Sukses

6 Fakta Menarik tentang Nias yang Paling Sulit Ditaklukkan Belanda di Masa Penjajahan

Liputan6.com, Jakarta - Nias merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang menjadi pulau terbesar di antara gugusan pulau di pantai barat Sumatera. Mayoritas penduduk kabupaten dengan luas wilayah 5.625 kilometer persegi ini adalah suku Nias atau yang biasa disebut Oho Niha.

Penduduk di Pulau Nias terkenal dengan budaya berperangnya. Meskipun saat ini telah berada di era modern, suku Nias tetap mempertahankan adatnya dan mereka masih terus menjalankan kehidupannya seperti yang dilakukan nenek moyang.

Kontur daerah Nias berbukit-bukit. Kabupaten ini terletak dekat dengan garis khatulistiwa sehingga curah hujan di Nias setiap tahunnya cukup tinggi. Maka, kondisi iklim di Nias sangat lembab dan basah. Suhu minimum di kabupaten ini adalah 23,3 derajat Celcius.

Selain itu, letaknya yang dikelilingi oleh Samudera Hindia juga menyebabkan Nias sering mengalami badai besar. Kecepatan angin setiap tahunnya yang terjadi antara September hingga November cukup kencang. Tapi, fakta menarik tentang Nias tak hanya itu. Liputan6.com merangkum enam lainnya dari berbagai sumber.

1. Wilayah Paling Susah Ditaklukkan di Indonesia

Wilayah Nias merupakan wilayah yang ukurannya terbilang lebih kecil dari wilayah lainnya di Indonesia. Namun, Nias menjadi wilayah yang paling susah untuk ditaklukan oleh Belanda saat melakukan kolonialisasi di Indonesia. Selama ratusan tahun berada di pulau tersebut, Belanda baru mampu menaklukan Nias pada 1914.

Penduduk Nias bertarung habis-habisan melawan Belanda. Selama puluhan tahun, Belanda tidak bisa masuk terlalu dalam ke Nias karena penduduk Nias pasti akan menyerangnya demi mempertahankan wilayah mereka. Bahkan, kawasan ini juga disebut sebagai neraka bagi Belanda karena kebudayaan bertarungnya yang mengagumkan sekaligus mengerikan.

2. Rumah Adat Omo Sebua

Rumah adat suku Nias, Omo Sabua didirikan tanpa paku dan didesain khusus untuk melindungi orang yang tinggal dirumah tersebut dari serangan lawan saat bertempur. Tiang-tiang kayu ulin besar membuat bangunan ini semakin kokoh didirikan.

Rumah adat Omo Sebua juga memiliki atap yang curam dengan ketinggian 16 meter. Selain melindungi rumah dari musuh, Omo Sebua juga tahan terhadap guncangan gempa lantaran pondasi rumahnya terdiri dari lempengan batu besar dan balok-balok besar diagonal.

 

 

2 dari 5 halaman

3. Memiliki Banyak Bangunan Megalitikum

Bangunan-bangunan yang ada di Nias kebanyakan berasal dari kebudayaan Megalitukum. Megalitikum adalah bentuk-bentuk praktik kebudayaan yang dicirikan oleh sebuah monumen dan batu besar sebagai ciri khas.

Situs Megalitikum Boronadu menjadi salah satu situs Megalitikum dengan usia ribuan tahun di Nias. Situs ini diyakini sebagai asal-mula para leluhur ada. Tak hanya itu, ada juga Situs Megalit Tetegewo yang merupakan rumah dan peradaban megalitikum yang masih hidup. Situs Tetegewo terdiri atas batu-batu berbagai bentuk dan ukuran.

4. Tradisi Hombo Batu

Tradisi lompat batu atau yang biasa disebut Hombo Batu adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Bawomataluo. Tradisi ini sudah ada sejak zaman leluhur dan dijadikan sebagai ajang untuk menguji mental serta fisik bagi setiap pemuda suku Nias.

Batu yang dilompati masyarakat sekitar merupakan batu-batu besar yang disusun seperti piramida. Tinggi batu tersebut 2 meter dengan lebar 90 meter dan panjang 60 meter. Para pemuda yang berhasil melewati Hombo Batu akan ditugaskan untuk menjaga desa dari konflik peperangan antardesa. Konon katanya, berhasil tidaknya melampaui Hombo Batu dipengaruhi oleh faktor garis keturunan.

 

 

3 dari 5 halaman

5. Laut Matinya Indonesia

Pantai Tureloto yang terletak di Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias, merupakan pantai berkadar garam tinggi, sehingga pantai ini disebut sebagai Laut Mati-nya Indonesia. Dengan kadar garam yang tinggi, Anda bisa terapung di permukaan laut tanpa perlu usaha.

Berbeda dengan Laut Mati yang ada di Yordania, Pantai Tureloto memiliki beberapa biota laut yang bisa dilihat dengan mata telanjang lantaran air yang ada di kawasan ini sangat jernih. Itu menandakan kadar air laut di sana tidak setinggi di Laut Mati Yordania.

6. Balugu yang Hanya Dijabat Laki-laki

Tak seperti pemerintahan pada umumnya, pejabat kewilayahan yang ada di desa adat Nias hanya bisa dijabat oleh laki-laki yang disebut dengan Balugu. Selain itu, hanya laki-laki mapan yang dapat menyandang gelar tersebut.

Bagaimana tidak, untuk mendapatkan gelar Balugu haruslah mengadakan acara atau pesta besar-besaran, yang dihadiri oleh masyarakat setempat dan seluruh sesepuh petuah adat dari berbagai penjuru wilayah sembari menyuguhkan makanan dan rahang babi (simbi). (Dinda Rizky Amalia Siregar)

4 dari 5 halaman

Awas Lonjakan Covid-19 di Libur Lebaran

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: