak meninggal dunia dengan dugaan hepatitis akut misterius. Ketiga anak dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya itu meninggal dunia saat dirawat di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.

3 dari 4 halaman

Gejala Hepatitis

Gejala yang ditemukan pada ketiga pasien adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran. Ketiga anak tersebut dirujuk dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

Karena kondisi tidak membaik, mereka lalu dirujuk ke RSCM. Mereka meninggal dunia dalam kurun waktu yang berbeda, antara pertengahan April hingga 30 April 2022.

"Ketiganya datang ke fasilitas kesehatan pada kondisi stadium lanjut, sehingga hanya memberikan sedikit waktu bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan pertolongan," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan pers daring pada 5 Mei 2022.

Kementerian Kesehatan RI sedang menginvestigasi penyebab kejadian hepatitis akut ini melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap. Sementara, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta sedang menyelidiki epidemiologi lebih lanjut.

Di tengah-tengah investigasi menyeruak kembali dugaan hepatitis akut pada empat anak di Jakarta. Mereka tengah menjalani perawatan di RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Tak lama, santer terdengar kasus serupa di Surabaya, Jawa Timur. Teranyar di Tulungagung, Jawa Timur. 

Nadia menyebut kasus di Tulungagung saat ini masih masuk Pending Classification. Pengujian di laboratorium untuk pemeriksaan hepatitis E tengah dilakukan.

 

 

4 dari 4 halaman

Cegah Anak Terinfeksi Hepatitis Akut

Pada konferensi pers Senin, 9 Mei 2022 sore, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut ada 15 kasus anak dengan kasus hepatitis akut. "Sampai sekarang di Indonesia ada 15 kasus," kata Budi.

Beberapa langkah mencegah anak terinfeksi hepatitis akut bergejala berat yang penyebabnya belum diketahui dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengonsumsi makanan yang terjamin kebersihannya, rajin mencuci tangan, dan tidak berbagi alat makan dengan orang lain.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro - Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Muzal Kadim menjelaskan hepatitis akut sebagian besar ditularkan lewat saluran cerna atau mulut melalui tangan yang terkontaminasi virus. Selain melalui tangan, virus juga bisa masuk melalui makanan, minuman, dan alat makan. Muzal menjelaskan, ada dugaan penularan hepatitis terjadi lewat droplet atau percikan air liur.

"Sampai saat ini yang bisa dilakukan yang paling baik adalah pencegahan penularan lewat oral seperti cuci tangan, kebersihan dari makanan, sanitasi. Kemudian, mencegah pada kasus-kasus yang sudah ada gejala, misalnya muntah, diare, sakit perut, kita menghindari supaya tidak kontak lewat tangan dan yang masuk ke dalam mulut," jelasnya.

Protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak pun dianjurkan tetap dilakukan guna mengurangi risiko penularan hepatitis akut maupun COVID-19. Menjaga higienitas atau kebersihan dianggap dapat membantu untuk mencegah adanya penularan virus hepatitis misterius. Terkait asupan makanan, Muzal mengungkapkan makanan terbaik bagi anak adalah makanan yang disiapkan sendiri, terutama pada bayi. 

Dalam mempersiapkan makanan dan minuman untuk anak, orangtua juga diingatkan untuk menjaga kebersihan. Serta jangan menggabungkan sendok dan alat makan anak. Apabila memungkinkan, Muzal menyarankan untuk merebus air minum yang akan dikonsumsi untuk meminimalisisasi adanya kontaminasi bakteri atau kotoran.