Sukses

4 Hal yang Harus Diperhatikan Pendaki Perempuan Saat Naik Gunung

Liputan6.com, Jakarta - Tidak hanya untuk pria, mendaki gunung telah jadi salah satu aktivitas yang kian umum dilakukan para wanita. Kenyataannya, semakin banyak perempuan yang memilih agenda tersebut.

Menurut data EIGER Adventure Service Team (EAST), dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Rabu, 1 Desember 2021, hampir 55 persen pendaki saat ini adalah perempuan.  Mendaki gunung sendiri bisa jadi salah satu cara untuk healing, mengurangi beban pikiran, khususnya untuk mendekatkan diri dan merasakan keindahan alam.

Namun harus diingat, pada dasarnya, ada empat kemampuan yang harus dimiliki pendaki, yaitu kemampuan teknis, kebugaran, kemanusiaan, dan pemahaman lingkungan. Khusus pendaki perempuan, terdapat sejumlah hal lain yang harus diperhatikan, seperti dipaparkan dalam acara Women Adventure Camp (WAC) 2021 yang digelar EIGER.

1. Kenali bahaya objektif dan subjektif dalam perjalanan

Iwan "Kwecheng" Irawan, salah satu World Seven Summiter asal Indonesia, menjelaskan, ada dua jenis bahaya dalam kegiatan luar ruang, yaitu bahaya objektif dan subjektif. Bahaya objektif merupakan bahaya akibat faktor alam seperti ketinggian, cuaca, oksigen, medan, dan curah hujan. Sedangkan bahaya subjektif dilandasi faktor orang.

Menurut Kwecheng, ketika bahaya subjektif lebih besar dari bahaya objektif, artinya semua orang bisa ikut berkegiatan selama semua kondisi alam sudah diprediksi dan diperhitungkan. Sedangkan ketika bahaya objektif sama dengan bahaya subjektif, artinya kegiatan tersebut mengharuskan para penggiatnya harus punya kemampuan lebih.

2. Menjaga higientias

dr. Ratih Citra Sari, lulusan Wilderness Medicine di Stanford University, memaparkan cara menjaga kebersihan organ intim perempuan.

"Masih banyak pendaki perempuan yang abai dengan higienitas saat berkegiatan dengan berbagai alasan. Padahal, ini bisa berdampak besar di kemudian hari kalau tidak diperhatikan sejak awal, seperti mengalami vaginitis atau infeksi vagina hingga sulitnya memiliki keturunan," terang dr Ratih.

Hal utama dalam menjaga higienitas adalah selalu mengganti pakaian dalam sebelum tidur. Juga, membasuh organ intim dengan air setidaknya sekali sehari, dan sebaiknya tidak menggunakan tisu basah.

"Dengan melakukan dua hal sederhana ini, para perempuan sudah mengurangi kemungkinan infeksi di area luar dan dalam organ kewanitaan," ucapnya.

Hal lain yang harus diperhatikan para pendaki perempuan adalah sampah pembalut.  Ia menekankan untuk selalu membawa turun sampah pembalut selama berkegiatan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3. Menyiapkan Perbekalan Ramah Lingkungan

Siska Nirmala, yang dikenal melalui akun instagram @zerowasteadventure, menjelaskan filosofi zero waste yang berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa dipakai.

Ketika mendaki gunung, Siska sebisa mungkin menghindari makanan kemasan dan menggantinya dengan buah-buahan, sayur, atau bahan masakan lain yang dibungkus dengan kotak atau tas jaring untuk menjaga ketahanannya.

Di samping, Siska pun memilah sampah yang dihasilkan untuk dijadikan kompos atau diberikan ke bank sampah untuk sampah-sampah yang tidak dapat terurai.

"Bagi sebagian orang mungkin melihat ini sebagai kegiatan yang rumit, tapi jika sudah terbiasa, justru perjalanan jadi lebih simpel. Kuncinya adalah perencanaan perjalanan," ujarnya.

4. Memilih outfit yang aman dan nyaman

Materi yang tak kalah penting ini disampaikan oleh Abex, yang dikenal melalui akun Instagram @anak_bebek. Abex menjelaskan pentingnya sistem layering dalam berpakaian ketika mendaki gunung.

"Pada dasarnya, ada 3 layer yang harus diketahui para pendaki, yaitu base layer, mid layer, dan outer layer. Ketiga lapisan ini punya manfaatnya masing-masing. Juga, berperan penting dalam menjaga suhu dan kondisi tubuh saat mendaki gunung," tuturnya.

3 dari 4 halaman

Dianggap Merepotkan dan Lambat

Melihat antusias para pendaki perempuan saat ini, EIGER Adventure kembali mengadakan WAC. Dini Hanifah, anggota EIGER Adventure Service Team, menyebut WAC tahun ini digelar di Gunung Burangrang dan diikuti oleh 30 peserta yang datang dari berbagai kota,

"Women Adventure Camp merupakan kegiatan tahunan EIGER, di mana kami memberikan pelatihan dasar pendakian pada para pendaki perempuan pemula terpilih," ucap Dini.

Kegiatan WAC 2021 ditutup dengan sharing session bersama Uki Wardoyo, seorang pendaki perempuan. Dalam sesi ini, para peserta menceritakan stereotip yang sering disematkan sebagai pendaki perempuan. Ada yang dianggap merepotkab, jalannya lambat, atau hanya membebani tim saat perjalanan.

Uki yang mencoba menyemangati para perempuan pendaki ini menjelaskan bahwa pada dasarnya ada hal-hal yang perempuan harus terima, terutama mengenai kondisi tubuh. Namun, bukan berarti perempuan harus diam dengan stereotip yang ada.

Dengan terus berlatih, belajar, dan mengenali diri, para perempuan bisa mematahkan stereotip yang ada, tanpa memaksakan. "Yang paling simpel yang bisa dilakukan untuk mematahkan stereotip itu adalah dengan ambil peran masing-masing di dalam tim," pungkas Uki.

4 dari 4 halaman

Infografis 9 Strategi Antisipasi Potensi Gelombang III COVID-19 Saat Libur Nataru