Sukses

Restoran Bayar Biaya Penerbangan Lebih dari 250 Stafnya untuk Pulang Bertemu Keluarga

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi telah membuat perjalanan, terutama antar negara, jadi sangat sulit hampir dalam dua tahun belakangan. Karena aturan penanggulangan virus corona baru, banyak perbatasan tutup dan penerbangan dibatalkan, membuat jutaan orang jauh dari keluarga maupun orang-orang terkasih di rumah.

Di tengah pelonggaran aturan yang mulai berlaku di sejumlah negara, grup Black Sheep Restaurant asal Hong Kong memanfaatkannya untuk memperbolehkan stafnya terbang pulang. Izin ini beserta kurang lebih semua pengeluarannya ditanggung perusahaan.

Melansir CNN, Kamis, 25 November 2021, selain biaya penerbangan dan tes COVID-19 sebagai syarat perjalanan, mereka juga akan menerima cuti tambahan selama berminggu-minggu untuk memungkinkan menjalani karantina sekembalinya ke Hong Kong. Itu pun dibayari perusahaan.

Sementara stafnya menghabiskan waktu di rumah, Black Sheep Restaurant bahkan akan mengantarkan makan malam dari salah satu dari 32 restoran mereka. Satu-satunya peringatan? Staf wajib menyelesaikan satu tahun layanan setelah mereka kembali.

Sandeep Arora, warga kota kuno Jalandhar di wilayah Punjab India; Amy Stott yang belum pernah melihat orang tuanya di Manchester, Inggris sejak Juni 2019; serta Sabi Gurung yang melakukan kunjungan perdana hampir dalam dua tahun ke rumahnya di Nepal masuk daftar staf yang akan menikmati program tersebut.

Mereka adalah tiga di antara lebih dari 250 staf yang mendapat manfaat dari insiasi tersebut. Dilaporkan bahwa karyawan di setiap tingkatan bisa pulang ke negara-negara yang jauh seperti Argentina, Nigeria, Prancis, Afrika Selatan, dan Australia.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Perkiraan Biaya yang Dihabiskan

Program ini diimpikan dua founder Black Sheep Restaurant, Syed Asim Hussain dan Christopher Mark. Hussain adalah orang pertama yang mengakui bahwa langkah yang akan menelan biaya setidaknya 650 ribu dolar AS (Rp9,3 miliar) itu sedikit gila.

"Itu adalah ide konyol yang kami miliki setelah terlalu banyak minum anggur," katanya. "Keesokan harinya kami memberi tahu yang lain, dan mereka benar-benar menentangnya. Mereka ada di sana untuk membantu kami agar tidak membuat keputusan bodoh."

Terlepas dari nasihat ini, Hussain dan Mark tetap melakukannya. "Orang-orang bisnis kami luar biasa dan membantu kami memahami kewajiban dan risiko, tapi itu akan menghalangi kami melakukan hal yang benar," kata Hussain.

"Ini selalu merupakan bisnis di mana margin sangat tipis, terutama sekarang. Saya mengerti itu agak kurang ajar, tapi rasanya seperti hal yang benar untuk dilakukan," imbuhnya.

3 dari 4 halaman

Semangat Bertemu Keluarga

Jelas staf yang akan mendapat keuntungan, karena mereka bisa pulang mulai Januari dan seterusnya, sangat setuju. Di antaranya adalah Stott, yang telah menghabiskan 27 bulan terakhir di Hong Kong.

"Sulit untuk jauh dari keluarga, terutama ketika kami kehilangan orang yang kami cintai," katanya. "Tidak bisa secara fisik memeluk ibumu dan berada di sana ketika mereka membutuhkan dukungan telah menantang secara mental."

Bagi yang lain, ini juga merupakan tindakan sederhana untuk bepergian ke suatu tempat di luar Hong Kong untuk pertama kalinya dalam dua tahun. "Kesempatan untuk pulang sangat berarti," kata Arora, manajer restoran dan sommelier di dua restoran Black Sheep.

"Selain menghabiskan waktu bersama keluarga, saya sangat bersemangat untuk bepergian lagi. Saya ingin mengunjungi setiap sudut Punjab, terutama pegunungan. Kami akan mendaki di sepanjang sungai, menginap di resor bukit, dan menghabiskan waktu di alam," paparnya.

4 dari 4 halaman

Infografis Benarkah COVID-19 Bisa Menyebar Melalui Makanan?