Sukses

Sejarah Ucapan Minal Aidin Wal Faizin yang Sering Diucapkan Saat Idul Fitri

Liputan6.com, Jakarta - Ucapan "minal aidin wal faizin" biasa terdengar setiap kali Idul Fitri tiba. Sudah menjadi tradisi saat Idul Fitri, umat Islam Tanah Air akan meminta maaf satu sama lain.

Mereka saling berkunjung ke tempat keluarga, kerabat, sahabat, hingga tetangga. Satu sama lain saling berjabat tangan dan mengucapkan “Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.”

"Minal aidin wal faizin" merupakan petikan dari bahasa Arab. ‘Aidin berasal dari kata ‘aidu yang artinya kembali. ‘Aidin merupakan bentuk fail (pelaku) yang menjadi jamak mudzakkar salim.

Sementara, "aidin" dapat diartikan “orang-orang yang kembali”, sementara, "al faizina" diambil dari kata kerja (fiil) faza. Seperti halnya "al ‘aiduna,"  "al faizina" juga menjadi jamak mudzakkar salim yang berarti “orang-orang yang menang”.

Pengertian "jamak mudzakkar salim" adalah bentuk kata yang menyatakan lebih dari satu dalam bentuk yang selamat dari perubahan pada struktur pokoknya dan menunjukkan arti laki-laki, disebut salim karena penanda perubahan  berupa imbuhan akhir atau sufiks sehingga disebut salim, salim berarti ‘selamat atau utuh’.

Ucapan "minal aidina wal faizin", ternyata merupakan petikan dari lantunan syair pada masa Andalusia. Andalusia adalah sebuah komunitas otonomi Spanyol. Andalusia adalah wilayah otonomi paling padat penduduknya dan kedua terbesar dari 17 wilayah yang membentuk Spanyol. Ibu kotanya adalah Sevilla.

Penyair bernama Shafiyuddin al-Huli membawakan sebuah syair yang mengisahkan dendangan kaum wanita pada hari raya. Petikan dari salah satu syairnya itu terdapat kalimat “Ja’alna minal ‘aidina wal faizina (jadikan kami dari orang-orang yang menang dan orang-orang yang beruntung).”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Sejarah

Ucapan tersebut memiliki sejarahnya sendiri, terutama terkait Perang Badar, perang antara antara umat Islam melawan Quraisy. Dilansir dari berbagai sumber, dalam sejarah Islam, perayaan Idul Fitri pertama kali adalah pada 624 Masehi atau tahun kedua hijriah. Waktu tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin.

Perang Badar sendiri terjadi pada 17 Ramadan dan pasukan Rasulullah hanya berjumlah sedikit dibandingkan musuh. Namun berkat perlindungan dan bantuan Allah SWT, Perang Badar bisa dimenangkan oleh Rasulullah dan para pasukannya.

Kemenangan Perang Badar lantas dirayakan secara besar-besaran, sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Dari kemenangan inilah, muncul ungkapan “Minal ‘Aidin wa Faizin” yang versi lengkapnya, “Allahummaj ‘alna minal ‘aidin walfaizin”. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.”

Pada perayaan Idul Fitri pertama ini, kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana. Adalah pencapaian ritual puasa Ramadan setelah berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, sekaligus keberhasilan dalam Perang Badar.

 

3 dari 4 halaman

Peristiwa Penting

Perang Badar merupakan salah satu peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan di masa awal perkembangan Islam. Untuk kaum muslimin, Ramadan bukanlah bulan suci semata, karena di bulan ini seluruh umat Islam harus menahan diri dari rasa lapar, haus, dan juga menahan emosi.

Hadis Nabi Muhammad SAW pun diturunkan, isinya: “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”

Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Kata Id berdasar dari akar kata aada – yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Fitri berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar dan berdasar hadis Rasulullah SAW.

 

4 dari 4 halaman

Makna Idul Fitri

”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya." Dalam Riwayat lain: "Nabi SAW makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).

Dengan demikian, makna Idul Fitri adalah hari raya saat umat Islam kembali berbuka atau makan. Karena itu salah satu sunnah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Ini menunjukkan bahwa hari raya idul fitri 1 syawal adalah waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alayh).

Barangsiapa yang salat malam di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘alayh).  Dengan demikian, Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian atau fitrah.