Sukses

5 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Sumatera Barat (Bagian 3)

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai wilayah di Nusantara memiliki keunikan dan kekayaan budaya tersendiri. Termasuk di Sumatera Barat yang deretan karya budayanya ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2021.

Memasuki bagian ketiga, ada beberapa karya budaya dari Ranah Minang ini masih didominasi oleh keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Apa saja kelima karya budaya tersebut? Yuk, simak rangkuman selengkapnya seperti dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, Kamis (25/11/2021), berikut ini.

1. Teh Talua

Teh Talua yang berarti teh telur jadi salah satu minuman tradisional khas daerah Sumatera Barat. Minuman dengan kandungan gizi yang tinggi dan baik bagi kesehatan ini terbuat dari bahan utama telur dicampur susu atau gula. Teh talua kerap diminum sebagai minuman pembuka atau diminum pagi hari sebelum beraktivitas ke sawah atau ke ladang.

Ada beberapa kriteria kualitas minuman ini menurut para penikmatnya. Dari segi tampilan, ada yang berbentuk tiga lenggek (tingkat) di dalam gelas. Tingkat pertama buriah, lenggek kedua berwarna kecokelatan, dan yang lenggek terakhir warna putih, yakni tumpukan susu kental.

Bila diletakkan sendok almunium di tengahnya, sendok itu akan berdiri menjulang. Inilah nilai simbolis yang sangat tinggi, keunikan, kebergairahan minuman serta memberikan khasiat untuk menambah energi dan fitalitas. Teh talua memiliki estetika tersendiri dalam tampilannya, biasanya teh talua ditaruh pada gelas bening dengan tingkat bagian warna.

2. Pupuik Sarunai

Serunai atau puput serunai diperkirakan datang dari nama shehnai, alat musik yang bermula dari Lembah Kashmir di dataran India Utara. Setelah dikenal luas di dataran tinggi Minangkabau, serunai populer sebagai alat musik tiup tradisional Minang.

Instrumen musik bambu ini berfungsi mirip dengan klarinet. Puput serunai biasanya dimainkan dalam acara-acara, seperti upacara perkawinan, penghulu (batagak pangulu dalam bahasa Minang). Musik serunai juga populer untuk mengiringi pertunjukan pencak silat Minang.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 
2 dari 4 halaman

3. Malamang

Malamang biasanya dilakukan dalam menyambut acara-acara penting, seperti memasuki bulan Ramadan, Maulid Nabi, acara adat, Lebaran, pernikahan dan lain-lain. Sejarah malamang ini diawali dari sejak muncul dan menyebarnya agama Islam di Minangkabau.

Malamang merupakan tradisi untuk membuat lamang. Ini adalah makanan yang terbuat dari beras ketan dan santan yang dipanggang dalam sebatang bambu yang di dalamnya telah dilapisi dengan daun pisang.

4. Makan Bajamba Nagari Jawi-Jawi

Makan Bajamba Nagari Jawi-Jawi adalah tradisi yang semua makanan dibawa dan dimasak oleh bundo kanduang dari rumah mereka masing-masing secara suka rela. Masing-masing nagari memiliki spesifikasi makanan yang unik dengan ciri khas tersendiri.

Makanan yang dibawa dari masing masing nagari akan diatur penempatannya oleh sipangka (tuan rumah). Usai melalui prosesi adat yang berlangsung, para peserta makan bajamba akan duduk sejajar.

 
3 dari 4 halaman

5. Kawa Daun Pariangan

Kawa Daun adalah salah satu jenis minuman tradisional di Pariangan yang ada sejak zaman dahulu. Kata "kawa" berasal dari dari Bahasa Arab yaitu Alqahwa yang berarti kopi, tetapi karena bahan yang digunakan bukan biji kopi melainkan daun kopi. Dua kata itu kemudian digabungkan menjadi kawa daun, yang berarti kawa atau kopi yang terbuat dari daun kopi.

Untuk mengolah daun kopi ini menjadi minuman, ada berbagai alat dan cara yang lazim dilakukan. Pertama, mengambil daun kopi yang sudah agak tua dan warnanya sudah menguning. Aroma yang lebih harum adalah daun kopi jenis Arabika dibandingkan dengan kopi Robusta.

Setelah daun kopi dipetik, lalu ditusuk dengan sebuah bilah dan dijejerkan sekitar 75 cm panjangnya. Kemudian, daun kopi tersebut dikeringkan dengan bara api sampai kering.

Setelah kering, daun kopi tersebut diletakkan di dapur di dekat tungku sehingga akan semakin kering dan berubah warna menjadi hitam dan dilanjutkan dengan merebusnya sampai mendidih. Agar rasanya lebih nikmat, kawa daun biasanya dicampur dengan gula aren atau gula enau dan sedikit kulit manis.

4 dari 4 halaman

Infografis: Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO