Sukses

Halima Aden Serukan Lebih Banyak Keragaman di Industri Fesyen

Liputan6.com, Jakarta - Halima Aden sempat menyita perhatian saat memutuskan mundur dari dunia modeling pada November 2020. Sosok yang dianggap sebagai panutan model muslimah dunia itu mengungkapkan bahwa keputusan diambil lantaran merasa keyakinannya sedang dikompromikan.

Supermodel itu mengatakan kepada Tommy Hilfiger dalam sebuah wawancara untuk BBC World Service bahwa dia merasa seperti minoritas dalam minoritas. Aden mengungkapkan bahwa jelang akhir karir modelingnya, dia merasa sangat jauh dari jati dirinya dan telah kehilangan kendali atas identitasnya.

"Dua tahun terakhir, saya memercayai tim di lokasi untuk mengenakan jilbab saya dan saat itulah saya mengalami masalah," katanya, menggambarkan suatu pemotretan di mana jeans ditempatkan di kepalanya, alih-alih hijab yang biasa, melansir Independent, Jumat (23/7/2021).

"Hijab saya terus menyusut dan semakin kecil di setiap pemotretan," tambahnya.

Pengalamannya sebagai model muslimah pertama yang berburkini di sampul majalah Sports Illustrated dianggapnya sebagai "pengalaman luar biasa". Namun, ia merasa dia berjalan di "garis tipis" karena "terus-menerus berusaha menenangkan penggemar Muslim sambil berusaha terlihat tetap modis."

Perempuan berusia 23 tahun itu juga menyebut industri fesyen sangat eksploitatif. Model, sambung dia, adalah sisi yang mudah dieksploitasi, terutama model-model muda.

Maka itu, ia terus menyerukan agar lebih banyak keragaman di antara kru rias, penata rambut, dan stylish yang bekerja di lokasi. Aden berkata, "Ini bukan hanya tentang memiliki catwalk yang beragam. Ini juga tentang orang-orang di belakang layar."

 

 

 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 4 halaman

Duta Unicef

Meski karir modelingnya telah berakhir, Aden tetap menjalani peran sebagai Duta Unicef. Ia pun mengungkapkan pendapatnya setelah mengunjungi kamp pengungsi tempat kelahirannya, dua tahun lalu.

Ia mendapati bahwa ukuran kamp pengungsian telah berlipat ganda. Ia tak mengerti mengapa kamp-kamp pengungsi masih ada.

"Saya berharap suatu hari kita sampai ke tempat di mana organisasi seperti UNICEF tidak diperlukan, dan setiap anak memiliki apa yang pantas mereka dapatkan. Itu hanya menghancurkan hati saya ketika saya memikirkan beberapa dari angka-angka ini ... itu membuat saya sangat emosional."

"Tetapi, saya melihat harapan dan saya pikir lebih banyak kisah sukses seperti yang saya miliki di luar sana karena pengungsi adalah orang-orang yang tangguh. Mereka adalah orang-orang yang berpikiran kuat yang memiliki begitu banyak hal untuk diberikan, begitu banyak cinta untuk diberikan," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

3 dari 4 halaman

Karir Modeling Halima

Halima Aden merupakan perempuan Somalia yang lahir kamp pengungsian di Kenya. Ia menandatangani kontrak dengan IMG Models pada 2017.

Ia kemudian menjadi model hijab pertama yang tampil di sampul British Vogue. Halima juga pernah menjadi model untuk brand Yeezy milik Kanye West, hingga Fenty, Marc Jacobs, dan Alberta Ferreti.

Halima kemudian berjanji tidak akan pernah ambil bagian dalam peragaan busana atau bepergian selama bulan-bulan mode lagi, menambahkan bahwa "dari sanalah semua energi buruk berasal." Pasalnya, ia mengaku industri fesyen memengaruhi kehidupannya, seperti terpaksa meninggalkan salat, mengenakan pakaian yang tidak nyaman, dan menata hijabnya dengan cara yang dirasa mengkhianati nilai-nilainya.

"Mereka bisa meneleponku besok dan bahkan untuk 10 juta dolar AS, aku tidak akan pernah mengambil risiko mengorbankan hijabku lagi," tulisnya. (Jihan Karina Lasena)

4 dari 4 halaman

Penghasilan Model Dunia