Sukses

Kode Kehormatan Efektif untuk Validasi Pembelajaran Siswa Secara Virtual

Liputan6.com, Jakarta -  Saat ini, ketika pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah menjadi sebuah kebiasaan, masalah integritas akademik cukup menjadi perhatian besar. Dengan pengawasan siswa yang lebih minim di ruang kelas virtual, kasus pelanggaran akademik menjadi lebih umum terjadi.

Pelanggaran akademik merupakan praktik yang masih sering dijumpai di Indonesia di mana data menunjukkan bahwa 28 provinsi memiliki angka di atas 20 persen, terutama pada saat ujian nasional.

Karena pandemi COVID-19, tahun ini negara memutuskan untuk membatalkan semua ujian dan memperkenalkan pendekatan alternatif serta validasi pembelajaran, dengan mengurangi jumlah ujian, mengubah format ujian, dan menilai portofolio belajar siswa tanpa hasil ujian.

Menurut Jack Brazel, Head of Business Partnership Southeast Asia dari Turnitin, menggunakan kode kehormatan (honor code), sebuah penilaian yang didasarkan pada perilaku siswa, untuk mengekang ketidakjujuran akademis terbukti menjadi alat yang efektif dalam mendorong perilaku etis.

“Kode kehormatan akan membantu menginspirasi siswa untuk memprioritaskan integritas pribadi dan juga berkolaborasi secara efektif dengan teman sebayanya. Untuk mendukung ini, berbagai solusi teknologi pendidikan berkembang untuk mengidentifikasi dan mencegah ketidakwajaran dalam hal akademik,” ungkapnya.

Menanggapi pandemi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia telah mengembangkan aplikasi berbasis android bernama Rumah Belajar (Home Study) untuk menyediakan materi pembelajaran, kelas digital, laboratorium online dan bank soal untuk siswa PAUD, SD dan sekolah menengah.

Dalam survei yang dilakukan pada April 2020 oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang melibatkan 1.700 siswa dan 602 guru di 54 kota dan kabupaten, 79 persen responden siswa melaporkan bahwa ruang kelas virtual mengurangi interaksi guru-siswa secara signifikan.

Jack menambahkan, interaksi yang terbatas antara pendidik dan siswa menjadikan guru lebih sulit dalam membedakan apakah seorang siswa tersebut sengaja melanggar standar integritas akademik atau tidak. Hal ini bisa dilihat dengan cara meminta mereka menjelaskan bagaimana proses menyelesaikan tugas, dan bahkan menggunakan penilaian singkat yang ditargetkan untuk mengungkap hal-hal yang masih dirasa kurang dalam keterampilan.

“Namun, pendekatan ini menghabiskan banyak waktu. Selain itu, bagi pendidik yang kurang pengalaman dalam melakukan investigasi, cara ini belum tentu bisa berhasil,” imbuhnya.

Kode kehormatan, katanya selain membantu siswa memahami pentingnya integritas dan orisinalitas selama proses penulisan, juga harus terus diperbarui untuk mencerminkan lingkungan belajar saat ini.

“Kode kehormatan harus mendukung pekerjaan para guru dan diperkuat melalui pengajaran. Misalnya, pada awal tahun ajaran, pendidik dapat meminta siswa menandatangani pernyataan tertulis yang kemudian akan menjadi referensi panduan sepanjang tahun. Penting juga untuk mendidik siswa tentang prinsip integritas akademik dan membangun kepercayaan melalui umpan balik rutin dan sesi pertemuan virtual tatap muka.”