Sukses

Imbas Covid-19, Festival Voodoo 2021 di Benin Berlangsung Tanpa Kemeriahan

Liputan6.com, Jakarta - Benin menggelar festival voodoo tahunan pada Minggu, 10 Januari 2021. Tak ada prosesi megah seperti biasanya setelah otoritas negara Afrika Barat melarang pertemuan dalam skala besar dan ramai pengunjung demi mencegah penyebaran Covid-19.

Voodoo, lebih sering disebut "vodun" di wilayah tersebut, berasal dari Kerajaan Dahomey, sekarang Benin dan negara tetangga Togo. Dengan hierarki dewa dan roh yang berasal dari alam, ajaran leluhur yang masih dijunjung kerap menggunakan jimat dan praktik magis, seperti untuk pengobatan dan penyembuhan.

Leluhur yang juga dihormati diyakini hidup berdampingan dengan makhluk hidup. Ritual tradisional yang dipentaskan di desa dan kota di penjuru negeri biasanya menarik banyak pengunjung, mulai dari warga sampai turis.

Tetapi tahun ini, hanya sekelompok kecil orang yang mengambil bagian dalam perayaan. Sebagian besar lainnya diadakan di biara voodoo.

Di Pantai Grand-Popo, sebuah desa pesisir di barat daya Benin, sekitar 50 umat berpartisipasi. Semuanya mengenakan masker dan menjaga jarak fisik, demi melakukan ritual kurban.

Melansir dari france24, Selasa (12/01/2021), "Ini adalah ritual pemberian berkah yang dianugerahkan di pantai ini untuk digelar setiap 10 Januari, dan Anda tidak boleh melewatkan kesempatan ini," kata seorang umat, Odilus Sogan, kepada AFP.

"Kami sedikit kecewa," tambah Metowanou Guedehoungue, tokoh voodoo yang ikut serta. "Banyak umat telah diminta untuk tinggal di rumah,” sambungnya.

Di masa normal, "voodoo dirayakan dengan kemegahan dan kemeriahan," katanya.

Di ibu kota ekonomi Cotonou, seorang tokoh yang disebut dewi laut Mami, Hounnon Zekpon, tidak memimpin prosesi yang biasanya digelar di pantai kota Fidjorosse. Ia mengalihkan prosesi di halaman rumahnya yang berfungsi sebagai biara dengan sekitar selusin umat mengikuti ritual kurban. 

 

2 dari 4 halaman

Sudah Diramalkan

Perayaan pada akhir pekan lalu itu dinilai cukup menghormati protokol kesehatan. "Kami tidak ingin menjadi orang yang disalahkan atas Covid-19 yang menginfeksi negara kami," kata Baba Adeniyi, salah satu tokoh voodoo yang juga ikut serta.

Ia mengaku tak terkejut dengan pandemi Covid-19. Ia menyebut, pada November 2019, seorang tokoh voodoo bernama Le To Fa telah meramalkan ada penyakit serius pada 2020. 

"Jadi, kami membuat banyak ritual kurban untuk menangkal kesialan dan melindungi rakyat," katanya

Pandemi sejauh ini diklaim hanya berdampak kecil di negara berpenduduk sekitar 11 juta orang itu. Secara resmi tercatat sekitar 3.300 kasus dan 44 kematian. Namun, jumlah korban sebenarnya diperkirakan lebih besar.

Sementara, menurut angka resmi 2013, praktisi voodoo hanya berjumlah 11 persen dari populasi Benin, dibandingkan dengan hampir 30 persen Muslim dan 25 persen Kristen. (Melia Setiawati)

3 dari 4 halaman

Waktu Tepat Cuci Tangan Hindari Covid-19

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: