Sukses

6 Fakta Menarik tentang Kepulauan Anambas yang Ratusan Pulaunya Tak Berpenghuni

Liputan6.com, Jakarta - Kepulauan Anambas merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Tercatat pada 2007 sekitar 41.341 jiwa menempati kabupaten seluas 590,14 km2 dengan luas perairan mencapai 46,074 km2.

Anambas terletak antara Singapura dan Kepulauan Natuna di Laut China Selatan. Posisi tersebut menjadikannya salah satu kabupaten terdepan Indonesia.

Kabupaten Kepulauan Anambas terdiri dari 255 pulau-pulau kecil dengan hanya 26 pulau yang berpenghuni. Artinya, mayoritas pulau di Anambas tak berpenghuni yang memerlukan patroli ketat dari aparat.

Keindahan Anambas dinobatkan sebagai peringkat pertama pulau tropis terindah di Asia versi CNN pada 2012 mengalahkan Koh Cang dan Similand (Thailand), Langkawi (Malaysia), serta Teluk Halong (Vietnam). Namun, hal-hal menarik tentang Anambas tak hanya itu. Liputan6.com merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Rabu, 17 Februari 2021.

1. Pulau Bawah di Anambas

Objek wisata Pulau Bawah Anambas menjadi destinasi wisata bergengsi pada 2018 di Kepulauan Riau. Pulau di Kabupaten Anambas itu menawarkan berbagai macam wisata, terutama wisata ecopark. Di sana juga terdapat laut yang jernih dan biru, serta hutan yang lebat.

Pulau Bawah Anambas ini disebut-sebut sebagai surga yang jatuh dari langit. Ekosistem dan habitatnya masih asli, seperti kembali ke masa 10 abad yang lalu. Pulau Bawah memiliki tiga laguna dengan air yang bening hingga 13 pantai dengan pasir putih yang lembut. 

Pulau Bawah ini memiliki luas sekitar 300 hektare. Jumlah pengunjung pulau itu dibatasi sekitar 70 orang per kunjungan. 

Satu hal yang perlu diketahui, pulau ini hanya bisa diakses melalui jalur laut atau dengan menggunakan pesawat terbang yang bisa mendarat di laut (seaplane). Akses seaplane bisa dari Bandara Batam dan membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 70 menit perjalanan. Pelancong asing yang ingin ke Pulau Bawah Anambas harus memiliki visa untuk masuk ke sini.

 

2 dari 6 halaman

2. Uang Koin Tak Dianggap

Keberadaan uang koin telah terpinggirkan di kawasan perbatasan Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Anda akan sulit menemukan uang koin di sana.

Biasanya masyarakat yang ingin berbelanja di warung, toko atau pasar, hanya dapat menggunakan uang kertas sebagai alat pembayaran transaksi, termasuk uang pecahan Rp1.000. Situasi ini terjadi di semua kecamatan di Anambas. Padahal, Bank Indonesia menyatakan uang logam berlaku sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah RI. 

Penamaan uang koin juga terbilang unik. Masyarakat tempatan di sana memanggil uang koin dengan sebutan duit seling atau siling. Hampir mirip dengan penyebutan orang Malaysia, yaitu duit syiling.

3. Pulau Terluar di Anambas

Pulau Damar merupakan pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Natuna, atau bagian dari Laut Cina Selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Masyarakat menyebutnya sebagai Tokongatap. Bentuknya berupa batuan besar yang kokoh dan bertebing curam.

Di Pulau Damar tidak dapat ditemukan terumbu karang karena perairan di sekitar pulau ini sangat dalam dengan ombak yang besar. Kondisi itu berbahaya untuk penyelaman.

Perairan sekitar Pulau Damar menjadi lokasi tempat tenggelamnya empat buah kapal yang membawa barang-barang bernilai sejarah tinggi. Hal ini menyebabkan para nelayan Malaysia sering berada di perairan sekitar pulau ini.

Ikan-ikan yang menjadi hasil tangkapan utama di perairan ini adalah ikan tongkol dan tenggiri. Pada bagian dalam pulau ini terdapat sumber air tawar yang luas seperti kolam dan menjadi tempat berkumpulnya burung camar hitam.

 

3 dari 6 halaman

4. Habitat Ikan Napoleon

Perairan Kepulauan Anambas merupakan salah satu habitat ikan Napoleon (Cheillinus undulatus) yang bernilai ekonomi tinggi. Ribuan napoleon yang dibudidayakan nelayan setempat menanti untuk dikunjungi sebagai saksi kejayaan nelayan Anambas.

Napoleon merupakan jenis ikan karang berukuran tubuh paling besar dari keluarga Labridae. Tubuhnya umumnya berwarna terang. Ikan tersebut juga dikenal dengan sebutan humphead maori wrasse dalam Bahasa Inggris, sementara masyarakat setempat mengenal napoleon dengan nama ikan ketipas.

Pada era 1990-an, napoleon menjadi raja bagi para nelayan di Anambas karena harga jualnya fantastis. Nilainya mencapai 180 dolar Singapura per kilogram. Tidak mengherankan apabila banyak nelayan Anambas yang tergiur menjadi pembudidaya napoleon.

Salah satu desa yang merupakan desa budidaya ikan napoleon terbesar di Anambas adalah Desa Air Sena. Di desa yang terletak di Kecamatan Siantan Tengah itu, 80 persen warganya menjadi nelayan pembudidaya napoleon. Setidaknya, setiap nelayan budidaya memiliki 3-4 kolam karamba.

5. Tradisi Buang Ancak

Buang ancak sebenarnya tradisi yang bisa ditemui di sejumlah wilayah di Indonesia, dengan nama berbeda-beda. Pengertian buang ancak adalah buang penyakit.

Zaman dulu masyarakat Anambas yang melaut dan selamat sampai ke rumah, mereka akan membuat ritual buang ancak. Ini wujud rasa syukur karena mereka selamat sampai di rumah. Ritual tersebut juga dipercaya dapat membuang penyakit yang susah untuk disembuhkan.

Sebelum ritual dilaksanakan, warga Anambas harus menyiapkan sejumlah bahan, seperti telur dan padi yang dikeluarkan putihnya. Bahan itu dimasukkan ke suatu wadah dan dilepaskan ke laut.

 

 

 

4 dari 6 halaman

6. Mi Tarempa

Tarempa merupakan nama tempat sekaligus ibu kota Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri. Berada di daerah perbatasan, Tarempa memiliki kuliner yang sudah terkenal bahkan hingga Jakarta.

Mi Tarempa berbeda dengan mi biasa karena terbuat dari tepung gandum. Makanan ini biasa disajikan warga ketika ada tamu yang berkunjung maupun menjadi santapan pagi masyarakat sambil duduk di warung kopi setempat.

Mi ini dibuat dengan olahan ikan tongkol atau yang biasa disebut dengan ikan 'simbok' oleh masyarakat yang dipotong kecil kemudian ditumis dengan minyak goreng. Tak lupa pula diberi cabai kering giling yang jadi bumbu khas mie Tarempa.

Selainmi, ada pula makanan khas Anambas bernama Luti Gendang, Penamaan Luti Gendang sendiri beasal dari dialek masyarakat Tionghoa yang menyebut kata ‘roti’ menjadi ‘luti’, sedangkan ‘gendang’ diketahui merupakan kata ‘rendang’ yang dalam bahasa Tarempa bermakna digoreng.

Makanan berbentuk roti yang berisi olahan daging ayam dan bumbu lainnya ini juga sangat cocok menjadi buah tangan atau oleh-oleh. Luti gendang sendiri dibuat dari tepung terigu, telur, gula putih, mentega, ragi roti, ikan, bawang, garam dan juga cabai. Hingga saat ini, proses pembuatan luti gendang masih dilakukan secara tradisional. (Melia Setiawati)

5 dari 6 halaman

Gua Langse

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: