Sukses

Apa Saja yang Harus Disiapkan Sebelum Terbang di Masa Pandemi Covid-19?

Liputan6.com, Jakarta - Bepergian di masa pandemi Covid-19 tak bisa disamakan dengan era sebelum penyakit ini datang. Begitu pula dengan Anda yang memilih moda pesawat untuk berpindah dari satu kota ke kota lain. Pengalaman terbang jelas akan berbeda karena wajib menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang berlaku. 

Berdasarkan pengalaman Liputan6.com saat menjajal terbang dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, menuju Bandara Abdurrahman Saleh, Malang, dan dari Bandara Abdurrahman Saleh menuju Soekarno Hatta, Banten, pekan lalu, salah satu dokumen yang wajib disiapkan adalah hasil tes negatif Covid-19. Hasil tes tersebut berlaku selama 14 hari ke depan. Bila berencana akan berpindah ke beberapa tempat dalam dua pekan itu, Anda sebaiknya mengetes Covid-19 mendekati hari terbang.

Tidak ada batasan cara pengujian Covid-19. Anda bisa menjalani rapid antigen yang dilakukan dengan menguji sampel darah, tetapi tingkat keakuratannya rendah. Ada pula tes rapid swab yang dilakukan dengan menguji sampel usap hidung. Terakhir, tes swab PCR yang dilakukan dengan menguji sampel usap hidung dan tenggorokan. Uji terakhir terbilang hasilnya paling akurat, tetapi biayanya paling tinggi.

Dokumen hasil tes Covid-19 sebaiknya dicetak untuk diperlihatkan kepada petugas KKP di bandara tujuan. Petugas bakal mengecek isi dokumen serta kesesuaiannya dengan data di KTP. Bila valid, petugas akan menandatangani dan mencap lembar dokumen tersebut.  Selanjutnya, dokumen tersebut kembali diperiksa oleh petugas bandara di pintu masuk menuju tempat check in.

Para penumpang yang tidak memiliki bagasi, diarahkan untuk melakukan check in online dan mendapatkan boarding pass digital. Konter check in fisik di bandara diprioritaskan bagi penumpang yang memiliki bagasi. Meski begitu, Anda tetap bisa meminta bantuan petugas check in bila masih kebingungan.

Boarding pass tersebut selanjutnya akan dicek petugas bandara sambil melihat kesesuaian data di KTP. Bila lolos pemeriksaan, Anda bisa langsung menuju ruang tunggu menanti waktu terbang. Selama itu pula, Anda bisa mulai mengunduh aplikasi eHAC Indonesia dan mengisi data-data yang diperlukan. 

Secara garis besar, prosedur pemeriksaan dan dokumen yang diperlukan untuk terbang sama di setiap bandara. Perbedaannya terletak pada cara mengantre dan urutan pemeriksaan saja. Karena ada prosedur tambahan ini, Anda disarankan paling lambat sudah tiba di bandara sekitar 1,5 jam sebelum terbang.

 

2 dari 4 halaman

Cara Mengisi eHAC Indonesia

eHAC Indonesia bisa dibilang sebagai pengganti kartu sehat fisik. Tujuannya agar pergerakan orang bisa terlacak dan kontak erat mudah diidentifikasi bila ditemukan kasus positif Covid-19 selama di perjalanan. Aplikasi tersebut bisa diunduh di Play Store. Data apa saja yang harus diisi?

Ada kolom nama, nomor KTP, nomor ponsel, dan alamat asal Anda yang harus dimasukkan. Begitu pula dengan waktu kedatangan, nomor pesawat, dan nomor kursi di pesawat. Selain itu, Anda juga diminta mengisi alamat tujuan. Bila ada beberapa tempat tujuan, cukup mengisi lokasi Anda menginap di destinasi tersebut.

Petugas KKP yang berjaket kuning akan memeriksa eHAC Anda sesaat hendak keluar di bandara tujuan. Agar mempermudah saat pengecekan, buka aplikasi dan stand by pada mode QR Code. Nanti, petugas tinggal memindainya saja. Waktu pemeriksaan berkisar 5 menit, tapi itu tak bisa jadi patokan karena tergantung panjangnya antrean saat itu.

Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman selama mengantre. Pasalnya, beberapa penumpang yang tak sabar kerap lupa tentang salah satu bagian protokol kesehatan ini. Ujung-ujungnya, mereka berkerumun di dekat pintu keluar dalam jarak kurang dari satu meter.

3 dari 4 halaman

Tips Aman Terbang di Pesawat

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: